SEMARANG — Puncak Festival HARDIKNAS 2026 yang diinisiasi oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) UIN Walisongo Semarang menjadi saksi lahirnya dua karya literasi kolektif mahasiswa. Buku berjudul Pendidikan Setengah Jalan dan Pendidikan di Meja Makan resmi diluncurkan di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (6/5/2026).
Peresmian ditandai secara simbolis melalui pembukaan visual sampul buku di hadapan ratusan pasang mata peserta dan tamu undangan yang hadir. Agenda ini menjadi penanda penting bahwa mahasiswa FTIK tidak hanya bertindak sebagai penikmat akademik, melainkan agen kritis yang responsif terhadap karut-marut dunia pendidikan di Indonesia.
Buku kedua ini merupakan keluaran konkret dari program “Nulis Bareng DEMA FTIK UIN Walisongo” yang dikerjakan dalam penulisan dua gelombang ( batch ).
-
Pendidikan Setengah Jalan : Buku ini merupakan antologi artikel opini dan esai ilmiah-populer yang memuat kritik tajam serta refleksi teoritis mahasiswa terhadap arah kebijakan pendidikan nasional.
-
Pendidikan di Meja Makan : Buku ini berisi kritik sosial melalui pendekatan sastrawi, berupa kumpulan cerita pendek (cerpen) dengan narasi yang memotret realitas domestik masyarakat jelata dalam mengakses pendidikan.
Pemilihan tema-tema tersebut didasari oleh kegelisahan kolektif siswa melihat sektor pendidikan yang sering dipandang sebelah mata dan dikesampingkan dari skala prioritas pembangunan. Melalui rangkaian kata, mereka mencoba menawarkan perspektif alternatif sekaligus menyentil pemangku kepentingan.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi intelektual, panitia memberikan penghargaan kepada penulis terbaik dari masing-masing angkatan . Muchammad Ulin Nuha dinobatkan sebagai penulis terbaik pada Batch 1 (kontributor buku Pendidikan Setengah Jalan ), sementara Muhammad In’am At Taqi berhasil meraih predikat penulis terbaik pada Batch 2 (kontributor buku Pendidikan di Meja Makan ).
Proses kuras hingga penerbitan kedua buku ini didampingi langsung oleh Muhammad Syafik Yunensa, Direktur Penerbit Digdaya Book. Syafik mengapresiasi konsistensi tinggi mahasiswa FTIK yang mampu mendobrak stereotip rendahnya budaya membaca dan menulis di kalangan Gen-Z.
“Literasi bukan sekedar urusan merangkai kata di atas kertas, melainkan tentang bagaimana kita membangun kesadaran berpikir kritis dan memiliki keberanian moral untuk menyampaikan gagasan tersebut kepada masyarakat,” tegas Syafik dalam orasi literasinya.
Suasana peluncuran berlangsung hangat dan dipenuhi antusiasme. Banyak peserta yang langsung berburu buku dan mengabadikan momen-momen perilisan tersebut, mengingat isu yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari sebagai mahasiswa keguruan.
Melalui manifesto literasi ini, DEMA FTIK UIN Walisongo berharap iklim akademis dan budaya menulis di lingkungan kampus terus berumur panjang. Penerbitan ini bukan sekadar portofolio organisasi, melainkan investasi jangka panjang untuk membiasakan siswa berpikir kritis, berani bersuara, dan menjadi embrio lahirnya generasi intelektual organik yang peduli pada masa depan pendidikan Indonesia.
