SD 1 Ngembal Kulon Berikan Edukasi Pilah dan Daur Ulang Sampah kepada Siswa

Kudus204 Dilihat

KUDUS – SD 1 Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, mengadakan kegiatan edukasi pengelolaan sampah bagi puluhan siswa sebagai langkah menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Dalam acara ini, sekolah menggandeng Komunitas Kresek Indonesia untuk memberikan penyuluhan sekaligus panduan praktik mendaur ulang sampah kepada para peserta.

Kepala SD 1 Ngembal Kulon, Dita Priska Pravita, menyatakan kegiatan ini diselenggarakan guna memperdalam pengetahuan siswa mengenai cara memilah sampah organik dan anorganik, serta cara memanfaatkan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.

Menurutnya, pembelajaran mengenai lingkungan sangat penting mengingat sekolah tengah mempersiapkan diri menuju predikat Sekolah Adiwiyata. Selain itu, permasalahan sampah merupakan tantangan yang perlu dikenalkan dan dipahami anak-anak sejak dini.

“Kami ingin anak-anak memahami cara memilah sampah dengan benar, mengetahui cara mengurangi sampah, serta memahami bahwa sampah tertentu masih bisa didaur ulang menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.

Sebanyak 59 siswa dari kelas IV dan V mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan serta praktik membuat bros dan gantungan kunci berbahan dasar limbah plastik. Pemilihan peserta dari jenjang kelas tersebut dilakukan karena dinilai sudah mampu memahami materi dan melaksanakan proses pembuatan kerajinan secara mandiri.

Dita menjelaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah menyediakan tempat pemilahan sampah. Namun dalam pelaksanaannya sehari-hari, masih ditemukan siswa yang belum terbiasa membuang sampah sesuai jenisnya.

Oleh sebab itu, sekolah berharap kegiatan edukasi ini dapat membawa perubahan nyata dalam kebiasaan siswa.

“Yang terpenting bukan hanya mengejar predikat Adiwiyata, tetapi bagaimana anak-anak memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memahami pengelolaan sampah dengan baik,” katanya.

Pihak sekolah juga akan melakukan penilaian terhadap perkembangan perilaku siswa pada semester mendatang. Evaluasi dilakukan tidak hanya dari hasil praktik yang diikuti, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari dalam memilah dan membuang sampah di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Ketua Komunitas Kresek Indonesia, Faesal Adam, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga melibatkan praktik langsung agar siswa dapat melihat manfaat nyata dari proses mendaur ulang sampah.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah dapat diubah menjadi barang yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi,” jelasnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *