Sahur on the Road Rasa Religi: Cara Mahasiswa Rembang Semarang Maknai 17 Ramadhan

Kolom46 Dilihat

SEMARANG – Malam Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan menjadi ruang refleksi mendalam bagi Keluarga Mahasiswa Rembang di Semarang (Kamaresa). Pada Jumat (6/3/2026), puluhan mahasiswa asal Bumi Kartini ini menggelar kegiatan Sahur on the Road (SOTR) dengan konsep berbeda. Alih-alih sekadar berkeliling kota, mereka memilih menziarahi tiga makam waliyullah di Kota Semarang.

Rangkaian religi ini diawali dengan kunjungan ke makam mahaguru ulama Nusantara, KH Sholeh Darat di Bergota. Di sana, para mahasiswa lintas generasi—mulai dari angkatan 21 hingga 25—melantunkan doa, tahlil, hingga melaksanakan prosesi Khataman Al-Qur’an secara berjamaah di bawah temaram lampu makam yang syahdu.

Ketua Kamaresa, Najich Fawaid, menegaskan bahwa ziarah ini bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia mengingatkan para anggotanya bahwa Mbah Sholeh Darat adalah sosok sentral di balik pemikiran besar tokoh emansipasi perempuan, R.A. Kartini. Sebagai guru spiritual, Mbah Sholeh pernah memberikan Al-Qur’an tulis tangan kepada Kartini, yang naskahnya hingga kini tersimpan rapi di Museum Kartini Rembang.

“Mbah Sholeh Darat merupakan akar intelektual dan spiritual bagi warga Rembang. Hubungan beliau dengan Kartini adalah bukti nyata bagaimana ulama dan tokoh pergerakan bersinergi. Ziarah ini menjadi pengingat bagi kami di perantauan untuk tidak melupakan akar sejarah tanah kelahiran,” ujar Najich di sela-sela kegiatan.

Setelah dari Bergota, perjalanan berlanjut menuju makam Habib Hasan (Syeikh Kramat Terboyo) dan berakhir di makam Habib Toha (Syeikh Kramat Jati) di kawasan Jalan Depok. Nur Afandi, Koordinator Bidang Sosial Keagamaan Kamaresa, mengaku terharu melihat antusiasme para anggota yang sudah lama menanti momen untuk saling sapa dan mempererat silaturahmi.

Bagi mahasiswa Kamaresa, momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan nyata, sebagaimana keteladanan yang ditinggalkan oleh para wali tersebut melalui karya dan pengajarannya.

Rangkaian panjang malam itu ditutup dengan momen sahur bersama yang hangat di depan Gerbang Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Sambil menyantap hidangan sederhana, para mahasiswa dari berbagai lintas angkatan tampak akrab berdiskusi, mencairkan dinginnya suasana pagi buta di perantauan.

Melalui kegiatan SOTR ini, Kamaresa membuktikan bahwa jarak dengan tanah kelahiran tidak melunturkan identitas mereka sebagai santri intelektual yang menghargai sejarah dan tradisi keilmuan para ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *