Dorong Budaya Literasi, DEMA FTIK UIN Walisongo Gelar Workshop “Menyulam Aksara Merajut Makna”

Kolom39 Dilihat

SEMARANG – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) UIN Walisongo Semarang menggelar workshop kepenulisan bertajuk “Menyulam Aksara Merajut Makna” pada Kamis (16/04/2026). Kegiatan ini berlangsung di Gedung Dekanat FTIK lantai 3 dan berlangsung dengan penuh antusiasme dari para peserta.

Rangkaian acara diawali dengan prosesi pembukaan yang meliputi laporan ketua panitia, sambutan Presiden DEMA FTIK, serta doa bersama. Dalam sambutannya, Ketua DEMA FTIK, Gilang Dzaky, menyampaikan bahwa agenda ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan gagasan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis melalui tulisan.

“Acara ini diselenggarakan sebagai sarana bagi rekan-rekan untuk menyampaikan pendapat, terutama mengenai berbagai problematika bangsa, agar kita dapat belajar menuangkannya secara lebih terstruktur,” tuturnya.

Memasuki sesi inti, workshop kepenulisan ini menghadirkan Muhammad Syafik Yunensa, seorang tokoh literasi nasional, sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa karya tulis ilmiah dan karya fiksi memiliki derajat kepentingan yang setara. Menurutnya, keduanya saling melengkapi dan tidak dapat diposisikan lebih unggul satu sama lain.

Selain itu, ia turut menekankan signifikansi konsistensi dalam menulis. Kemampuan menulis tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh melalui kebiasaan yang terus dilatih. Peserta didorong untuk mulai menulis apa pun tanpa harus menunggu kondisi sempurna. Ia juga mengajak peserta untuk lebih peka terhadap realitas sosial di lingkungan sekitar.

“Belajar menulis itu bukan hanya bersumber dari buku, melainkan juga dari realitas kehidupan. Istilahnya, kita ini sedang sekolah di alam raya,” ungkap Syafik.

Suasana workshop berlangsung dinamis dan cair. Meskipun mengulas tema kepenulisan, kegiatan tidak berjalan secara kaku. Selingan humor dari pemateri serta interaksi aktif para peserta membuat suasana menjadi lebih santai namun tetap bermakna. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan krusialnya kemampuan menulis bagi mahasiswa di tengah berbagai isu kontemporer. Melalui tulisan, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan gagasan secara kritis dan terstruktur. Selain itu, menulis dipandang sebagai medium yang lebih abadi, karena gagasan yang dituangkan dapat terus hidup dan memberi manfaat melampaui usia penulisnya.

Pada akhir acara, panitia menutup kegiatan dengan penyerahan doorprize berupa buku kepada tiga penanya pertama. Agenda dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada narasumber serta sesi foto bersama sebagai penutup seluruh rangkaian kegiatan. Melalui workshop ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya terampil menulis, tetapi juga mampu menjadikan tulisan sebagai sarana refleksi, kritik sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *