Edy Wuryanto Dorong Penanganan Serius Ketimpangan Pelaksanaan MBG di Wilayah 3T

Nasional68 Dilihat

JAKARTA – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum menunjukkan keseragaman di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). Hal ini ditegaskan oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, yang menyatakan bahwa ketidakmerataan dalam pendistribusian program berpotensi memunculkan isu keadilan sosial jika tidak segera mendapatkan tanggapan yang serius.

Pernyataan Edy – yang lebih dikenal dengan sapaan Edy Wur – disampaikan dalam rapat yang membahas percepatan implementasi program gizi, dengan fokus khusus pada wilayah 3T, pada hari Selasa (20/1). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa hingga saat ini, masyarakat yang berada di daerah terpencil belum dapat menikmati manfaat Program MBG secara maksimal.

Menurut Edy, pelaksanaan MBG berjalan dengan cukup baik di kawasan perkotaan. Namun di sisi lain, anak-anak dan keluarga di wilayah 3T masih menghadapi kendala untuk memperoleh akses terhadap asupan nutrisi yang memenuhi standar kebutuhan.

“Anak-anak yang tinggal di pinggir hutan atau di wilayah perbatasan, asupan gizinya kurang. Sampai sekarang mereka hanya bisa melihat di media sosial pembagian MBG di kota. Ini tidak adil,” tegas Edy.

Ia menegaskan bahwa setiap anak di tanah air memiliki hak yang sama untuk tumbuh dengan kondisi sehat dan kecerdasan yang baik, tanpa adanya pembatasan akibat lokasi tempat tinggal mereka. Edy juga mengingatkan bahwa jika Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pemerintah daerah tidak segera menangani masalah ini, ketimpangan dalam pelaksanaan MBG berpotensi menyebabkan munculnya ketidakpuasan di tengah masyarakat.

“Kami harus melihat MBG BGN ini secara utuh, terutama bagaimana dampaknya kepada masyarakat. Lebih-lebih kepada masyarakat miskin dan yang menyentuh keadilan sosial. Ini yang harus menjadi perhatian penting,” ujarnya.

Meskipun demikian, Edy mengakui bahwa tujuan Presiden dalam meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis sangat mulia. Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mengatasi permasalahan gizi skala nasional, yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah.

Menurutnya, masalah gizi seperti malnutrisi dan stunting merupakan ancaman yang signifikan bagi perkembangan bangsa, karena memberikan dampak langsung terhadap kualitas kesehatan dan kecerdasan generasi penerus bangsa.

“Malnutrisi paling buruk itu adalah stunting. Ini persoalan bangsa yang membuat rakyat kita tidak sehat dan tidak cerdas. BGN harus melihat itu secara utuh,” tandasnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *