Siswa Kudus Viral Tolak MBG, Pihak Sekolah Beri Respons

Kudus491 Dilihat

KUDUS – Kasus seorang siswa SMK di Kabupaten Kudus yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui surat terbuka menjadi sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, pihak sekolah menegaskan pentingnya kebebasan berpendapat yang disertai dengan rasa tanggung jawab.

Kepala SMK NU Miftahul Falah, Tri Lestari, membenarkan bahwa pelaku aksi tersebut adalah murid di sekolahnya. Ia mengaku baru mengetahui kabar tersebut saat sedang berada di luar daerah untuk menghadiri kegiatan dinas.

“Saya mendapat informasi dari pengurus sekolah bahwa ada siswa yang membuat surat terbuka di Instagram. Setelah saya telusuri dan memanggil yang bersangkutan, anaknya mengakui,” ujarnya.

Tri menjelaskan, pihak sekolah tidak melarang siswa untuk mengemukakan aspirasi. Namun, ia menekankan agar penyampaian pendapat dilakukan dengan bijak dan tidak mencatut nama institusi jika itu murni merupakan sikap pribadi.

“Silakan menyuarakan pendapat, tetapi harus hati-hati. Jangan sampai melibatkan nama sekolah jika itu adalah sikap pribadi,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, sejak unggahan tersebut viral, banyak pihak yang menghubungi sekolah untuk meminta klarifikasi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan di ruang publik memiliki dampak luas, tidak hanya bagi individu tetapi juga lembaga pendidikan.

Siswa yang dimaksud adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa kelas XI Desain Komunikasi Visual (DKV). Surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto itu berisi penolakan dirinya menerima MBG dan usulan agar anggarannya dialihkan untuk kesejahteraan guru.

Unggahan di akun Instagram pribadinya itu mendapat perhatian besar dari warganet. Ribuan like dan ratusan komentar bermunculan, sebagian besar mendukung kepedulian Arsya terhadap nasib pendidik.

Dalam suratnya, Arsya menyoroti kondisi guru, khususnya tenaga honorer, yang dinilai belum sejahtera. Baginya, perhatian terhadap guru adalah kunci meningkatkan kualitas pendidikan.

“Jika memungkinkan, dana yang seharusnya untuk saya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru,” tulisnya.

Ia juga memperkirakan nilai manfaat MBG yang diterimanya selama bersekolah mencapai sekitar Rp6,75 juta. Menurutnya, jumlah tersebut mungkin tidak terlalu berarti baginya, namun akan sangat bermakna jika diberikan sebagai apresiasi kepada guru.

Tri menegaskan, sikap tersebut adalah pilihan pribadi siswa yang bersangkutan. Ia memastikan hanya Arsya yang menolak, sementara siswa lainnya tetap mengikuti program seperti biasa.

“Yang menolak hanya dia. Yang lain menerima seperti biasa,” jelasnya.

Dari pengamatan sekolah, Arsya memang sudah beberapa kali tidak memakan makanan program MBG, bahkan saat ditawarkan pun ia menolak dengan alasan sudah kenyang.

Sempat ada permintaan dari sekolah agar unggahan tersebut diturunkan, namun siswa memilih mempertahankannya karena merasa aspirasinya didengar oleh publik.

“Dia merasa bersyukur karena banyak yang merespons. Artinya suaranya didengar,” kata Tri.

Lebih jauh, Tri memuji potensi yang dimiliki siswa tersebut. Selain dikenal cerdas dan berprestasi, Arsya juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar sekolah, termasuk kegiatan peliputan di Yogyakarta.

“Anaknya kritis dan sering juara. Itu hal yang baik, tinggal diarahkan agar cara menyampaikan pendapatnya lebih tepat,” pungkasnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *