Tag: Sampah

  • TPA Tanjungrejo Kudus Overload, Limbah Cair Cemari Lahan Pertanian

    TPA Tanjungrejo Kudus Overload, Limbah Cair Cemari Lahan Pertanian

    KUDUS – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kini menghadapi masalah serius akibat overload.

    Tidak hanya menimbulkan antrean panjang kendaraan pengangkut sampah, TPA yang sudah kelebihan muatan ini juga menyebabkan limbah cair sampah mencemari lahan pertanian milik warga sekitar.

    Berdasarkan pantauan awak media, kondisi TPA yang overload terlihat semakin parah. Sampah yang tidak dapat lagi tertampung mulai meluber ke jalanan. Limbah cair yang berasal dari sampah menetes ke lahan persawahan milik Khoirul Anaf, seorang petani yang menyewa tanah seluas 4.200 meter di sebelah timur TPA.

    “Selama 8 tahun menyewa tanah, baru kali ini saya mengalami kerugian akibat tercemarnya lahan pertanian yang dikelolanya,” ujar Khoirul Anaf, pada Senin (6/1/2025).

    Khoirul Anaf menjelaskan bahwa sekitar 700 meter persegi dari lahan yang disewa tidak dapat digunakan untuk bertani karena tercemar limbah. Musim tanam yang biasanya normal, kini terhambat akibat dampak dari TPA yang tidak mampu menampung sampah lagi. Genangan limbah tersebut merugikan hasil pertanian yang dipanen dan menjadikan harga jualnya tidak optimal.

    “Lahan ini jadi tidak bisa ditanami, dan harga jual hasil pertanian jadi anjlok,” kata dia.

    Khoirul Anaf juga mengusulkan agar pemerintah daerah segera mencari solusi. Ia menyarankan agar pemerintah memperluas area TPA atau bahkan memindahkan lokasi pembuangan sampah ke tempat yang lebih layak.

    “Saya berharap, adanya tindakan segera dari pemerintah daerah untuk mengatasi dampak negatif dari TPA yang sudah overload ini. Agar masalah serupa tidak terus berulang,” harapnya.

    Sementara itu, Kepala UPT TPA Tanjungrejo, Eko Warsito mengakui bahwa TPA tersebut sudah overload. Sampah yang masuk mencapai 175 ton per hari, dan meningkat hingga 200 ton setelah liburan Natal dan Tahun Baru.

    Akibatnya, sampah mulai dibuang di sepanjang jalan menuju TPA karena tidak ada lagi ruang untuk menampungnya.

    “Kami pun berharap pihak Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus dapat segera mencari solusi untuk mengatasi masalah ini,” paparnya.

    (red)

  • Krisis Sampah di Kudus: TPA Tanjungrejo Hampir Penuh, Butuh Perluasan Segera

    Krisis Sampah di Kudus: TPA Tanjungrejo Hampir Penuh, Butuh Perluasan Segera

    KUDUS – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menghadapi krisis kapasitas. Gunungan sampah yang telah mencapai ketinggian 15 meter diperkirakan hanya dapat bertahan hingga Maret 2025.

    Setiap harinya, sekitar 175 ton sampah dibuang ke TPA, dengan lonjakan mencapai 200 ton lebih setelah libur Natal dan Tahun Baru.

    Kepala UPT TPA Tanjungrejo, Eko Warsito, menjelaskan bahwa kelebihan muatan di TPA disebabkan oleh peningkatan konsumsi masyarakat Kudus selama liburan, ditambah dengan terbatasnya jumlah alat berat dan tenaga kerja untuk mengelola sampah. Meskipun demikian, pelayanan pengelolaan sampah harus tetap berjalan.

    “Hal itu sesuai dari petunjuk dari Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus,” ujarnya.

    Eko memperkirakan bahwa jika tidak ada tambahan alat berat baru, TPA Tanjungrejo mungkin tidak akan mampu menampung sampah setelah Maret 2025.

    Lahan TPA seluas 4,8 hektar ini sudah dipenuhi sampah yang setinggi 15 meter, yang secara teknis masih bisa ditumpuk dengan sistem controlled landfill. Namun, jika kapasitas terus melampaui batas, masalah besar akan muncul.

    “Salah satu solusi yang diharapkan adalah perluasan lahan TPA, meski hal ini berada di luar kewenangan UPT TPA dan merupakan keputusan dari Dinas PKPLH,” ujarnya.

    Eko Warsito berharap agar pemerintah segera menambah alat berat agar pengelolaan sampah bisa lebih maksimal dan mencegah TPA Kudus semakin penuh.

    Perluasan dan penambahan fasilitas di TPA sangat dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan pengelolaan sampah yang lebih baik di masa depan.

    Sementara itu, Kepala Dinas PKPLH Kabupaten Kudus, Abdul Halil, mengungkapkan bahwa rencana perluasan lahan TPA sudah mulai dibahas, namun pembahasan lebih lanjut harus menunggu peralihan kepemimpinan Bupati Kudus yang baru.

    “Sementara untuk rencana perluasan TPA akan berada di dekat lokasi saat ini, meski rincian konsep dan waktu pelaksanaannya belum dapat dipastikan,” pungkasnya.

    (red)

  • Kudus Perkuat Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular dengan Bantuan Denmark

    Kudus Perkuat Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular dengan Bantuan Denmark

    KUDUS – Program kerja sama pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular antara Indonesia dan Denmark kembali digelar, kali ini di Kudus. Inisiatif ini digagas oleh Kedutaan Besar Denmark dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan tujuan memperkuat upaya pemerintah daerah dalam mengatasi masalah sampah dan mengubahnya menjadi sumber nilai ekonomi yang berkelanjutan.

    Acara yang berlangsung pada Selasa (5/11/2024) ini merupakan bagian dari rangkaian kerjasama yang telah dimulai di Kota Bogor dan akan berlanjut ke enam kabupaten/kota lainnya, termasuk Cilacap, Banda Aceh, Malang, dan Banyumas.

    Kepala PKPLH Kudus, Abdul Halil, menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan sampah, tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, tetapi juga pada pengembangan ekonomi daerah.

    “Kegiatan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah sampah dan mengubahnya menjadi nilai tambah ekonomi, seperti yang telah dilakukan di beberapa kota sebelumnya,” ujar Abdul Halil.

    Ia berharap, melalui kerjasama ini, pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah dapat meningkat dan solusi berbasis ekonomi sirkular dapat diterapkan lebih luas.

    Dody Iswandi M, environment advisor dari Denmark Embassy, juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung transformasi pengelolaan sampah di Indonesia.

    Duta Besar Denmark menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat dan pemerintah, serta mendorong keberlanjutan dalam pengelolaan sampah melalui kerja sama yang lebih erat antar kota.

    “Penting bagi semua pihak untuk memahami bahwa sampah adalah masalah bersama yang harus ditangani dengan bijak, baik dari segi pengurangan volume sampah maupun pemanfaatannya sebagai sumber ekonomi,” kata Duta Besar Denmark.

    Kegiatan ini mencakup berbagai sesi workshop dan diskusi mengenai implementasi ekonomi sirkular, serta bagaimana teknologi dan inovasi dapat berperan dalam pengelolaan sampah yang lebih efisien.

    Diharapkan, kerjasama ini tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.

    (red)