Program Bioflok Diharapkan Bawa Perikanan Kudus Lebih Maju, Tangguh dan Berdaya Saing

Kudus585 Dilihat

KUDUS – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus mendorong pengembangan budidaya ikan air tawar berbasis bioflok melalui program bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sebanyak 22 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kudus kini mengajukan bantuan bioflok tematik untuk mendukung usaha perikanan terpadu di desa.

‎Program tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor ekonomi masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan pangan berbasis perikanan di Kabupaten Kudus. Salah satu desa yang menjadi perhatian dalam program ini yakni Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo.

‎Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dispertan Kudus, Zaenal Arifin menjelaskan program bioflok tematik merupakan budidaya ikan secara intensif menggunakan kolam bundar dengan sistem modern dan padat tebar tinggi.

‎“Tahun 2026 ini ada program bioflok tematik dari KKP untuk Koperasi Desa Merah Putih. Di Kudus ada 22 KDMP yang mengakses bantuan tersebut dan semuanya sudah mengajukan,” ujarnya.

‎Menurut Zaenal, program bioflok di Pulau Jawa mendapat alokasi sekitar 850 paket bantuan. Setiap koperasi nantinya akan menerima tiga paket bioflok dengan total delapan kolam bundar berdiameter empat meter.

‎Selain kolam, bantuan juga mencakup bibit ikan, pakan, pompa air, hingga sarana penunjang lainnya. Nilai bantuan untuk setiap lokasi diperkirakan mencapai Rp500 juta hingga Rp600 juta.

‎“Bantuannya lengkap mulai pembangunan tempat, kolam, bibit, pakan sampai instalasi air. Jadi nanti tinggal dijalankan oleh koperasi,” katanya.

‎Ia menambahkan, program tersebut sebenarnya sudah berjalan sejak tahun 2025. Saat itu, dua desa di Kudus telah menerima bantuan serupa, yakni Desa Karangrowo dan Undaan Lor.

‎Namun, pelaksanaan program sempat terkendala banjir yang terjadi awal tahun. Bibit ikan yang baru ditebar banyak hanyut karena air meluap melewati kolam bioflok.

‎Meski begitu, sebagian budidaya masih berhasil dipanen dan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program tahun ini agar lebih optimal dan tahan terhadap risiko cuaca ekstrem.

‎Zaenal menyebut tidak semua KDMP bisa menerima bantuan begitu saja. Kementerian akan melakukan verifikasi terhadap kesiapan koperasi, mulai dari ketersediaan lahan, sumber air, energi listrik hingga legalitas usaha perikanan.

‎“Semua yang mengajukan sudah punya KBLI usaha pembesaran ikan air tawar. Jadi secara administrasi sudah siap dan tinggal menunggu verifikasi dari KKP,” jelasnya.

‎Ia berharap seluruh usulan dari Kudus dapat lolos dan direalisasikan. Menurutnya, keberadaan bioflok tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan lokal.

‎Hasil budidaya nantinya direncanakan terhubung dengan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga ikan hasil panen dapat diserap untuk kebutuhan pangan masyarakat.

‎“Harapannya KDMP bisa berkembang menjadi sentra budidaya ikan desa yang mampu menopang ekonomi warga sekaligus mendukung kebutuhan pangan bergizi,” pungkasnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *