Labu Kuning Antar UMKM Kudus Tembus Pasar Nasional

Kudus29 Dilihat

KUDUS – Keberanian, ketekunan, dan inovasi membaca peluang pasar menjadi kunci sukses Nur Hayati, pelaku UMKM asal Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Melalui usaha kuliner bernama Elbina, ia berhasil mengubah labu kuning yang selama ini dianggap sebagai komoditas biasa menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi yang kini dipasarkan hingga luar pulau.

‎Perjalanan usaha Nur Hayati dimulai pada 2017. Sebelumnya, ia bekerja di luar daerah sebelum akhirnya memutuskan fokus menekuni dunia usaha. Berbagai pelatihan kewirausahaan yang diikuti melalui Dinas Koperasi dan UKM menjadi titik awal dirinya memahami pentingnya membangun usaha yang memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

‎“Dari pelatihan saya belajar bahwa sebuah usaha harus punya pembeda. Dari situ saya mulai berpikir untuk fokus pada satu produk yang memiliki potensi dan belum banyak dikembangkan orang,” ujarnya.

‎Ide mengolah labu kuning muncul secara tidak sengaja ketika dirinya mengikuti pelatihan di luar kota. Saat itu, ia diminta memberikan usulan bahan baku yang mudah diperoleh dan terjangkau untuk dijadikan materi pelatihan berikutnya.

‎“Saya spontan menyebut labu kuning. Setelah usulan itu diterima, saya berpikir kenapa tidak sekalian fokus mengembangkan olahan labu kuning. Sejak pertengahan 2017 saya mulai serius menekuni produk ini,” katanya.

‎Menurut Nur Hayati, Bulungcangkring bukanlah sentra utama penghasil labu kuning. Namun kondisi tersebut justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menciptakan nilai tambah dari komoditas yang selama ini kurang mendapat perhatian.

‎Ia kemudian mulai melakukan berbagai eksperimen produk. Dari sekadar olahan sederhana, labu kuning di tangan Nur Hayati berkembang menjadi aneka makanan dan minuman yang memiliki daya saing di pasaran.

‎Perjalanan membangun Elbina tidak berjalan mulus. Pada tahap awal, tantangan terbesar adalah mengenalkan produk kepada masyarakat. Saat itu, kebanyakan orang hanya mengenal labu kuning sebagai bahan sayur atau kolak.

‎“Orang belum mengenal Elbina dan belum tahu kalau labu kuning bisa diolah menjadi banyak produk. Karena itu saya fokus membangun branding agar ketika orang mendengar labu kuning, mereka langsung teringat Elbina,” ungkapnya.

‎Strategi pemasaran dilakukan secara konsisten, baik secara langsung maupun melalui media digital. Berbagai unggahan di media sosial terus dilakukan untuk memperkuat identitas produk dan menjangkau pasar yang lebih luas.

‎Selain pemasaran, persoalan bahan baku juga sempat menjadi kendala. Pasokan labu kuning di wilayah sekitar tidak selalu tersedia dalam jumlah besar. Namun berkat aktivitas promosi yang rutin dilakukan, jaringan pemasok dari berbagai daerah mulai berdatangan.

‎“Awalnya sulit mendapatkan bahan baku. Tapi karena sering mengunggah aktivitas usaha di media sosial, banyak petani dan pemasok dari daerah lain yang akhirnya mengenal kami dan menawarkan kerja sama,” jelasnya.

‎Tak hanya mengatasi persoalan bahan baku, Nur Hayati juga terus melakukan edukasi kepada konsumen mengenai manfaat produk olahan labu kuning. Salah satu produk yang menjadi andalan adalah pumpkin brownies atau bronis labu yang dibuat tanpa menggunakan tepung terigu.

‎Produk tersebut dipasarkan sebagai makanan gluten free karena menggunakan tepung labu hasil produksi sendiri. Keunggulan tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi konsumen yang menjalani pola hidup sehat maupun memiliki sensitivitas terhadap gluten.

‎“Brownies labu menjadi salah satu produk terlaris. Selain rasanya khas, produk ini dibuat tanpa tepung terigu sehingga banyak diminati konsumen yang mencari alternatif makanan lebih sehat,” katanya.

‎Selain brownies, Elbina juga memproduksi stik labu, donat labu, tepung labu, teh labu, dawet labu, hingga berbagai jenis kue berbahan dasar labu kuning. Saat ini, donat labu menjadi salah satu produk yang paling diminati pasar.

‎Nur Hayati mengakui perkembangan teknologi digital memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan usahanya. Mayoritas pelanggan baru mengetahui produk Elbina melalui TikTok, Instagram, Facebook, maupun pencarian Google.

‎“Banyak pelanggan yang datang mengaku tahu produk kami dari TikTok. Karena itu kami berusaha konsisten membuat konten dan mengikuti perkembangan pemasaran digital,” ujarnya.

‎Meski kini produknya dikenal luas, perjalanan menuju titik tersebut membutuhkan proses panjang. Nur Hayati memperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun hingga Elbina benar-benar dikenal masyarakat dan memiliki pelanggan yang stabil.

‎“Dalam usaha pasti ada masa jenuh dan ingin menyerah. Tapi saya selalu ingat perjuangan dari awal. Itu yang membuat saya terus bertahan dan berkembang,” katanya.

‎Kini produk Elbina tidak hanya dipasarkan di Kudus dan Jawa Tengah. Sejumlah produk kering seperti tepung labu bahkan telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Ternate, Maluku Utara. Selain itu, biji labu juga banyak dicari kalangan akademisi dan mahasiswa untuk kebutuhan penelitian maupun praktik pengolahan pangan.

‎Di tengah perkembangan usaha yang terus meningkat, Nur Hayati tetap fokus pada inovasi dan diversifikasi produk. Menurutnya, pelaku UMKM harus terus menghadirkan produk baru agar konsumen tidak merasa jenuh.

‎“Kalau produknya itu-itu saja, konsumen bisa bosan. Karena itu inovasi harus terus dilakukan agar pilihan produk semakin banyak dan kapasitas penjualan juga meningkat,” ujarnya.

‎Selain menjalankan usaha, Nur Hayati juga aktif berbagi pengalaman melalui berbagai pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan pemerintah daerah, sekolah, maupun kelompok tani. Ia tercatat beberapa kali menjadi narasumber kegiatan pengembangan UMKM dan kewirausahaan di berbagai forum.

‎Di balik keberhasilannya mengembangkan Elbina, Nur Hayati mengaku memilih meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan untuk fokus membesarkan usaha yang dirintisnya. Keputusan tersebut diambil setelah merasa memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang melalui usaha mandiri.

‎“Saya sudah pernah merasakan bekerja ikut orang dari pagi sampai sore. Sekarang saya memilih fokus mengembangkan usaha sendiri dan terus berinovasi,” ujarnya.

‎Dalam menjalankan usaha, Nur Hayati juga beradaptasi dengan perkembangan sistem transaksi digital. Selain menyediakan pembayaran melalui berbagai rekening bank, ia juga melayani transaksi menggunakan QRIS untuk memudahkan pelanggan dari berbagai daerah.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *