“Ngaji Demokrasi” di Demak: Aliansi Masyarakat Soroti Cacat Tata Kelola Daerah Selama Dua Periode Kepemimpinan

DEMAK – Aliansi Demak Menggugat (ADEM) bersama dengan Demak Berdikari menyelenggarakan forum diskusi terbuka bertajuk “Ngaji Demokrasi”, yang membahas mengenai berbagai kekurangan serta permasalahan dalam tata kelola daerah selama dua periode kepemimpinan Bupati Demak Eistianah.

Kondisi ini terlihat nyata dari banyaknya wilayah kecamatan di Demak yang kerap mengalami banjir dan rob. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (17/3/2026) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat, terutama kalangan muda, agar lebih peka terhadap isu-isu lokal, memperkuat narasi publik, serta membangun ruang untuk konsolidasi masyarakat sipil yang melibatkan berbagai generasi.

Forum diskusi lintas generasi ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, antara lain Dr. Mila Karmilla ST, MT – pakar lingkungan dan tata kota dari Unisulla, Masnuah sebagai aktivis sekaligus pemimpin kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari, serta perwakilan warga Desa Timbulsloko Kecamatan Sayung yang terus berjuang mempertahankan desa mereka yang sebagian telah tenggelam.

Acara dibuka oleh Umi selaku moderator dan Farid Muhammad sebagai pemantik acara “Ngaji Demokrasi”. Dalam sambutan pembuka, Umi menguraikan kondisi krisis infrastruktur serta permasalahan tata kelola lingkungan yang tengah dihadapi Kota Demak.

Sementara itu, Mila sebagai pakar lingkungan dan tata kota menyoroti bahwa banyak infrastruktur yang dibangun tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

“Bab I pasal 1 point 3 dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 menjelaskan bahwa struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Dalam hal ini tentu pemerintah Demak alih-alih ada pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat secara hierarkis yang memiliki hubungan fungsional, malah yang ada berbalik, dimana masyarakat desa Timbulsloko jangankan mencari kehidupan dari hasil melaut untuk bertahan hidup saja sudah luar biasa”, ujarnya.

Selanjutnya, Masnuah sebagai aktivis dan koordinator perempuan nelayan Puspita Bahari mengungkapkan kekhawatirannya terkait beberapa pembangunan infrastruktur jalan yang kurang memperhatikan dampak lingkungan.

“Pembangunan jalan tol yang baru, menggeser area pertanian warga, ini saja sudah tidak berpihak kepada masyarakat, mengapa hal-hal semacam ini tidak diperhatikan dan dipaparkan secara terbuka oleh pemerintah? Alih-alih berpihak kepada masyarakat bawah, pemerintah malah seringkali berpihak kepada pemodal”, ujarnya.

Farid Muhammad, sebagai pemantik diskusi, menekankan pentingnya peran kaum muda dalam menanggapi secara kritis setiap kebijakan pemerintah yang dinilai sering melupakan tanggung jawabnya dalam mensejahterakan dan melindungi masyarakat.

“Demokrasi kita telah cacat sejak pemilu karena hanya yang punya modal besar lah yang bisa maju jadi pemimpin meskipun tidak kompeten. Akibatnya, kepemimpinannya diarahkan untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan saat mencalonkan diri dan berpihak pada kapitalis, tanpa melihat kepentingan masyarakat umum. Saatnya kita bergerak menyuarakan masalah demokrasi khususnya di daerah kita,” ujar Farid.

Roni, seorang pemuda dari Timbulsloko yang menghadiri diskusi, menyampaikan kondisi yang dihadapi oleh warganya:

“kami ini sudah terbiasa dengan adanya air, mau hujan atau tidak kami selalu terkena dampak rob, kami menolak tenggelam, kami akan terus bertahan dan bangkit, sebagai pengingat bahwa warga desa timbulsloko juga bagian dari wilayah desa yang ada di kota Demak”, ujarnya.

Diskusi yang diikuti oleh puluhan pemuda dari berbagai daerah di Demak juga menjadi wadah bagi mereka untuk menyampaikan keluhan serta permasalahan yang dialami sebagai warga daerah.

Selain sesi diskusi, acara “Ngaji Demokrasi” juga menghadirkan hiburan berupa stand up comedy dan puisi untuk menciptakan suasana yang harmonis. “Kami akan terus bertumbuh, berkembang dan menyebarkan kesadaran kolektif kepada seluruh lintas generasi masyarakat sipil yang ada di Demak, sebab sistem yang baik adalah sistem yang dinikmati manusia” pesan Roni.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed