Puncak Festival HARDIKNAS 2026 DEMA FTIK UIN Walisongo: Wadah Kritik, Literasi, dan Kreativitas Mahasiswa

Kolom41 Dilihat

SEMARANG — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) UIN Walisongo Semarang sukses menggelar puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional melalui Festival HARDIKNAS 2026. Acara yang berlangsung meriah di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo pada Selasa (6/5/2026) ini mengusung tema “Revitalisasi Pendidikan dalam Membangun Generasi Unggul, Adaptif, dan Kompetitif di Era Global” .

Festival ini menjadi ruang kolaborasi, ekspresi, sekaligus refleksi kritis bagi pelajar dalam menyoroti kondisi pendidikan kontemporer di Indonesia. Tidak hanya diikuti oleh internal kampus, perhelatan ini juga dihadiri oleh delegasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah, termasuk Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas PGRI Semarang (Upgris), dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas).

Acara resmi dibuka oleh Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., melalui prosesi pemukulan gong. Dalam berbagai hal, ia mengajak mahasiswa untuk terus memperluas wawasan dan membangun perspektif yang inklusif terhadap perkembangan zaman.

“Mahasiswa harus terus belajar, termasuk belajar dari universitas-universitas lain agar memiliki sudut pandang yang luas dan terbuka,” tutur Karnadi.

Salah satu agenda utama yang mencuri perhatian dalam festival ini adalah peluncuran dua buku karya kolektif mahasiswa FTIK berjudul Pendidikan Setengah Jalan dan Pendidikan di Meja Makan . Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pembukaan papan visual sampul buku di hadapan seluruh peserta dan tamu undangan.

Buku kedua yang memuat kumpulan esai dan cerpen tersebut lahir dari keresahan mahasiswa terhadap berbagai persoalan pendidikan nasional. Kehadiran karya ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa mampu menjadi penyambung lidah masyarakat yang menyampaikan gagasan dan refleksi sosial melalui tulisan.

Ketua Panitia Festival HARDIKNAS 2026, Muqtafa Deka Yunensa, menyampaikan bahwa kegiatan ini memang dirancang sebagai ruang intelektual bagi siswa untuk berdiskusi sekaligus menyuarakan kritik terhadap ketimpangan yang ada.

“Kita berusaha mewadahi pelajar agar dapat berpikir kritis atas segala ketimpangan yang menimpa dunia pendidikan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum DEMA FTIK UIN Walisongo, Gilang Dzaky Mubarak, menyoroti arah pendidikan nasional yang dinilainya semakin bergeser mendekati logika pasar bebas dan industrialisasi kampus. Menurut Gilang, pelajar perlu kembali memperkuat solidaritas dan gerakan kolektif agar pendidikan tidak kehilangan nilai kemanusiaannya.

Hadir pula dalam acara tersebut Direktur Penerbit Buku Digdaya, Muhammad Syafik Yunensa, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat literasi mahasiswa FTIK. Ia menegaskan bahwa di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, literasi adalah kekuatan fundamental yang harus terus dijaga oleh generasi muda.

Suasana auditorium sempat berubah khidmat saat Esa Azril naik ke atas panggung untuk membacakan puisi ikonis “Kau Ini Bagaimana?” karya KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Penampilan teatrikal tersebut disambut riuh tepuk tangan peserta karena dinilai berhasil memotret keresahan sosial yang dekat dengan kenyataan masyarakat saat ini.

Memasuki sesi inti, festival dilanjutkan dengan Educational Talk interaktif bertajuk “Pendidikan Indonesia: Gagal atau Kita yang Terlalu Sabar?” bersama pemantik Andrian Abdurrahman. Sesi ini membedakan secara tajam kondisi objektif pendidikan nasional, strategi siswa, hingga pentingnya merebut kembali fungsi pendidikan sebagai alat perubahan posisi sosial.

Rangkaian Festival HARDIKNAS 2026 terus berlanjut hingga malam hari dengan digelarnya Grand Final Pemilihan Putra Putri FTIK UIN Walisongo Semarang.

Sebagai penutup seluruh rangkaian acara, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) BETA menampilkan drama teatrikal ciamik yang sarat akan kritik sosial terhadap realitas kekuasaan dan dinamika kehidupan masyarakat kecil.

Melalui festival ini, DEMA FTIK UIN Walisongo membuktikan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial tahunan, melainkan sebuah oase literasi, kreativitas, dan manifesto kritis siswa demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *