KUDUS – Konsistensi dalam menjalankan amalan ibadah terus ditunjukkan oleh mantan Bupati Kudus dua periode, H. Musthofa. Melalui Jam’iyyah Yasin Fadhilah, tradisi spiritual yang ia rintis kini terus hidup dan berkembang luas di tengah masyarakat. Gerakan ini berawal dari sebuah nasihat dan ijazah ulama, yang kini menjelma menjadi kegiatan rutin yang dikunjungi banyak orang.
Sejarah berdirinya Jam’iyyah ini bermula saat Musthofa masih menjabat sebagai Bupati periode pertama. Dalam sebuah silaturahmi bersama ulama kharismatik KH Sya’roni Ahmadi, ia meminta doa dan amalan sebagai bekal batin dalam memimpin daerah.
“Waktu itu saya memang meminta amalan untuk menguatkan batin, agar dalam menjalankan tugas bisa lebih tenang dan istiqomah,” ungkap Musthofa.
Dari pertemuan tersebut, beliau diarahkan untuk mengamalkan pembacaan Surat Yasin sebanyak 41 kali. Setelah ditelusuri dan didalami, amalan tersebut dikenal sebagai Yasin Fadhilah yang memiliki banyak keutamaan, yang kemudian dikonfirmasi langsung oleh sang Kiai.
“Setelah saya dalami, ternyata yang dimaksud adalah Yasin Fadhilah. Dan beliau membenarkan hal tersebut,” jelasnya.
Sejak saat itu, kegiatan pengajian mulai digelar secara rutin di Pendopo Kabupaten Kudus pada masa jabatan keduanya. Acara perdananya pun dipimpin langsung oleh KH Sya’roni Ahmadi, menandai dimulainya tradisi keagamaan yang hingga kini terus terjaga.
Meski kini tidak lagi menjabat sebagai kepala daerah, api semangat kegiatan ini tidak pernah padam. Lokasi pengajian kemudian berpindah ke Loram Wetan, tepatnya di kawasan Makam Bagusan, tempat peristirahatan terakhir orang tuanya. Walaupun tidak lagi didominasi oleh kalangan pejabat, kehadiran masyarakat umum dan relawan justru membuat suasana semakin khidmat dan hangat.
“Ngaji itu bukan soal tempat atau siapa yang hadir, tapi bagaimana hati bisa menjadi lebih tenang dan dekat dengan Allah,” tutur Musthofa.
Saat ini, Jam’iyyah Yasin Fadhilah memiliki sejumlah jadwal rutin yang tetap dijaga. Pengajian rutin dilaksanakan setiap malam Rabu Pon, dilengkapi dengan santunan anak yatim dan pembacaan manaqib di siang harinya. Selain itu, ada juga kegiatan selapanan Khotmil Qur’an yang diadakan setiap malam Sabtu Kliwon. Tidak hanya itu, di bulan Ramadan, berbagai program seperti tarawih keliling dan tadarus Al-Qur’an juga rutin digelar.
Ke depan, H. Musthofa berharap gerakan ini bisa semakin meluas hingga ke pelosok desa dan kecamatan di seluruh Kudus. Dengan pembentukan koordinator wilayah, diharapkan syiar kebaikan ini bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
“Kami ingin ini tidak berhenti di sini saja, tapi bisa berkembang sampai ke desa-desa, agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa Jam’iyyah ini terbuka bagi siapa saja tanpa sekat. Masyarakat dari berbagai latar belakang dipersilakan bergabung untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat tali persaudaraan.
“Silakan siapa saja datang, ini untuk semua. Kita bersama-sama mencari keberkahan,” pungkasnya.
(red)






