Tag: Buku

  • Mahasiswi UMK, Dea Ananda, Buktikan Kegagalan Adalah Awal Kesuksesan

    Mahasiswi UMK, Dea Ananda, Buktikan Kegagalan Adalah Awal Kesuksesan

    KUDUS – Dea Sholihatun Ni’mah, atau Dea Ananda, seorang mahasiswi semester 1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK), membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk meraih kesuksesan.

    Pandemi COVID-19 justru menjadi titik balik dalam hidupnya, mendorongnya untuk mengeksplorasi bakat menulis dan menghasilkan karya-karya inspiratif.

    Awalnya dikenal berbakat dalam musik sejak taman kanak-kanak hingga SMP, Dea meninggalkan dunia tarik suara setelah bergabung dengan paduan suara. Namun, pandemi mengubah arah hidupnya.

    “Di masa pandemi, saya bingung harus melakukan apa. Akhirnya, saya bergabung dengan komunitas Literasi Kita dan mulai menulis,” ungkap Dea.

    Ketekunannya membuahkan hasil; ia aktif menulis puisi di Wattpad, menghasilkan lebih dari 350 puisi dalam setahun, dengan 250 di antaranya dipublikasikan.

    Sebelum kuliah, Dea telah berhasil menerbitkan dua buku indie, Alunan Diksi dan Maaf, Aku Tidak Selemah yang Kamu Kira. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang dunia penerbitan dan memberinya keberanian untuk mengirimkan naskah ke penerbit mayor, Gramedia.

    Setelah tiga bulan menunggu, kabar gembira datang: naskahnya diterima. Buku ketiganya, Dari Aku Tak Bisa Menjadi Aku Bisa, kini resmi diterbitkan Gramedia.

    Buku ini merefleksikan perjalanan hidup Dea, mengajak pembaca untuk bangkit dari kegagalan dan mencapai potensi terbaik mereka.

    “Buku ini tentang self-improvement, sebuah ajakan untuk terus tumbuh,” kata Dea.

    Di usia 18 tahun, Dea telah mencapai prestasi luar biasa sebagai penulis muda yang karyanya diterbitkan penerbit besar.

    Dea juga membagikan tips sukses bagi calon penulis: “Selain naskah yang berkualitas, penting untuk membangun personal branding di media sosial karena penerbit juga melihat keaktifan penulis di platform digital.”

    Melalui karyanya, Dea ingin menyampaikan pesan bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya. Dengan semangat dan ketekunan, mimpi dapat diraih. Buku Dari Aku Tak Bisa Menjadi Aku Bisa kini tersedia di Gramedia, siap memotivasi pembaca di seluruh Indonesia.

    Kisah Dea Ananda menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani mengejar mimpi dan membuktikan bahwa kegagalan hanyalah batu loncatan menuju kesuksesan.

    (red)

  • Efektivitas Buku Fisik dan Buku Digital

    Efektivitas Buku Fisik dan Buku Digital

    Tuturmedia.com – Sejak memasuki era digital, segala aktivitas manusia mulai mengalami pergeseran. Pekerjaan yang semula dapat dilakukan dengan tenaga manusia, kini mulai dilakukan oleh mesin. Akibatnya, banyak tenaga manusia yang mengalami pengurangan.

    Pekerjaan-pekerjaan yang awalnya membutuhkan banyak tenaga manusia, kini cukup beberapa saja, itupun hanya untuk menjalankan mesin. Hal ini menjadi dampak majunya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

    Dampak dari kemajuan IPTEK ini dirasakan oleh segala lini kehidupan, salah satunya pada bidang pendidikan adalah berkurangnya buku-buku fisik. Hal ini disebabkan oleh bergesernya buku-buku fisik oleh buku-buku digital (e-book).

    Saat ini sudah sangat jarang sekali dijumpai pelajar atau mahasiswa yang menenteng buku-buku fisik, hampir semuanya beralih pada e-book. Selain praktis dibawa, e-book juga dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Mengingat kehidupan manusia saat ini sangat bergantung dengan benda-benda digital, seperti gadget.

    Meskipun keberadaan buku-buku fisik telah tergantikan dengan e-book, nyatanya penikmat buku fisik juga masih tidak sedikit. Bahkan, banyak akademisi yang cenderung memilih buku fisik daripada e-book.

    Hal ini bukan tanpa sebab, melainkan atas pertimbangan dari efektivitas buku fisik dan e-book. Dilihat dari esensinya, beberapa e-book didapatkan dari hasil scanning buku fisik. Sehingga adanya e-book juga karena adanya buku fisik.

    Apabila dilihat dari efektivitasnya, buku fisik lebih efektif digunakan untuk mendapatkan ilmu melalui proses membaca. Sedangkan e-book yang umumnya hanya dibaca untuk mendapatkan informasi atau ilmu tertentu ketika mendesak.

    Adapun buku fisik lebih terjaga dibandingkan dengan e-book, karena e-book tersimpan dalam perangkat yang lebih rentan terhapus atau tertimbun file-file terbaru. Akibatnya, e-book tersebut terlupakan dan tidak terbaca.

    Pergeseran buku fisik oleh e-book sebagai salah satu dampak arus globalisasi memang tidak dapat dinafikan. Kemudahan yang diberikan membawa banyak peminatnya. Namun, penggunaan buku fisik lebih banyak memberikan keuntungan daripada e-book.

    Seperti fokus membaca, pembaca buku fisik dapat lebih fokus, lain halnya dengan pembaca e-book yang terkadang fokusnya berubah ketika ada notifikasi di gadget-nya. Di satu sisi, membaca e-book terlalu sering kurang baik bagi penglihatan mata, dikarenakan cahaya radiasi dari gadget.

    Demikian efektivitas buku fisik dan buku digital (e-book) bagi pembaca. Walaupun begitu, setiap orang memiliki seleranya masing-masing dalam memperoleh keilmuan. Tidak ada salahnya membaca buku fisik maupun e-book, karena keduanya dapat memberikan ilmu bagi setiap pembacanya.

    Sebuah pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Artinya, semakin banyak seseorang membaca buku, maka akan semakin luas pengetahuannya.

    Penulis: Savira Dwi Aryanti
    (Mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

  • BAZNAS Terbitkan Buku “Teladan Ulama Nusantara” untuk Dukung Literasi Mahasantri

    BAZNAS Terbitkan Buku “Teladan Ulama Nusantara” untuk Dukung Literasi Mahasantri

    Tuturmedia.com, Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI berkomitmen dalam memperkuat literasi mahasantri Ma’had Aly di Indonesia melalui para penerima beasiswa BAZNAS. Upaya tersebut terwujud melalui peluncuran buku “Teladan Ulama Nusantara: Dari Tafaqquh Fi Al-Din hingga Khidmah pada Ummat dan Negeri” yang ditulis oleh alumni angkatan I Beasiswa Cendekia BAZNAS Ma`had Aly. Peluncuran buku ini berlangsung pada Jumat (24/11/2023).

    Acara peluncuran di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, mencakup apresiasi atas karya tersebut, dengan kehadiran Dr H M Imdadun Rahmat MSi (Deputi II BAZNAS RI), Prof Dr Ahmad Zainul Hamdi MAg (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama/ Diktis Kemenag RI), Rosidi (mentor Cendekia BAZNAS Ma’had Aly TBS Kudus/ editor buku), dan mahasantri dari sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

    “Selamat atas diterbitkannya buku penting ini. Buku ini merupakan karya bersama para peserta beasiswa Ma`had Aly di bawah bimbingan mentor di masing-masing Ma`had Aly,” ungkap Dr H M Imdadun Rahmat.

    Dia menyoroti pentingnya buku ini sebagai pelengkap dari gerakan dukungan zakat bagi pesantren.

    “Buku ini hadir untuk memberikan inspirasi kepada mereka yang sedang tafaqquh fi al-din, memuat qudwah dan uswah dari kiai pesantren besar yang melahirkan Ma’had-ma’had Aly,” jelasnya.

    Lebih lanjut, dia menekankan perlunya mentransfer nilai-nilai uswah dan qudwah kepada masyarakat Indonesia, khususnya para santri dan penerima Beasiswa Ma`had Aly. Selain itu, buku ini akan menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengejar cita-cita, serta mendorong semangat berprestasi dan peningkatan literasi melalui kegiatan menulis buku.

    “Saat ini, salah satu program yang tengah kita laksanakan adalah Beasiswa Santri Ma`had Aly, dengan 48 Ma`had Aly di seluruh Indonesia sebagai mitra permanen BAZNAS,” tambahnya.

    Sementara itu, Prof Dr Ahmad Zainul Hamdi, mengapresiasi atas diluncurkannya buku tersebut. Pihaknya pun memotivasi, agar buku yang memuat inspirasi dari keteladanan para ulama Nusantara itu, dialihbahasakan ke Bahasa Arab, misalnya, agar bisa dibaca oleh publik internasional.

    “Jika para tokon ulama Nusantara ditulis menggunakan Bahasa Arab, maka akan menjangkau dunia internasional. Dan mata dunia akan terbelalak,” paparnya.

    Editor buku, Rosidi, mengutarakan, bahwa buku mengatakan, bahwa buku “Teladan Ulama Nusantara: Dari Tafaqquh Fi Al-Din hingga Khidmah pada Ummat dan Negeri” itu adalah karya para mahasantri, di bawah bimbingan para mentor dari masing-masing Ma’had Aly.

    “Banyak yang terlibat dalam penggarapan buku ini. Para mahasantri, para mentor, juga pihak BAZNAS RI melalui Lembaga Beasiswa BAZNAS yang ikut mengawal proses penerbitan buku, yang memakan waktu cukup Panjang itu,” katanya.

    “Buku ini luar biasa, dan saya berharap ke depan para mahasantri semakin terpacu untuk menulis. Menulis ini merupakan bagian dari khidmah kita di bidang keilmuan, dan sebagai rasa syukur kita atas fasilitas yang diberikan oleh BAZNAS,” imbuhnya.

    (Red)

  • Puisi-Puisi Ilham Wiji Pradana

    Puisi-Puisi Ilham Wiji Pradana

    BUKU DAN CITA – CITA ANAK 

    : Nirwan Ahmad Arsuka

     

    Kuda itu selalu meringkik pelan

    demi menuju tempat

    anak-anak yang akan lapar bacaan.

     

    Kuda itu, Nir

    selalu membawa kabar gembira

    dan tawa anak-anak.

    Nir, engkau selalu

    menanyakan berapa buku

    telah engkau lahab habis-habis.

    & ucapanmu terakhir kepada anak-anak

    “cita-citamu akan menjadi apa?”

     

    Selamat Jalan Nir,

    (2023)

     

     

    DI SURAU; SUARA-SUARA MULAI TERDENGAR

    Berjanji itu;

    dilantunkan lantunkan dengan lirih.

    Suara anak kecil melengking

    & diikuti dengan suara

    “Allahhuma Sholli Allaih”

    Dan melanjutkan

    “Mahalul Qiyam”

    Semua orang berdiri, dan bershalawat.

    (2023)

     

     

    JAM DINDING

    Kenapa jam itu berdetak?

    Perlahan; angin

    diam-diam mendesir.

    Dan daun-

    daun jatuh

    tepat di atas nisanmu.

    (2023)

     

     

    TUBUH PUISI

    Mungkin saya pernah menulis puisi

    Satu, dua atau tiga kali. Kalau tidak salah.

     

    Pertama; tentu itu tubuh saya.

    Ke dua; ada dorongan batin

    (untuk melakukan itu semua).

            Atau ruh yang harus segera diselesaikan.

    (2023)

     

    Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus.