Sampah Dapur Disulap Jadi Pakan Entok, Warga Jati Kulon Masuk Nominasi Djarum Foundation

Kudus543 Dilihat

KUDUS – Kreativitas warga RW 3 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus dalam mengelola limbah rumah tangga membuahkan hasil membanggakan. Program pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak entok berhasil masuk nominasi penilaian lingkungan yang diselenggarakan Djarum Foundation.

Program tersebut mendapat perhatian karena dinilai mampu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sampah dapur dan sisa makanan yang sebelumnya dibuang kini dimanfaatkan sebagai pakan ternak entok milik warga.

Owner peternakan entok Ony di RW 3 Jati Kulon mengatakan, pengelolaan sampah di lingkungannya dilakukan melalui beberapa metode. Sampah anorganik seperti botol plastik dikelola melalui bank sampah, sedangkan limbah organik dimanfaatkan menjadi eco enzyme dan pakan ternak.

“Sampah dapur dan sisa makanan warga dikumpulkan lalu dimanfaatkan untuk pakan entok. Jadi limbah rumah tangga tidak langsung dibuang begitu saja,” ujarnya.

Ia menjelaskan, inovasi tersebut menjadi salah satu materi yang diikutsertakan dalam penilaian Djarum Foundation terkait pengelolaan sampah rumah tangga. Warga RW 3 juga diminta membuat video mengenai sistem pengolahan sampah yang diterapkan di lingkungan mereka.

Dalam video tersebut ditampilkan tiga program utama, yakni bank sampah, pengolahan eco enzyme, dan pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak. Program itu kemudian berhasil lolos hingga tahap nominasi.

Beberapa waktu lalu, tim penilai dari Djarum Foundation bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, pihak kecamatan, serta instansi terkait telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

“Sekarang masuk tahap penilaian kedua. Informasinya nanti puncak acara tanggal 8 Juni di Oasis Djarum Kudus. Kalau menang akan diundang ke sana,” katanya.

Menurutnya, lomba tersebut menjadi langkah positif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga agar tidak terus menumpuk di tempat pembuangan akhir.

Selain memanfaatkan sampah organik untuk pakan entok, warga sebelumnya juga mengembangkan budidaya maggot untuk membantu mengurai limbah makanan. Namun saat musim hujan, perkembangan maggot dinilai kurang optimal.

Meski demikian, proses fermentasi limbah organik tetap dilakukan sehingga sampah yang digunakan sebagai pakan tidak menimbulkan bau menyengat di sekitar kandang.

Warga juga memiliki cara unik untuk mengurangi gangguan tikus di area peternakan. Mereka memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Kudus untuk disebar di sekitar kandang entok.

“Sisa kopi dari coffee shop kami ambil untuk membantu mengurangi tikus. Aromanya masih kuat jadi cukup membantu,” jelasnya.

Saat ini, jumlah entok yang dipelihara di kandang tersebut mencapai sekitar 70 ekor. Pemberian pakan dilakukan menyesuaikan jumlah sampah organik yang terkumpul setiap harinya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *