KUDUS – Seorang perempuan muda asal Kudus bernama Fifilia memilih cara pandang yang berbeda dalam memaknai pendidikan dan pengembangan diri. Di tengah banyak orang yang merasa sudah cukup setelah mendapatkan pekerjaan tetap, ia justru terus berusaha menemukan ruang untuk berkembang sekaligus menginspirasi orang lain di sekitarnya.
Bagi Fifilia, memiliki pola pikir untuk terus bertumbuh atau growth mindset menjadi kunci utama agar senantiasa melangkah maju. Ia mengakui bahwa sejak kecil dirinya tidak pernah merasa nyaman jika berada dalam kondisi yang sama dalam waktu yang lama.
“Saya memang tipe orang yang tidak bisa diam. Selalu ingin belajar hal baru dan terus berkembang,” ujarnya.
Pandangan ini terbentuk dari pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Ia melihat masih banyak perempuan yang berhenti mengembangkan potensi dirinya begitu sudah menikah atau mendapatkan pekerjaan tetap.
Meski demikian, Fifilia menegaskan bahwa perempuan tetap bisa menjalankan peranannya sebagai istri maupun ibu rumah tangga tanpa harus mengubur mimpi dan cita-cita yang dimiliki.
“Perempuan juga punya mimpi dan tujuan hidup. Saya ingin tetap berkarya, tetapi tetap menjalankan kewajiban dalam keluarga nantinya,” katanya.
Semangat tersebut kemudian ia salurkan melalui media sosial. Akun Instagram dan TikTok miliknya diisi dengan konten motivasi, pengalaman seputar pendidikan, serta pesan-pesan mengenai pentingnya terus belajar. Menariknya, sebagian besar pengikut akunnya adalah kaum perempuan.
Ia mengaku tidak pernah bermaksud memamerkan pencapaian diri, termasuk saat mengunggah momen wisuda. Namun, tanggapan yang diterima justru sangat positif dan mampu menggerakkan banyak orang untuk melanjutkan pendidikan mereka.
“Saya ingin menunjukkan bahwa pendidikan itu penting dan semoga bisa memotivasi anak-anak muda untuk terus belajar,” ungkapnya.
Bahkan salah satu unggahannya berhasil ditonton lebih dari satu juta kali. Menurutnya, media sosial dapat dijadikan sarana yang efektif untuk menyebarkan energi positif dan mendorong orang lain berani berkarya.
Tak hanya aktif di dunia maya, Fifilia juga beberapa kali dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan berbagi pengetahuan dan pengembangan diri bagi kalangan mahasiswa di Kudus.
Di sisi lain, perempuan yang pernah bekerja sebagai guru ini juga menyoroti maraknya kasus kenakalan remaja belakangan ini. Ia menilai lingkungan pergaulan serta kurangnya perhatian dari keluarga menjadi faktor utama yang membuat anak terjerumus ke dalam perilaku negatif.
Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan juga diwujudkan lewat karya nyata, yaitu sebuah buku pembelajaran bahasa Jawa berjudul Nganggo Boso. Buku ini mengangkat pentingnya penggunaan bahasa krama yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
Keunikan buku ini terletak pada penggabungan antara materi cetak dan teknologi digital, di mana tersedia kode batang atau barcode yang dapat dipindai dan terhubung langsung dengan konten pembelajaran di media sosial.
Ide tersebut muncul setelah ia mengalami kesulitan menemukan referensi pembelajaran bahasa krama yang lengkap dan menarik bagi anak-anak maupun masyarakat umum.
“Kalau kita ingin melestarikan budaya, maka harus mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak sekarang lebih tertarik belajar lewat konten digital,” katanya.
Awalnya buku ini disusun sebagai bagian dari penyelesaian tesis, namun ternyata mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para pendidik dan masyarakat. Banyak pihak yang meminta agar karya tersebut diterbitkan secara luas.
Saat ini Fifilia sedang mengurus proses Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Nomor Standar Buku Internasional (ISBN) agar bukunya memiliki perlindungan hukum sebelum diproduksi dan disebarkan lebih luas.
Baginya, segala ilmu yang didapatkan, termasuk melalui dukungan beasiswa, harus kembali memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saya ingin ada kontribusi yang bisa saya berikan untuk daerah dan untuk pendidikan,” pungkasnya.
(red)











