Waspada Hantavirus, Edy Wuryanto Tekankan Pentingnya Penerapan Sistem One Health

Uncategorized32 Dilihat

JAKARTA – Terungkapnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi peringatan bagi seluruh dunia, bahwa penyakit yang menular dari hewan ke manusia tetap menjadi ancaman nyata yang bisa muncul kapan saja.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, meminta pemerintah dan masyarakat di Indonesia meningkatkan kewaspadaan, serta tidak memandang bahaya ini sebagai sesuatu yang jauh atau tidak ada kaitannya dengan kondisi di dalam negeri.

Kasus ini menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau penyebaran jenis virus Andes di kapal yang berlayar dari Argentina tersebut. Tercatat tiga orang meninggal dunia, di samping sejumlah kasus yang masih dalam proses pengecekan.

Dua warga Singapura yang pernah berada di kapal itu dinyatakan tidak tertular setelah menjalani pemeriksaan serta masa karantina yang ketat.

Meski demikian, pihak WHO tetap melakukan penelusuran ke berbagai negara, mengingat jenis virus ini menjadi satu-satunya yang diketahui mampu menular antarmanusia.

“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy.

Menurutnya, Indonesia justru memiliki banyak faktor yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini, mulai dari kepadatan penduduk, pembangunan wilayah yang berlangsung cepat, kondisi kebersihan lingkungan yang belum merata, hingga tingginya populasi tikus di lingkungan tempat tinggal warga.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan yang dilansir media kesehatan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tercatat sedikitnya 23 kasus infeksi jenis Seoul Virus di Indonesia, yang menimbulkan gejala demam disertai gangguan fungsi ginjal.

Dari jumlah tersebut, 20 orang berhasil sembuh, sedangkan tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat memiliki penyakit penyerta seperti kanker hati dan gangguan fungsi berbagai organ tubuh.

“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman di atas kertas. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Masalahnya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.

Terdapat perbedaan mendasar antara virus Andes dan virus Seoul yang ditemukan di Indonesia. Virus Andes diketahui dapat menimbulkan gangguan serius pada paru-paru, yang memicu sesak napas hebat hingga kegagalan pernapasan. Tingkat risiko kematiannya pun lebih tinggi, dan seperti telah disampaikan, jenis ini satu-satunya yang diketahui bisa menular antarmanusia.

Secara umum, hantavirus menyebar dari hewan ke manusia, dengan tikus sebagai pembawa utama penularan. Seseorang dapat tertular jika menghirup udara yang telah tercampur partikel dari kotoran, air kencing, atau cairan tubuh tikus.

“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau tempat yang penuh kotoran tikus tanpa menggunakan perlengkapan pelindung. Hal ini justru menjadi jalur penularan yang harus mendapat perhatian serius dan disosialisasikan secara luas,” katanya.

Edy menilai ancaman ini sering tidak mendapat perhatian yang cukup karena tidak selalu menimbulkan wabah besar yang meluas. Padahal, ada jenis virus yang memiliki risiko kematian cukup tinggi, terutama virus Andes yang dapat merusak sistem pernapasan secara parah.

“Justru karena sifatnya sebagai ancaman yang tidak selalu terlihat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pengalaman pandemi, bahwa bahaya kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap tidak penting,” tambah politisi dari PDI Perjuangan ini.

Pihak WHO sendiri telah memperingatkan kemungkinan masih ada kasus lain yang akan terungkap terkait kejadian di kapal tersebut, mengingat masa inkubasi virus dapat berlangsung lebih dari dua minggu. Berbagai negara pun kini memperketat pengawasan terhadap orang-orang yang pernah berada di kapal itu.

Anggota dewan yang mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah III ini mendorong pemerintah memperkuat sistem deteksi dini terhadap penyakit yang menular dari hewan, termasuk hantavirus.

Langkah ini dijalankan melalui pendekatan One Health, yaitu menyatukan aspek kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kondisi lingkungan.

Ia menyampaikan sejumlah upaya penting yang harus segera dijalankan. Pertama, memperluas pengecekan terhadap kasus demam akut yang belum diketahui penyebabnya, sehingga tidak ada kasus yang terlewatkan. Kedua, meningkatkan kemampuan pemeriksaan di laboratorium, termasuk menyediakan metode pengecekan di rumah sakit rujukan.

Ketiga, memperkuat upaya mengendalikan populasi tikus serta menjaga kebersihan lingkungan dengan melibatkan seluruh warga. Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, dan pengendalian hewan pembawa penyakit harus menjadi bagian utama dari kebijakan kesehatan masyarakat.

“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya diserahkan kepada pihak rumah sakit. Hal ini berkaitan erat dengan lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Edy meminta informasi dan pengetahuan tentang pencegahan disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal sederhana yang bisa diterapkan antara lain menggunakan penutup hidung mulut serta sarung tangan saat membersihkan tempat yang diduga banyak dihuni tikus, memastikan sirkulasi udara berjalan baik, serta menghindari kontak langsung dengan hewan tersebut.

Ia juga menekankan perlunya kerja sama antara berbagai instansi, mengingat penyebaran penyakit ini berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, perkembangan wilayah, hingga perubahan iklim.

“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus baru kemudian bergerak bertindak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” katanya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *