Setiap Hari Ada Donatur, Tradisi Jelaburan di Masjid Al-Furqon Berjalan Lancar

Kudus122 Dilihat

KUDUS – Suasana bulan Ramadan kembali terasa hangat di Masjid Jami Al-Furqon, yang terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Burikan, Kecamatan Kota Kudus. Hal ini terwujud melalui kegiatan berbagi makanan berbuka puasa yang kerap disebut warga sekitar dengan nama Jelaburan.

Kegiatan ini digelar secara berkala setiap tahun saat memasuki bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi wujud perwujudan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan sarana kemasyarakatan.

Rifqi, Ketua Takmir Masjid Jami Al-Furqon, menyampaikan bahwa fokus pemberian makanan berbuka puasa di masjidnya ditempatkan pada momentum Ramadan.

Menurutnya, bulan puasa memiliki makna mendalam dalam ajaran Islam, terutama terkait anjuran untuk menjamu orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kalau Ramadan, kami pasti mengadakan buka puasa bersama setiap hari. Ini sudah menjadi komitmen takmir sejak lama,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, mulai tanggal 1 hingga 20 Ramadan, masjid menyediakan hidangan berbuka bagi jamaah serta masyarakat luas.

Sedangkan pada 10 hari terakhir bulan suci tersebut, takmir juga menyediakan layanan sahur khusus untuk jamaah yang melaksanakan ibtikaf di masjid.

“Kalau tanggal 21 sampai akhir Ramadan, selain buka puasa, kami juga menyediakan sahur, tapi itu khusus untuk jamaah yang iktikaf di sini. Daripada mereka pulang, lebih baik difasilitasi di masjid,” jelasnya.

Rifqi mengakui bahwa asal-usul istilah Jelaburan yang sering digunakan untuk menyebut tradisi ini belum dapat dipastikan secara pasti.

Namun, ia menyatakan bahwa sebutan tersebut hanya dikenal di lingkungan sekitar masjid, sementara di daerah lain lebih umum disebut dengan buka puasa bersama.

Dari aspek keagamaan, Rifqi menegaskan bahwa memberi makan orang yang berpuasa memiliki nilai pahala yang sangat besar. Hal ini pula yang menjadi daya tarik bagi banyak donatur untuk berpartisipasi.

“Setiap hari sudah ada yang nanggung. Hari pertama A, hari kedua B, dan seterusnya. Ada yang memberi dalam bentuk makanan, ada juga yang memberi uang lalu kami yang mengeksekusi,” katanya.

Jumlah jamaah yang datang untuk berbuka puasa di masjid tersebut terus mengalami peningkatan.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya rata-rata masih di bawah 200 orang per hari, maka tahun ini jumlahnya telah mencapai lebih dari 230 orang setiap harinya.

“Bayangkan, orang yang menjamu hanya satu hari, tapi pahalanya setara puasa ratusan orang,” ungkapnya.

Selain nilai ibadah, Rifqi mengemukakan bahwa kegiatan ini juga memiliki dampak sosial yang signifikan. Tidak seluruh jamaah yang berbuka puasa di masjid berasal dari kalangan kurang mampu, melainkan juga termasuk musafir, pekerja yang belum bisa pulang ke rumah, hingga masyarakat sekitar yang ingin merasakan kebersamaan saat berbuka.

“Masjid kan bukan hanya tempat ibadah, tapi juga punya fungsi sosial. Ada orang yang mungkin secara ekonomi terbantu karena bisa berbuka di sini,” ujarnya.

Lebih dari itu, momen makan bersama dinilai mampu mempererat tali silaturahmi antar sesama. Bahkan, menurut Rifqi, makan bersama dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun kedekatan sosial di antara masyarakat.

“Kalau orang makan bersama, suasananya jadi cair. Yang belum kenal bisa jadi kenal, yang sudah kenal jadi tambah akrab,” katanya.

Dalam pengelolaannya, takmir juga memperhatikan variasi menu agar jamaah tidak merasa bosan. Donatur yang ingin membawa makanan sendiri akan dilakukan koordinasi agar tidak terjadi kemiripan menu dalam waktu yang berdekatan.

“Kalau satu kali buka puasa bisa habis Rp3 sampai Rp4 juta. Kalau ditotal sebulan bisa puluhan juta. Alhamdulillah semua ditopang donatur,” jelasnya.

Dengan demikian, tradisi Jelaburan menjadi bukti bahwa masjid mampu berperan sebagai pusat ibadah, solidaritas, serta kebersamaan selama bulan Ramadan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *