Rute BRT Kudus–Jepara–Pati Belum Diputuskan, Opsi Jalur Masih Dibahas

Kudus587 Dilihat

KUDUS – Rencana pembangunan sistem transportasi Bus Raya Trans (BRT) yang menghubungkan kawasan Pantura Timur Jawa Tengah saat ini masih berada dalam tahap awal pembahasan. Pemerintah daerah dan provinsi hingga saat ini belum menetapkan jalur yang pasti, khususnya untuk koridor yang akan menuju Jepara dan Pati.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperinda) Kabupaten Kudus, Sulistyowati, menyatakan bahwa proses perencanaan masih berjalan melalui berbagai forum koordinasi di tingkat provinsi. Ada beberapa alternatif rute yang masih dikaji secara mendalam, terutama terkait akses menuju Jepara.

Salah satu usulan yang muncul adalah jalur BRT hanya dibangun hingga wilayah Pecangaan. Namun, rencana tersebut belum mendapatkan kesepakatan karena Pemerintah Kabupaten Jepara menginginkan layanan dapat masuk hingga ke pusat kota.

“Masih ada beberapa alternatif yang dibahas. Jepara menginginkan jalur sampai kota, bukan hanya berhenti di Pecangaan,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Kabupaten Kudus menyatakan siap menerima keputusan rute apa pun, asalkan wilayahnya tetap terhubung dan menjadi bagian dari jalur utama. Hal ini mengingat posisi Kudus yang dinilai sangat strategis sebagai penghubung dari arah Semarang menuju wilayah timur.

Sulistyowati menjelaskan, konsep awal yang diusung oleh pemerintah provinsi adalah menjadikan Kudus sebagai simpul atau titik percabangan utama. Dari sana, jalur akan terbagi dua, yaitu ke arah Jepara dan ke arah Pati.

Meski demikian, terdapat opsi lain yang juga sedang dipertimbangkan, yaitu jalur yang menghubungkan Demak langsung ke Jepara tanpa melewati Kudus. Jika skenario ini yang dipilih, maka akses BRT tidak akan menjangkau Kudus maupun Pati.

“Kalau lewat Demak langsung ke Jepara, maka tidak melewati Kudus dan Pati. Tapi konsep awal provinsi masih mengarah ke Kudus sebagai titik utama,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa di tahun ini fokus kegiatan masih pada tahap kajian kelayakan dan perencanaan desain. Pembangunan fisik belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat karena memerlukan analisis yang matang, termasuk perhitungan kebutuhan anggaran.

Kendala lain yang turut dipertimbangkan adalah adanya pengurangan Transfer ke Daerah (TKD). Semakin panjang jalur dan banyaknya halte yang akan dibangun, tentu akan mempengaruhi besaran biaya yang harus disiapkan.

“Masih butuh waktu karena saat ini baru tahap kajian. Semua aspek, termasuk anggaran dan desain, masih dihitung secara matang,” pungkasnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *