Tag: Perempuan

  • Kekerasan Berdasarkan Gender

    Kekerasan Berdasarkan Gender

    Tuturmedia.com – Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), namun tahukah kamu bahwa HAM ini terkikis oleh tindakan-tindakan kekerasan seksual. Salah satu yang sering kita jumpai yaitu maraknya bias gender di Indonesia.

    Hal ini dibuktikan dengan tingginya persentase kekerasan seksual pada kaum perempuan. Jumlah korban kekerasan seksual berjenis kelamin perempuan lebih besar dari pada laki-laki. Persentase korban laki-laki berada pada angka 19,8% dengan jumlah 1.081 jiwa, sedangkan perempuan 80,2% dengan jumlah 4.380 jiwa.

    Dalam hal ini menunjukkan bahwa anggapan tentang “perempuan itu lemah” masih tertanam baik dari kaum laki-laki maupun kaum perempuan itu sendiri. Anggapan ini menjadi pemicu adanya bias gender dimana kaum perempuan yang terdiskriminasi.

    Padahal kita ketahui bahwa laki-laki maupun perempuan adalah manusia yang sama-sama memiliki daya yang semestinya tidakdilihat berdasarkan gendernya.

    Bias gender adalah tindak bagaimana tidak adanya keadilan gender. Telah kita ketahui dan sepakati bahwa gender berbeda dengan seks. Keduanya sama-sama jenis kelamin, namun yang membedakan gender ini dilihat dari peran, sifat, dan posisi dalam pandangan sosial yang kemudian didapat secara turun temurun serta dapat dipengaruhi oleh budaya setempat, kepercayaan, penafsiran agama, politik, sistem pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Sedangkan seks itu sendiri dilihat dari faktor biologisnya.

    Masih banyaknya anggapan bahwa perempuan itu lemah dan tidak berdaya. Banyak contoh di sekeliling kita yang mendukung premis tersebut. Contohnya adalah pelecehan seksual. Pelecehan ini dilakukan secara sengaja oleh subjek yang pastinya menganggap bahwa objek tidak berdaya sehingga ia berani melakukan hal tersebut. Bentuk pelecehan ini bermacam-macam, namun bentuk pelecehan yang paling sering kita temui adalah catcalling. Ya, kamu tidak salah membaca, catcalling merupakan salah satu bentuk dari pelecehan seksual yang dilakukan secara verbal maupun non verbal di tempat umum.
    Catcalling ini disebut street harassment karena terjadi di tempat umum.

    Faktor yang menyebabkan catcalling terjadi di tempat umum adalah normalisasi catcalling. Ya, catcalling masih sering dinormalisasi oleh orang-orang awam sehingga subjek catcalling tidak merasa malu melakukan hal ini di manapun. Sering kita melihat supir truck memanggil-manggil genit ataupun menggoda perempuan yang sedang mengendarai motor sendiri ketika berhenti di lampu merah. Padahal yang ia panggil maupun goda bukanlah orang yang mereka kenal.

    Tidak hanya itu, catcalling secara non verbal dilakukan lebih parah lagi. Bentuk catcalling ini biasanya dilakukan dengan cara menyentuh, meraba, memeluk sang objek tanpa izin objek. Bentuk catcalling ini terjadi oleh siapapun.

    Masyarakat biasanya memandang rendah objek catcalling seakan-akan catcaling terjadi karena kesalahan objek. Contohnya “cewek itu digenitin karena dia caper, lewat depan banyak cowo” atau “cowok itu dipegag-pegang karena keganjenan” padahal faktanya korban tidak perperilaku aneh dan berpakaian sopan maupun mengenakan baju tertutup.

    Inilah yang menjadi faktor tindak pelecehan seksual kecil-kecilan menjadi besar. Banyaknya pandangan yang menyalahkan korban membuat korban maupun kau sejenisnya dipandang tidak berdaya dan haknya untuk hidup sejahtera dan berdaya tidak terpenuhi.

    Indonesia sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Mausia (HAM), untuk itu perlu adanya edukasi dan kesadaran yang tertanam pada diri siapapun sehingga hak-hak masyarakatnya terpenuhi. Sehingga keadilan gender ditegakkan dan ketidakadilan gender dimusnahkan.

    Tidak hanya tentang kekerasan saja, namun juga dengan marginalisasi (salah satu gender dipinggirkan dan tidak dianggap setara), subordinasi (anggapan bahwa perempuan itu irrasiona atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin), stereotipe (pelabelan, contohnya kepada perempuan yang menjadi korban pelecehan), dan beban ganda ( tidak hanya dituntut untuk mencari pekerjaan, namun juga segala urusan rumah tangga menjadi bebannya).

    Itulah bias gender yang terjadi di Indonesia dan masih menjadi tanggung jawab kita sebagai warga Indonesia untuk memberantasnya. Dimulai dari diri sendiri, perlahan bias gender akan terminimalisir.

    MARI TEGAKKAN HAM DI INDONESIA!

    Penulis: Nabilah Nada Asyifa. Mahasiswa Program Studi Tadris Matematika UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

  • Pameran Jaladara Art Exhibition: Eksplorasi Ekspresi Perempuan di Museum Kartini Jepara

    Pameran Jaladara Art Exhibition: Eksplorasi Ekspresi Perempuan di Museum Kartini Jepara

    Tuturmedia.com, Jepara – Museum Kartini, Desa Panggang, Kecamatan Jepara, Jepara, menjadi saksi pameran instalasi seni yang menggambarkan ekspresi dan gagasan perempuan. Dalam Jaladara Art Exhibition bertema “about us,” ruang ini menjadi cermin realitas sosial dan ketidaksetaraan posisi perempuan, khususnya di Kabupaten Jepara.

    Salah satu karya menarik dalam pameran ini adalah “Pseudo empowerment” karya Anis Machfudoh, seorang seniman perempuan yang turut berkontribusi dalam Jaladara Art Exhibition.

    Melalui instalasi seninya, Anis ingin menyoroti pemberdayaan semu yang belum diimbangi kesadaran terhadap kesetaraan gender. Dalam karyanya, Anis mengilustrasikan beban ganda yang masih dihadapi oleh perempuan, terutama yang terkungkung dalam tugas domestik.

    “Saya melihat beban yang begitu besar terhadap perempuan yang diilustrasikan dalam karya ini,” ungkap Anis, Jumat malam, 22 Desember 2023.

    Pameran ini tidak hanya menjadi wadah ekspresi seniman perempuan tetapi juga menciptakan ruang inklusif bagi mereka.
    “Teman-teman bisa berkeasi tanpa rasa takut, khawatir dengan keterlibatan laki-laki,” terang penggerak Jaladara colectiva ini.

    Puluhan pengunjung, dari berbagai rentang usia, terlihat menikmati 34 karya seni rupa, lukisan, dan karya kontemporer dari 14 seniman perempuan Jepara.

    Muchamad Zaini, seorang pengunjung asal Kudus, menyatakan bahwa Jaladara berhasil menyuguhkan wacana perempuan sebagai subjek kreatif di Museum Kartini. Karena seringkali perempuan hanya dijadikan sebagai objek dalam karya seni.

    “Tetapi di sini, perempuan sudah menjadi subjek untuk berkarya, menyuarakan ekspresinya,” kata Zaini.

    (Red)

  • Pameran Seni Jaladara, Eksibisi Pertama Seniman Perempuan di Jepara

    Pameran Seni Jaladara, Eksibisi Pertama Seniman Perempuan di Jepara

    Tuturmedia.com, Jepara – Pameran Seni Jaladara mencatat sejarah sebagai eksibisi seni perdana yang diselenggarakan oleh seniman perempuan di Jepara. Berlangsung di Museum RA Kartini Jepara selama tiga hari, dari Jumat hingga Minggu, 22-24 Desember 2023.

    Pameran ini merupakan gerakan bersama untuk mengangkat seniman perempuan di Jepara. Bertajuk “about us,” pameran ini bertujuan untuk menghargai dan memberikan ruang kreatif, terutama bagi seniman perempuan muda di kota ukir terkenal tersebut.

    Linda Natalia, Ketua Panitia Jaladara Art Exhibition, menyatakan bahwa apresiasi terhadap seniman perempuan masih kurang. Seringkali dianggap sebagai pelengkap atau membantu seniman pria, kontribusi seniman perempuan kurang dihargai, dengan perhatian yang kurang pada usaha kreatif mereka.

    Linda menekankan bahwa seniman perempuan memiliki potensi dan kemampuan artistik yang besar, sebanding dengan rekan-rekan pria mereka.

    “Selama ini, mungkin perempuan kurang mendapat ruang, potensi mereka dipendam dan tidak ada yang mengapresiasi karya mereka,” kata Linda, Jumat malam 22 Desember 2023.

    Harapannya adalah agar Pameran Seni Jaladara menjadi platform bagi perempuan Jepara untuk mengembangkan potensi mereka dan menciptakan karya-karya yang luar biasa.

    “Harapan kami setelah ini semakin banyak perempuan yang mau memperjuangkan hak dan karyanya, para seniman perempuan lebih diperhatikan didampingi dan diapresiasi setinggi-tingginya,” harapnya.

    Sementara itu, Muh Eko Budiyyono, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jepara, memberikan apresiasi atas Pameran Seni Jaladara yang diselenggarakan oleh seniman perempuan di Jepara.

    Ia menekankan perlunya menyebarkan semangat untuk meningkatkan perempuan di Jepara melalui pameran seni, terutama setelah pengakuan Jepara atas Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional.

    “Spirit dan patriotisme berfungsi sebagai pendorong dan memiliki efek domino pada tindakan. Semangat ini dapat menular kepada semua perempuan,” ungkap Eko.

    Ia mendorong perempuan untuk berekspresi dan berkarya, dengan harapan Jaladara dapat memberdayakan dan meningkatkan status perempuan.

    “Gender selalu kita pantau. Pemda Jepara sudah sangat mendukung. Semoga semakin berkembang dan terkenal, menampung ekspresi, seni dan apresiasi bagi seniman perempuan,” tambahnya.

    (Red)