Luka yang Ikut Berbicara: Mengapa Verbal Abuse adalah Krisis Kesehatan Mental yang Kita Anggap Biasa?

Uncategorized28 Dilihat

TUTURMEDIA.COM –

“Kata-kata dapat menjadi rumah tempat seseorang bertumbuh. Namun, kata-kata pula dapat menjadi penjara yang membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.”

Ketika Rumah Tidak Lagi Menjadi Tempat untuk Pulang

Ketika video kekerasan terhadap selebgram CIA viral pada Agustus 2024, perhatian publik tertuju pada pukulan yang terekam kamera. Tayangan itu memancing kemarahan, simpati, sekaligus kecaman terhadap pelaku. Namun, di balik rekaman yang beredar, ada satu fakta yang jauh lebih penting untuk kita renungkan.

Dalam berbagai pernyataannya kepada publik, korban mengungkap bahwa kekerasan tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi dalam semalam. Sebelum kekerasan fisik muncul, telah ada tekanan psikologis, penghinaan, kontrol terhadap pasangan, dan perlakuan yang merendahkan yang berlangsung dalam waktu lama.

Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian masyarakat. Kekerasan fisik sering kali merupakan puncak gunung es. Di bawahnya terdapat lapisan kekerasan yang tidak meninggalkan memar, tetapi perlahan menggerogoti kesehatan mental, yang dikenal sebagai verbal abuse.

Sayangnya, kekerasan verbal masih menjadi bentuk kekerasan yang paling mudah dinormalisasi. Kalimat seperti, “Kamu memang bodoh,” “Tanpa saya kamu bukan siapa-siapa,” “Semua ini salahmu,” atau “Kamu terlalu sensitif,” sering dianggap sekadar emosi sesaat. Bahkan, tidak sedikit yang menyebutnya sebagai cara mendidik pasangan, bentuk kasih sayang yang keras, atau “bumbu rumah tangga”.

Padahal, dari perspektif psikologi, kalimat-kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata. Kalimat-kalimat itu merupakan stimulus yang terus-menerus membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk memulihkan diri setelah menghadapi tekanan dunia luar justru berubah menjadi ruang yang paling melelahkan secara emosional. Seseorang tidak lagi takut pulang karena akan dipukul, tetapi karena tahu bahwa setiap percakapan dapat berubah menjadi penghinaan, setiap kesalahan kecil dibalas dengan perendahan, dan setiap pendapat dianggap tidak pernah cukup baik.

Lebih menyedihkan lagi, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan. Mereka tetap pergi bekerja, mengurus anak, menghadiri acara keluarga, bahkan tersenyum di depan orang lain. Namun, setiap malam mereka tidur dengan keyakinan bahwa dirinya memang tidak cukup baik.

Inilah tragedi yang jarang terlihat.

Persoalannya Bukan Lagi Kata-Kata, tetapi Identitas yang Sedang Dihancurkan

Selama ini, diskusi mengenai verbal abuse hampir selalu berhenti pada perilaku pelaku. Kita mengutuk kata-kata kasar, penghinaan, atau ancaman yang mereka lakukan.

Cara pandang tersebut belum menyentuh akar persoalan.

Masalah terbesar verbal abuse bukan terletak pada kata-kata yang diucapkan.

Masalah sebenarnya adalah apa yang dilakukan kata-kata tersebut terhadap otak dan identitas psikologis korban.

Otak manusia bekerja melalui pengulangan. Dalam psikologi kognitif dikenal bahwa informasi yang diterima secara terus-menerus akan membentuk skema berpikir, yaitu kerangka mental yang digunakan seseorang untuk memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.

Ketika seseorang berulang kali menerima pesan bahwa dirinya bodoh, gagal, tidak layak dicintai, atau selalu menjadi sumber masalah, pesan-pesan itu tidak berhenti sebagai suara dari luar. Lama-kelamaan, pesan tersebut menjadi bagian dari dialog batin korban.

Di sinilah verbal abuse berubah dari kekerasan interpersonal menjadi kekerasan intrapersonal.

Korban mulai mengatakan kepada dirinya sendiri apa yang dahulu dikatakan pelaku.

“Saya memang tidak cukup baik.”

“Saya pasti salah.”

“Tidak ada orang lain yang akan menerima saya.”

“Saya memang pantas diperlakukan seperti ini.”

Kalimat-kalimat tersebut tidak lagi diucapkan oleh pasangan, tetapi oleh korban kepada dirinya sendiri.

Inilah bentuk luka yang paling sulit dipulihkan.

Mengapa Korban Sulit Keluar?

Pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat adalah, “Kalau memang diperlakukan buruk, mengapa tidak pergi?”

Pertanyaan ini terdengar logis, tetapi menunjukkan bahwa kita belum memahami dampak psikologis dari verbal abuse.

Seseorang yang setiap hari direndahkan tidak hanya kehilangan kebahagiaannya.

Ia kehilangan kemampuan untuk memercayai dirinya sendiri.

Ia mulai meragukan setiap keputusan yang dibuat.

Ia takut dianggap salah.

Ia takut tidak ada orang yang mau menerima dirinya.

Ia takut hubungan akan menjadi lebih buruk jika meninggalkan hubungan tersebut.

Dengan kata lain, verbal abuse membuat korban kehilangan “modal psikologis” yang dibutuhkan untuk menyelamatkan dirinya.

Karena itulah banyak korban tetap bertahan, bukan karena mereka menikmati kekerasan, melainkan karena mereka telah diyakinkan bahwa mereka tidak layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Krisis yang Diam-Diam Menjadi Masalah Kesehatan Mental

Data menunjukkan bahwa kekerasan psikis masih menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling banyak dialami dalam relasi personal di Indonesia. Sayangnya, karena tidak meninggalkan luka fisik, bentuk kekerasan ini sering kali tidak dikenali, baik oleh korban maupun lingkungan sekitarnya.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa verbal abuse berhubungan dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, rendahnya harga diri, kesulitan membangun relasi yang sehat, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis.

Jika demikian, mengapa kita masih menyebut verbal abuse sekadar persoalan komunikasi?

Bukankah lebih tepat jika kita melihatnya sebagai persoalan kesehatan mental masyarakat?

Saatnya Mengubah Cara Kita Memandang Verbal Abuse

Selama ini, solusi yang diberikan kepada korban terdengar sederhana, seperti bersabar, berpikir positif, atau memperbaiki komunikasi.

Padahal, seseorang yang sedang mengalami verbal abuse kronis tidak kekurangan nasihat.

Ia kehilangan fondasi psikologisnya.

Karena itu, pemulihan harus dimulai dari membangun kembali identitas diri yang telah runtuh. Pendekatan psikologi menunjukkan pentingnya self-acceptance untuk membantu korban memisahkan nilai dirinya dari label yang diberikan pelaku, serta self-compassion agar korban berhenti mengulang kritik yang selama ini hidup dalam dialog batinnya.

Namun, solusi tidak boleh berhenti pada tingkat individu. Kita membutuhkan perubahan budaya. Pendidikan pranikah perlu memasukkan literasi tentang kekerasan psikologis. Sekolah perlu mengajarkan bahwa bahasa dapat menjadi bentuk kekerasan.

Tempat kerja harus meninggalkan budaya memimpin dengan bentakan dan penghinaan. Media massa juga memegang peran penting untuk tidak lagi menormalisasi dialog yang merendahkan sebagai hiburan atau tanda kasih sayang.

Lebih jauh lagi, tenaga kesehatan, psikolog, konselor, pemuka agama, dan aparat penegak hukum perlu memiliki pemahaman yang sama bahwa kekerasan verbal bukan “masalah rumah tangga biasa”, melainkan faktor risiko yang dapat memicu gangguan kesehatan mental, memperburuk kualitas relasi, bahkan meningkatkan kerentanan terhadap kekerasan fisik.

Mencegah verbal abuse berarti menjaga ekosistem yang melindungi martabat manusia melalui cara kita berkomunikasi. Pencegahan tidak hanya dimulai ketika seseorang melapor, tetapi sejak anak-anak belajar bahwa perbedaan pendapat tidak harus disampaikan dengan penghinaan dan bahwa kasih sayang tidak pernah membutuhkan kata-kata yang merendahkan.

Luka yang Terus Berbicara

Kita mungkin bisa melupakan wajah orang yang pernah menyakiti kita.

Namun, sangat sedikit orang yang benar-benar lupa pada kalimat yang pernah menghancurkan rasa percaya dirinya.

Itulah mengapa kata-kata memiliki kekuatan yang jauh melampaui bunyinya.

Kata-kata bisa menjadi benih harapan, tetapi juga bisa menjadi luka yang terus berbicara bahkan ketika pelakunya telah pergi.

Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa korban begitu mudah tersinggung?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa kita begitu mudah memaklumi kata-kata yang melukai?”

Sebab, ukuran sebuah masyarakat yang sehat tidak hanya terlihat dari rendahnya angka kekerasan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat manusia melalui bahasa yang digunakan setiap hari.

Ketika rumah kembali menjadi ruang yang aman untuk berbicara, didengar, dan dihargai, di situlah kesehatan mental menemukan fondasi yang sesungguhnya. Bukan karena semua konflik hilang, melainkan karena setiap konflik diselesaikan tanpa merampas harga diri orang lain.

Itulah rumah yang layak disebut sebagai tempat pulang.

Penulis: Sutarini Widiastuti, S.Sos.
Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Semarang