Kamis Putih di Kudus: Ribuan Umat Katolik Gelar Misa Pembuka Trihari Suci

Kudus467 Dilihat

KUDUS – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Santo Yohanes Evangelista pada Kamis (2/4/2026) untuk mengikuti perayaan Misa Kamis Putih. Kegiatan ini menjadi pintu masuk rangkaian Trihari Suci yang diselenggarakan dengan suasana khidmat, serta mengusung tema Paskah tahun ini, yaitu mewujudkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Kabid Liturgi Dewan Paroki, Franciscus Xaverius Didik Setyawan, menjelaskan bahwa perayaan ini memiliki makna mendalam sebagai momen untuk mengenang peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama kedua belas murid-Nya.

“Kamis Putih menjadi awal dari Trihari Suci. Dalam perayaan ini, kita mengenang kasih dan pengorbanan Yesus yang diwujudkan melalui Ekaristi,” ujarnya.

Mengingat antusiasme dan jumlah umat yang hadir sangat banyak, panitia membagi pelaksanaan misa menjadi dua sesi, yakni pukul 17.30 WIB dan 20.30 WIB. Pada sesi pertama saja, jumlah peserta diperkirakan mencapai 1.500 hingga 1.800 orang. Oleh karena itu, beberapa ruangan tambahan di lingkungan gereja juga disiapkan agar seluruh umat dapat mengikuti ibadat dengan nyaman dan tertib.

Salah satu ritual khas yang menjadi sorotan adalah prosesi pembasuhan kaki. Sebanyak 12 orang dipilih sebagai perwakilan umat untuk melambangkan para murid Yesus. Tindakan ini bukan sekadar upacara, melainkan simbol nyata dari kerendahan hati, semangat pelayanan, dan kasih sayang kepada sesama manusia.

“Pembasuhan kaki menjadi simbol bagaimana kita diajak untuk saling melayani tanpa memandang status. Ini pesan penting yang ingin kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Didik.

Selain ritual tersebut, perayaan juga dilengkapi dengan seluruh rangkaian Ekaristi, termasuk saat umat menerima Komuni Kudus. Usai misa selesai, dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus yang kemudian diletakkan di altar khusus sebagai bentuk penghormatan dan kekhusyukan berdoa.

Ibadat kemudian ditutup dengan tradisi tuguran, di mana umat berjaga dan berdoa bersama hingga tengah malam. Kegiatan ini dimaknai sebagai wujud kesetiaan umat dalam mendampingi Yesus menjelang peristiwa penyaliban-Nya.

Tema Paskah tahun ini juga menekankan peran gereja dan umatnya di ruang publik. Menurut Didik, pesan perayaan ini mengajak seluruh umat untuk tidak hanya berkegiatan di lingkungan internal gereja, tetapi juga hadir aktif dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Kita diharapkan mampu hadir di tengah masyarakat, peduli terhadap sesama, serta ikut menciptakan kehidupan yang harmonis dan sejahtera,” tambahnya.

Melalui seluruh rangkaian ibadat yang penuh makna ini, diharapkan nilai-nilai pengorbanan, kasih, dan pelayanan dapat benar-benar dihayati dan diterapkan oleh umat dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya terbatas pada masa perayaan Paskah saja.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *