Kategori: Demak

  • Tari Tradisional Siswa SMPN 3 Wedung Sambut Delegasi Wetlands International

    Tari Tradisional Siswa SMPN 3 Wedung Sambut Delegasi Wetlands International

    DEMAK – Kunjungan pimpinan Wetlands International dari berbagai negara ke Desa Wedung, Kabupaten Demak, disambut dengan pertunjukan tari tradisional oleh murid-murid SMP Negeri 3 Wedung. Penampilan tersebut menjadi bagian dari kegiatan konservasi pesisir yang melibatkan unsur pendidikan dan masyarakat.

    Sejumlah siswi SMPN 3 Wedung tampil membawakan tarian tradisional dengan gerakan luwes dan penuh semangat. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi para delegasi internasional, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan kekayaan budaya lokal.

    Kepala SMP Negeri 3 Wedung, Heru Rahwiyanto, menyampaikan bahwa kesempatan tersebut menjadi wadah bagi para murid untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan budaya daerah kepada tamu dari mancanegara.

    “Melalui penampilan tari tradisional ini, kami ingin memperkenalkan budaya lokal kepada para tamu sekaligus memberikan ruang bagi murid untuk menunjukkan kreativitasnya. Kami juga berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian siswa terhadap pelestarian lingkungan pesisir,” ujar Heru.

    Ia menjelaskan, keikutsertaan sekolah dalam program konservasi memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, pembelajaran mengenai lingkungan perlu diterapkan melalui aktivitas nyata, tidak terbatas pada materi yang disampaikan di ruang kelas.

    Kegiatan konservasi tersebut diinisiasi oleh Wetlands International bersama Kelompok Tani Mangrove Onggojoyo Jaya di Desa Wedung. SMP Negeri 3 Wedung menjadi salah satu lokasi kegiatan yang memadukan edukasi pelestarian ekosistem pesisir dengan partisipasi generasi muda.

    “Kehadiran pimpinan Wetlands International dari berbagai negara turut memberikan motivasi bagi warga sekolah untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Apresiasi terhadap penampilan murid juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah,” tukasnya.

    Selain memperkenalkan kesenian daerah, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir, khususnya kawasan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

    Kerja sama antara Wetlands International, Kelompok Tani Mangrove Onggojoyo Jaya, pihak sekolah, dan masyarakat diharapkan dapat terus dikembangkan. Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman mengenai konservasi sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.

    “Bahkan juga sekaligus mendorong peran generasi muda dalam menjaga alam,” terangnya.

    Perpaduan pertunjukan seni tradisional dan edukasi lingkungan tersebut menjadi upaya untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian kawasan pesisir Demak.

    “Harapannya, generasi muda dapat tumbuh menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan agar tetap hijau dan lestari bagi masa depan,” pungkasnya.

    (red)

  • Video Karaoke Lama di Demak Kembali Viral, Pemilik Tolak Penertiban dengan Analogi Surga dan Neraka

    DEMAK – Video lama yang merekam penertiban tempat karaoke liar di Kabupaten Demak kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pria bertopi merah terlibat adu argumen dengan petugas Satpol PP yang hendak menertibkan tempat karaoke miliknya.

    Pria yang disebut bernama Muklis itu tampak menolak penutupan usaha karaoke. Dalam perdebatan tersebut, ia menyampaikan argumentasi yang tidak biasa dengan mengibaratkan keberadaan tempat karaoke melalui konsep keseimbangan antara matahari dan rembulan hingga surga dan neraka.

    “Ada rembulan, ada matahari. Ada surga, ada neraka. Lah kalau kok suruh orang baik semua, ya sudah kiamat sejak dulu toh, Pak? Lah nerakanya yang ngisi siapa?” katanya dalam rekaman yang kini kembali viral.

    Argumentasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pandangan bahwa kehidupan membutuhkan keseimbangan antara orang baik dan orang yang dianggap tidak baik.

    “Orang jelek semua, ya sudah kiamat sejak dulu. Ya toh, harus ada keseimbangan. Begitu toh, Pak?” ujarnya.

    Dalam rekaman itu, petugas kemudian memastikan sikap pria tersebut terkait rencana penutupan tempat karaoke.

    “Berarti ini jenengan menolak?” tanya petugas dalam video.

    Dengan tegas, pria tersebut menjawab, “Ya menolak!”

    Muklis kemudian menjelaskan alasan dirinya menolak penertiban. Menurutnya, tempat usaha yang hendak ditutup tersebut merupakan hak miliknya.

    “Alasannya karena ini kan hak milik saya,” ujarnya.

    Kemunculan kembali video tersebut memunculkan berbagai tanggapan dari warganet. Selain menyoroti perdebatan antara pengelola karaoke dan aparat, sejumlah pengguna media sosial juga mempertanyakan kapan peristiwa tersebut sebenarnya terjadi.

    Kepastian mengenai waktu kejadian kemudian diperoleh setelah dilakukan konfirmasi kepada jajaran Satpol PP Kabupaten Demak. Plt Kepala Satpol PP Kabupaten Demak, Sukiyono, membenarkan bahwa video tersebut memang merupakan dokumentasi penertiban karaoke liar di Demak.

    Namun, peristiwa dalam video bukan kejadian baru. Menurut Sukiyono, rekaman tersebut dibuat sekitar satu dekade lalu.

    “Nggih (iya), Mas. Itu video lama dan mungkin sepuluh tahun yang lalu. Bisa dilihat di Instagram Satpol PP Demak ataupun TikTok Satpol PP Demak,” ujar Sukiyono, Minggu (4/10/2026).

    Sukiyono juga membenarkan identitas pria dalam video tersebut. Ia menyebut pria itu bernama Muklis dan pada masa tersebut dikenal kerap melakukan penolakan ketika aparat melakukan penertiban karaoke liar.

    “Dalam video itu kejadiannya 10 tahun lalu, namanya Muklis dan dia sering demo apabila ada penertiban karaoke liar. Saat itu saya belum menjabat sebagai Kasatpol PP Demak,” jelasnya.

    Meski rekaman yang viral kembali tersebut merupakan video lama, persoalan karaoke liar masih menjadi perhatian Satpol PP Kabupaten Demak. Penertiban terhadap tempat karaoke yang diduga beroperasi tanpa izin tetap dilakukan oleh aparat.

    Sukiyono mengatakan, usaha karaoke yang terbukti tidak mengantongi izin dan tetap beroperasi akan ditindak sesuai kewenangan. Selain penyegelan, aparat juga melakukan pemantauan terhadap lokasi yang telah ditertibkan agar tidak kembali digunakan.

    “Bagi karaoke liar yang ketahuan buka secara diam-diam, kami sita semua, baik itu miras, peralatan karaoke maupun perlengkapan penunjang lainnya sebagai barang bukti,” tegasnya.

    Menurutnya, penindakan dapat berlanjut ke proses hukum apabila pemilik usaha berulang kali kedapatan kembali menjalankan aktivitas karaoke setelah dilakukan penertiban. Perkara tersebut dapat dilimpahkan ke pengadilan.

    Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memberikan efek jera sekaligus mencegah tempat karaoke yang telah ditertibkan kembali beroperasi secara sembunyi-sembunyi.

    Sementara itu, tindakan terhadap bangunan karaoke juga mempertimbangkan status lahan yang digunakan. Untuk bangunan yang berdiri di atas tanah negara, aparat dapat mengambil tindakan pembongkaran.

    “Kalau bangunan karaoke liar lokasinya berada di atas tanah negara, kita robohkan. Namun apabila bangunannya tidak berizin dan berada di tanah pribadi, tetap kita lakukan penyegelan dan menutup usahanya sesuai kewenangan kami,” tandasnya.

    Dengan demikian, video yang kembali viral di media sosial tersebut tidak berkaitan dengan razia karaoke terbaru di Demak.

    Rekaman itu merupakan dokumentasi penertiban sekitar 10 tahun lalu yang kembali beredar dan menarik perhatian publik karena perdebatan antara pengelola karaoke dan petugas Satpol PP.

    (red)

  • Haul Syekh Abdul Qodir di Pendopo Demak Diikuti 500 Jamaah

    DEMAK – Sekitar 500 jamaah dari sejumlah daerah menghadiri Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Demak, Jumat malam (2/10/2026).

    Acara yang diinisiasi Forum Santri Karangawen (FKSAK) tersebut diisi dengan pembacaan manaqib dan Maulidur Rasul. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada ulama, kegiatan itu menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarmajamaah.

    Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda, KH Zainal Arifin Ma’shum, menyampaikan Mauidhoh Hasanah. Ia menguraikan lima sifat yang dapat menjadi teladan, dengan mengambil pelajaran dari karakter masa kecil yang kemudian dikaitkan dengan sifat seorang wali.

    Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya menjaga kebersihan hati dengan menjauhkan diri dari dendam, kebencian, dan iri kepada orang lain. Selain itu, umat juga diajak memiliki sikap tawakal dalam persoalan rezeki serta tidak menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan utama kehidupan.

    “Keempat, memiliki kepolosan dan kejujuran dalam perilaku tanpa kepura-puraan. Kelima, mempunyai hati yang lembut, mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah SWT serta memiliki rasa takut dan rindu kepada Sang Pencipta,” bebernya.

    Ketua panitia yang juga Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, menyampaikan bahwa jumlah peserta haul mengalami peningkatan. Jika pada kegiatan sebelumnya jamaah yang hadir sekitar 300 orang, kali ini jumlahnya mencapai 500 jamaah.

    “Kalau kemarin Hasanatain 1 sampai 30 dengan gambaran yang hadir 300, sekarang sampai 500,” ujarnya.

    Menurut Badruddin, peserta haul tidak hanya berasal dari wilayah Demak. Jamaah dari sejumlah daerah lain turut hadir, seperti Jakarta, Jawa Timur hingga Jambi.

    Peningkatan jumlah jamaah tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu indikator berkembangnya Jam’iyyah Hasanatain sekaligus menjadi kesempatan untuk memperluas silaturahmi. Ia juga mengajak santri dan masyarakat untuk mempertahankan kerukunan serta soliditas dalam berbagai kegiatan keagamaan.

    Badruddin turut berharap dukungan dan doa dari para jamaah dapat menjadi penguat bagi Pemerintah Kabupaten Demak dalam menjalankan amanah serta melaksanakan pembangunan daerah. Masyarakat juga diajak menjaga nilai-nilai peninggalan Wali Songo yang telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan di Demak.

    Bupati Demak Eisti’anah turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan haul. Menurutnya, berkumpulnya ulama, santri dan jamaah menjadi energi positif bagi pemerintah daerah dalam menjalankan tugas dan amanah kepada masyarakat.

    Ia berharap dukungan serta doa dari masyarakat dapat membantu pemerintah daerah memperoleh kemudahan dan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan.

    “Dengan ikhtiar dan doa, insyaallah selalu mendapat pertolongan dari Allah SWT,” kata Eisti’anah.

    Apresiasi juga disampaikan Jam’iyyah Hasanatain 4, Sodikin. Ia melihat tingginya antusiasme jamaah sebagai tanda bahwa kegiatan tersebut semakin diterima masyarakat. Haul dinilai bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat persaudaraan sekaligus mempertahankan tradisi keagamaan.

    “Kami bersyukur kegiatan ini dapat mempertemukan jamaah dari berbagai daerah. Semoga kebersamaan ini terus terjaga, semakin banyak masyarakat yang ikut dalam kegiatan positif, dan nilai-nilai keteladanan dari para ulama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Sodikin.

    Sodikin berharap Jam’iyyah Hasanatain dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Menurutnya, kekompakan jamaah merupakan salah satu kekuatan untuk mempertahankan kerukunan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

    Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan pembacaan manaqib dan Maulidur Rasul. Haul tersebut diharapkan dapat terus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat silaturahmi, mengambil keteladanan dari para ulama, serta mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Demak.

    (red)

  • SMPN 2 Mranggen Dorong Semangat Olahraga dan Pembinaan Prestasi

    DEMAK – SMP Negeri 2 Mranggen, Kabupaten Demak, memanfaatkan momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) untuk menggelorakan semangat berolahraga di lingkungan sekolah. Beragam kegiatan digelar sebagai upaya meningkatkan kebugaran sekaligus menanamkan kecintaan terhadap olahraga kepada para peserta didik.

    Rangkaian peringatan Haornas tersebut dikoordinasikan oleh guru olahraga Pujo Hartono, S.Pd., bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ali Masyhar, S.Pd.

    Kepala SMPN 2 Mranggen, Heri Sarwanto, mengatakan olahraga memiliki manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kondisi fisik. Aktivitas olahraga juga dapat menjadi media untuk membentuk karakter siswa, termasuk kedisiplinan, kebersamaan, serta kekompakan.

    “Melalui olahraga, kebersamaan dan kekompakan bisa didapatkan. Ini untuk mendorong peserta didik agar rukun dengan teman dan bersama-sama mengangkat nama baik sekolah,” kata Heri.

    Semarak Haornas di SMPN 2 Mranggen juga ditandai dengan penyerahan peluit secara simbolis oleh kepala sekolah kepada empat guru olahraga. Peluit tersebut menjadi simbol dimulainya semangat sekolah dalam mengembangkan aktivitas olahraga secara lebih optimal.

    Heri menjelaskan, peluit merupakan salah satu perlengkapan yang tidak terpisahkan dari pertandingan olahraga. Fungsinya antara lain sebagai penanda dimulainya, dihentikannya, maupun berakhirnya sebuah pertandingan.

    “Di dalam dunia olahraga, peluit memiliki peran penting untuk mengawali, mengakhiri, dan menghentikan pertandingan saat ada hal-hal penting,” ujarnya.

    Menurut Heri, peringatan Haornas tidak semestinya hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan. Semangat yang dibangun melalui momentum tersebut diharapkan dapat berlanjut menjadi kebiasaan berolahraga dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

    Karena itu, sekolah juga mengarahkan kegiatan olahraga sebagai bagian dari pembinaan prestasi siswa. Peserta didik yang mempunyai minat serta kemampuan di bidang olahraga diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya melalui latihan secara terarah.

    Pembinaan tersebut diharapkan dapat melahirkan bibit-bibit atlet dari SMPN 2 Mranggen yang mampu menunjukkan prestasi di berbagai jenjang kompetisi. Targetnya tidak hanya sebatas tingkat Kabupaten Demak, tetapi juga hingga tingkat provinsi dan nasional.

    “Harapan lebih jauh adalah lahirnya siswa-siswa yang berprestasi tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional,” ungkapnya.

    Heri menambahkan, pencapaian prestasi membutuhkan dukungan dari seluruh elemen sekolah. Peran guru, siswa, serta warga sekolah secara keseluruhan diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas olahraga dan pengembangan potensi peserta didik.

    Selain meningkatkan kemampuan fisik dan keterampilan olahraga, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar mengenai sportivitas, kerja sama, dan tanggung jawab.

    Dengan demikian, peringatan Haornas di SMPN 2 Mranggen diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya olahraga di sekolah dan mendorong siswa agar lebih aktif menjaga kesehatan serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

    “Dengan tubuh yang sehat dan semangat kebersamaan yang kuat, siswa diharapkan semakin siap mengikuti proses pembelajaran maupun mengembangkan prestasi di bidang yang diminati,” pungkasnya.

    (red)

  • Kemarau Ekstrem, Petani di Demak Rogoh Rp50 Juta untuk Pertahankan Padi

    DEMAK – Kemarau ekstrem membuat petani di Kabupaten Demak harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan tanaman padi. Minimnya ketersediaan air pada musim tanam ketiga (MT 3) membuat ongkos produksi meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dibanding kondisi normal.

    Subkhi, petani asal Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Ia menggarap sawah sewaan seluas sekitar 1.000 meter persegi yang saat ini ditanami padi berumur kurang lebih satu bulan.

    Terbatasnya sumber air membuat Subkhi harus mencari alternatif agar kebutuhan pengairan tanaman tetap terpenuhi. Air buangan dari permukiman, perumnas, dan pondok ditampung terlebih dahulu di kubangan yang dibuat sendiri. Air tersebut kemudian dipompa menuju lahan pertanian.

    Untuk mengalirkan air ke sawah, ia juga harus mengoperasikan mesin diesel. Kondisi tersebut bahkan membuatnya terkadang memilih bermalam di sawah demi memastikan tanaman memperoleh pasokan air.

    “Masalahnya air, kurang. Air buangan dari kampung, perumnas dan pondok saya tampung di kubangan. Kalau normal sekitar Rp20 juta sudah termasuk pupuk sampai panen. Sekarang mulai tandur dan memupuk saja sudah Rp40 juta, kalau ditotal dengan tenaga dan lainnya sekitar Rp50 juta lebih,” katanya.

    Menurut Subkhi, persoalan pengairan semakin berat akibat suhu udara yang sangat panas. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian tanaman padi mengalami kerusakan karena tidak memperoleh air secara optimal.

    Hal serupa dialami Ahmad Husein, petani lainnya. Ia harus mengatur penggunaan sumber air secara bergiliran dengan petani lain agar debit air tidak cepat habis.

    “Kalau menyedot bersama-sama, airnya cepat habis. Kalau bergantian dua atau tiga orang masih lancar,” ujarnya.

    Selain persoalan air, keterbatasan modal turut menjadi kendala bagi petani. Husein mengaku harus berutang ke toko pertanian untuk memenuhi kebutuhan pupuk. Bahkan, tidak seluruh lahan yang digarapnya dapat ditanami padi lantaran keterbatasan pasokan air.

    “Kalau ongkos sekarang lebih besar karena tambah bensin. Saya tidak punya uang, kalau mau beli pupuk ya minta dulu ke toko atau utang,” katanya.

    Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak melakukan sejumlah upaya untuk mencegah tanaman padi mengalami puso. Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto menyebut sekitar 1.200 hektare lahan pertanian sempat terdampak kekeringan dan berada dalam ancaman gagal panen.

    Pemkab Demak kemudian berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan kementerian terkait untuk mengalirkan air dari saluran irigasi Sungai Tuntang. Langkah tersebut diharapkan dapat menyelamatkan sebagian besar tanaman yang terdampak.

    “Dari sekitar 1.200 hektare yang terdampak, sekitar 1.100 hektare tanaman padi mudah-mudahan bisa terselamatkan,” kata Akhmad.

    Sementara itu, sekitar 100 hektare lahan yang belum terjangkau jaringan irigasi, khususnya di Kecamatan Karangtengah dan Guntur, diupayakan memperoleh pasokan air menggunakan pompa.

    Bantuan pompa juga disiapkan untuk lahan palawija. Selain penanganan di sektor pertanian, Pemkab Demak turut menyiapkan bantuan pangan bagi warga yang terdampak kekeringan.

    Distribusi beras dilakukan melalui pemerintah desa, dengan jumlah rata-rata satu ton per desa serta sekitar 30 kilogram untuk setiap keluarga penerima manfaat.

    “Langkah tersebut dilakukan agar ancaman kemarau tidak hanya ditekan pada sektor pertanian, tetapi juga tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat Demak,” pungkasnya.

    (red)

  • Gelar Peringatan Maulid Nabi dan Malam Perpisahan, Mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 Karangtowo Hadirkan Kiai dari Mranggen

    DEMAK— Suasana khidmat dan penuh keharuan menyelimuti Halaman TPQ Darussalam, Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak pada Rabu (2/9/2026) malam. Ratusan warga bersama tokoh masyarakat dan jajaran pemerintah desa berbaur menjadi satu dalam acara Malam Perpisahan dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terpadu (MIT) 22 Posko 73.

    Malam puncak pengabdian mahasiswa tersebut menghadirkan penceramah terkemuka asal Mranggen, Demak, yakni Kiai Nahdlatul Ulum. Kehadiran beliau menjadi magnet tersendiri bagi warga Desa Karangtowo yang antusias memadati lokasi acara sejak usai salat Isya.

    Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan sholawat nabi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Muhammad Miftahul Khoir, Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 73. Dalam penyampaiannya, Miftah mewakili seluruh rekan-rekan mahasiswa menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf setinggi-tingginya kepada seluruh lapisan masyarakat Karangtowo.

    “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehangatan serta bimbingan yang diberikan oleh warga Desa Karangtowo selama kami berproses di sini. Pengalaman serta kebersamaan selama masa KKN ini menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga bagi kami,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan Pemerintah Desa Karangtowo, Pak Subakir, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pengabdian yang telah ditunjukkan oleh para mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 selama bertugas di desa mereka.

    “Kami atas nama pemerintah desa dan warga mengucapkan terima kasih atas dedikasi adik-adik mahasiswa. Kehadiran kalian tidak hanya membantu kegiatan kemasyarakatan, tetapi juga membawa energi positif dan semangat baru bagi putra-putri di desa kami,” tutur Pak Subakir dalam sambutannya.

    Suasana haru tak terelakkan saat panitia menayangkan video profil desa dan after movie catatan perjalanan KKN yang digarap oleh mahasiswa. Tayangan dokumenter tersebut merangkum berbagai momen pengabdian, program kerja sosial, pengajaran agama, hingga keakraban harian mahasiswa bersama warga tempatan. Senyum gembira hingga tetesan air mata haru mewarnai wajah para warga yang menyaksikan rekaman jejak kebersamaan tersebut.

    Tidak hanya kenangan manis, momen malam perpisahan ini juga dimanfaatkan untuk memberikan penghargaan bagi anak-anak desa melalui penyerahan hadiah Festival Anak Sholeh. Berbagai perlombaan keagamaan yang telah digelar beberapa hari sebelumnya diserahterimakan malam itu di hadapan para orang tua murid. Kebahagiaan memancar dari wajah para pemenang saat menerima hadiah dari mahasiswa KKN dan tokoh masyarakat.

    Memasuki acara inti, Kiai Nahdlatul Ulum menyampaikan mauidhoh hasanah di hadapan para jamaah. Dalam ceramahnya, pengasuh asal Mranggen tersebut memberikan petuah langsung terkait pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW serta menjaga persaudaraan sesama umat Islam.

    “Peringatan Maulid Nabi ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meniru akhlak mulia Kanjeng Nabi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga silaturahmi dan kepedulian sosial di masyarakat,” tutur Kiai Nahdlatul Ulum dalam ceramahnya.

    Beliau juga memberikan pesan khusus kepada para mahasiswa KKN yang akan mengakhiri masa pengabdiannya di Desa Karangtowo.

    “Untuk adik-adik mahasiswa KKN Posko 73, jadikanlah pengalaman berbaur dengan warga Karangtowo ini sebagai bekal hidup. Ilmu akademis yang dipadukan dengan pemahaman realitas masyarakat akan membentuk kalian menjadi insan yang berakhlaqul karimah dan bermanfaat bagi bangsa serta agama. Jangan putus tali silaturahmi walau masa KKN telah usai,” tambah beliau.

    Rangkaian acara yang penuh makna tersebut dipungkas dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Kiai Nahdlatul Ulum, memohon keberkahan untuk kemajuan Desa Karangtowo serta kelancaran studi bagi para mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73.

    Sebagai penutup silaturahmi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama (kembul bujana) antara mahasiswa, penceramah, perwakilan desa, dan warga setempat. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol eratnya rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang terjalin manis hingga akhir masa pengabdian.

    Penulis: Vina Lestari

  • Gandeng Ibu PKK Karangtowo, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Sulap Lahan Kosong Jadi Taman Desa

    DEMAK– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terpadu (MIT) ke-22 Posko 73 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tahun 2026 melakukan aksi nyata kepedulian lingkungan. Mereka bergandengan tangan dengan pengurus dan anggota Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, untuk menyulap lahan kosong menjadi taman desa yang asri dan berdaya guna pada selasa, 1 september 2026.

    Kegiatan kolaboratif ini menjadi salah satu program kerja unggulan KKN MIT 22 Posko 73 UIN Walisongo dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup. Penataan taman ini difokuskan pada pemanfaatan lahan terbengkalai di depan balai desa agar kembali bersih, indah, serta memberikan manfaat kesehatan maupun estetika bagi warga setempat

    Muhammad Miftahul Khoir, Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 73 UIN Walisongo Semarang mengungkapkan bahwa inisiatif pembuatan taman ini lahir dari hasil pemetaan potensi dan kebutuhan lingkungan di Desa Karangtowo. Menurutnya, kesadaran menjaga kebersihan dan kesegaran lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan konkret yang melibatkan peran aktif masyarakat lokal.

    “Kami melihat ada potensi lahan kosong yang sebenarnya sangat strategis jika dikelola dengan baik. Melalui ruang ini, kami berinisiatif menggandeng Ibu-Ibu PKK Desa Karangtowo untuk menciptakan sebuah taman hijau. Kegiatan ini bukan sekadar penataan fisik, tetapi juga ruang silaturahmi dan edukasi lingkungan antara mahasiswa dan warga,” ujarnya.

    Proses pembuatan taman diawali dengan pembersihan area dari sampah dan rumput liar. Mahasiswa KKN bersama warga bahu-membahu meratakan tanah serta membuat pembatas taman menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dan ornamen sederhana.

    Tak hanya fokus pada aspek estetika dengan menanam berbagai jenis tanaman hias seperti mawar, melati, dan pucuk merah, pembuatan taman ini juga memprioritaskan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Berbagai bibit tanaman seperti jahe, kunyit, temulawak, serai, hingga lidah buaya ditanam rapi di sudut khusus.

    Kehadiran ragam tanaman TOGA tersebut dirancang agar keberadaan taman dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh warga sekitar dalam memenuhi kebutuhan obat-obatan herbal harian.

    Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh jajaran pengurus PKK Desa Karangtowo. Endang Julianti, Ketua PKK Desa Karangtowo menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian dan kerja keras para mahasiswa UIN Walisongo yang dinilai mampu merangkul warga secara persuasif dan penuh semangat kekeluargaan.

    “Kehadiran adik-adik KKN Posko 73 membawa energi positif dan semangat baru di Desa Karangtowo. Lahan yang dulunya tampak kumuh dan tidak terawat, kini berubah menjadi sangat asri dan menyenangkan untuk dipandang. Ibu-ibu PKK sangat senang bisa terlibat langsung dari awal proses penanaman hingga penataan,” tutur Ketua PKK Desa Karangtowo.

    Ia menambahkan bahwa program kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergitas antara akademisi muda dan kader desa dalam menjaga kelestarian lingkungan pemukiman.

    Guna memastikan taman ini tetap terawat setelah masa pengabdian KKN berakhir, Posko 73 UIN Walisongo dan Ibu-Ibu PKK Desa Karangtowo juga telah menyusun jadwal perawatan berkala. Sistem piket dan pembagian tugas penyiraman serta pemupukan disepakati bersama oleh pengurus PKK dan warga sekitar.

    Melalui keberadaan taman desa ini, mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 UIN Walisongo Semarang berharap nilai-nilai kebersamaan, kepedulian lingkungan, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat perdesaan dapat terus terawat dengan baik di Desa Karangtowo, Kabupaten Demak.

    Penulis: Ulfani Salsabila

     

  • Latih Kreativitas Santri, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kenalkan Ecoprint di TPQ Darussalam Karangtowo Demak

    Demak – Dalam upaya menumbuhkan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Posko 73 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menyelenggarakan pelatihan seni cetak alami (ecoprint). Program kerja yang diprakarsai oleh Divisi Ekonomi dan Kreatif ini dipusatkan di TPQ Darussalam, Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Senin (31/8/2026).

    Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB tersebut disambut antusias oleh para santri setempat. Sebanyak 20 santri mengikuti setiap tahapan pembuatan karya seni tekstil berbahan dasar alami tersebut dengan penuh semangat.

    Seni ecoprint merupakan teknik memberi pola serta warna pada kain menggunakan bahan-bahan organik, seperti daun, bunga, batang, atau bagian tumbuhan lainnya yang mengandung pigmen alami. Melalui media kain mori dan dedaunan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar desa, para santri diajak berkreasi secara langsung menciptakan motif-motif unik sesuai dengan imajinasi mereka.

    Pelaksanaan program ini tidak hanya dimotori oleh Divisi Ekonomi dan Kreatif, tetapi juga didukung penuh oleh seluruh jajaran anggota KKN Posko 73 UIN Walisongo dari berbagai divisi. Keterlibatan aktif para mahasiswa dalam mendampingi anak-anak membuat suasana pelatihan menjadi hangat, meriah, dan interaktif.

    Koordinator Divisi Ekonomi dan Kreatif, Muhammad Zainur Rahman, menjelaskan bahwa program edukasi seni ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar baru yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bernilai edukatif serta ramah lingkungan bagi santri TPQ Darussalam.

    “Kami melihat potensi kreativitas dan semangat belajar yang sangat luar biasa dari anak-anak di Desa Karangtowo ini. Melalui pelatihan ecoprint, kami ingin mengenalkan konsep seni ramah lingkungan yang sederhana dengan memanfaatkan bahan di sekitar, namun tetap mampu mengasah keterampilan teknis serta imajinasi mereka,” ujar Zain di sela-sela kegiatan.

    Proses pelatihan diawali dengan pengenalan dasar mengenai teknik ecoprint dan jenis bahan alami yang bisa dimanfaatkan. Setelah mendapatkan penjelasan singkat dari tim mahasiswa, para santri diajak mempraktikkan metode pounding atau teknik menumbuk.

    Dalam proses ini, dedaunan disusun sedemikian rupa di atas kain, dilapisi plastik, lalu dipukul secara perlahan menggunakan palu kayu hingga zat warna alami pada daun meresap dan membentuk pola yang jelas pada serat kain.

    Rasa penasaran dan keceriaan tampak menyelimuti wajah para peserta sepanjang jalannya kegiatan. Mereka dengan tekun memilih dedaunan dengan bentuk yang beragam serta mengombinasikan letaknya di atas kain agar menghasilkan susunan visual yang menarik.

    Salah seorang santri peserta pelatihan, Aira, mengekspresikan rasa gembiranya setelah berhasil menyelesaikan karya *ecoprint* pertamanya.

    “Seru banget bisa menempel daun di kain terus dipukul-pukul sampai keluar warnanya. Ini baru pertama kali aku coba dan ternyata hasilnya bagus banget,” kata Aira gembira.

    Kesan positif senada juga disampaikan oleh Keyza. Ia mengaku senang bisa belajar dan berkreasi bersama tim mahasiswa KKN UIN Walisongo.

    “Acara sama kakak-kakak KKN selalu seru dan tidak membosankan. Aku suka sekali pas lihat bentuk dan motif daunnya berhasil nempel rapi di kain waktu plastiknya dibuka,” ungkapnya.

    Melalui penyelenggaraan pelatihan ecoprint ini, tim KKN Posko 73 UIN Walisongo Semarang berharap keterampilan yang dibagikan dapat membawa manfaat berkelanjutan. Selain menjadi sarana kegiatan positif bagi santri TPQ Darussalam Karangtowo, agenda ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran pentingnya menjaga alam dan memanfaatkannya secara kreatif sejak usia dini.

    Penulis: Zalfa Sa’diyyah Maulida

  • Ubah Limbah Jadi Cuan, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Ibu PKK Karangtowo Olah Tutup Botol

    Demak – Penumpukan sampah plastik di tingkat rumah tangga kerap menjadi persoalan lingkungan yang sulit terurai di kawasan perdesaan. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 73 menghadirkan solusi kreatif melalui pelatihan daur ulang sampah. Bertempat di Gedung Perpustakaan Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, para mahasiswa mengajak kader perempuan desa mengolah limbah anorganik menjadi barang bernilai ekonomis pada Senin (31/8/2026).

    Kegiatan pemberdayaan yang dimulai sejak pukul 15.30 WIB ini disambut hangat oleh masyarakat setempat. Sebanyak 20 anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Karangtowo memadati lokasi acara dengan penuh antusiasme. Sejak awal pembukaan, para peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap metode pengolahan limbah yang ditawarkan oleh mahasiswa.

    Tidak sekadar mendengarkan pemaparan teori di dalam ruangan, para kader PKK diajak langsung mempraktikkan alur produksi secara mandiri dan terstruktur. Tahapan pemrosesan dimulai dari memilah dan membersihkan tutup botol plastik bekas, memotongnya menjadi pecahan-pecahan kecil, hingga melelehkan material plastik tersebut menggunakan panas dari setrika pakaian. Setelah lelehan plastik terbentuk sempurna, bahan dituangkan ke dalam cetakan khusus dan dipasangi ring gantungan kunci hingga menghasilkan karya kerajinan yang estetik, kokoh, serta memiliki nilai guna tinggi.

    Pemateri kegiatan sekaligus mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 73, Zaenur Rahman, menjelaskan bahwa pemilihan limbah tutup botol berbasis jenis plastik High-Density Polyethylene (HDPE) ini didasarkan pada ketersediaannya yang sangat melimpah di lingkungan perdesaan. Selain itu, teknik pengolahannya relatif terjangkau dan mudah diserap oleh masyarakat awam tanpa memerlukan alat-alat industri yang rumit.

    “Kami sengaja memilih limbah tutup botol karena bahannya sangat gampang ditemukan di sekitar rumah dan biasanya hanya dibuang begitu saja tanpa penanganan. Padahal, jika diberi sedikit sentuhan kreativitas melalui proses pemanasan dan pencetakan, limbah tersebut bisa disulap menjadi gantungan kunci yang unik dan bernilai jual. Kami berharap keterampilan praktis ini dapat terus diteruskan oleh ibu-ibu PKK sebagai rintisan usaha kecil berbasis kelestarian lingkungan,” ujar Zaenur di sela-sela mendampingi warga.

    Apresiasi tinggi disampaikan oleh Ketua PKK Desa Karangtowo, Ibu Endang Julianti. Ia menyambut positif kejelian para mahasiswa yang telah memberikan transfer pengetahuan serta wawasan baru bagi pemberdayaan perempuan di desanya. Menurutnya, program ini terbukti membuka pola pikir masyarakat mengenai potensi ekonomi di balik sampah rumah tangga.

    “Kegiatan ini sangat membantu dalam memberikan ilmu baru bagi ibu-ibu di Karangtowo. Dari yang semula kami tidak tahu, sekarang menjadi tahu bahwa bahan bekas yang betul-betul tidak terpakai ternyata bisa diolah menjadi gantungan kunci yang sangat bermanfaat. Saya melihat ibu-ibu sangat kompak, guyub, dan senang selama mengikuti prosesnya. Pesan saya untuk warga, tetap semangat dan terus belajar agar bisa mencapai hasil yang terbaik,” tutur Endang.

    Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan penuh keakraban, terutama saat memasuki sesi pencetakan lelehan plastik. Obrolan hangat dan gelak tawa mewarnai ruangan ketika para peserta saling berdiskusi memadukan kombinasi warna-warni tutup botol untuk menciptakan motif gantungan kunci yang menarik.

    Salah satu peserta pelatihan, Ibu Puji, mengaku mendapatkan pengalaman dan inspirasi baru usai mengikuti lokakarya tersebut. Ia menilai keterampilan ini sangat potensial untuk mengisi waktu luang di rumah sekaligus menambah pendapatan keluarga.

    “Seru sekali dan ternyata prosesnya cukup mudah. Dulu pikiran kami tutup botol bekas itu hanya sampah yang tidak ada harganya sama sekali. Setelah diajari oleh adik-adik mahasiswa, ternyata bisa dilelehkan dan dicetak menjadi gantungan kunci sebagus ini. Selain bisa dipakai sendiri atau dijadikan suvenir, ini ada peluang untuk dijual saat ada pameran desa atau bazar PKK. Terima kasih banyak untuk adik-adik UIN Walisongo yang sudah telaten mengajari kami,” ungkap Puji dengan ceria.

    Melalui agenda pemberdayaan masyarakat ini, tim KKN UIN Walisongo Posko 73 berharap kesadaran ekologis warga Desa Karangtowo semakin tumbuh secara berkelanjutan. Selain mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dari pencemaran sampah plastik, keterampilan daur ulang ini diharapkan dapat memantik semangat kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) bagi komunitas perempuan di Kabupaten Demak.

    Penulis: Utari Cahya Ningsih

  • Dorong Daya Saing UMKM, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Fasilitasi Google Maps dan QRIS di Karangtowo

    Demak – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu (KKN MIT) 22 Posko 73 UIN Walisongo Semarang meluncurkan program pendampingan digitalisasi untuk mendorong daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Program edukasi ini meliputi pendampingan pendaftaran Google Maps serta fasilitasi pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi para pelaku usaha lokal.

    Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk menjawab tantangan era digital yang dihadapi oleh para pelaku usaha di tingkat desa.

    “Di era digital saat ini, visibilitas lokasi dan kemudahan transaksi menjadi kunci penting dalam memperluas jangkauan pasar. Melalui pendaftaran Google Maps dan fasilitas QRIS, kami ingin mendampingi pelaku UMKM di Desa Karangtowo agar tidak tertinggal dan siap bersaing secara lebih modern,” ujar Miftah.

    Pendampingan pendaftaran titik lokasi bisnis melalui Google Maps dilaksanakan pada Sabtu (8/8/2026) pukul 20.00 WIB bertempat di Gedung Perpustakaan Desa Karangtowo. Dalam agenda tersebut, para mahasiswa memandu warga mendaftarkan titik lokasi usaha agar lebih mudah diakses secara digital.

    Salah satu peserta, Mas Umam, mengapresiasi langkah yang diinisiasi oleh tim KKN UIN Walisongo. Menurutnya, pemetaan digital merupakan langkah awal yang krusial untuk modernisasi usaha warga desa.

    Apresiasi senada disampaikan oleh pelaku usaha setempat, Ibu Yayuk. Ia menilai pendaftaran lokasi bisnis ke dalam peta digital memberikan manfaat nyata bagi jangkauan pasar.

    “Adanya pendampingan ini sangat membantu. Sekarang lokasi usaha jadi terdaftar di Google Maps, jadi pembeli dari luar desa tidak kesulitan lagi kalau mencari alamat,” tutur Ibu Yayuk.

    Melengkapi program digitalisasi, tim KKN juga memfasilitasi pembuatan pembayaran nontunai melalui QRIS. Berbeda dengan agenda pertama, pendampingan transaksi digital ini dilaksanakan dengan metode door to door atau menyambangi rumah warga secara berangsur-angsur agar edukasi dapat disampaikan secara lebih mendalam dan personal.

    Ibu Yanah, salah satu warga yang menerima kunjungan pendampingan QRIS, menyambut positif kehadiran para mahasiswa di kediamannya.

    “Pendampingan yang datang langsung ke rumah seperti ini sangat membantu. Kami jadi lebih paham cara kerja QRIS dan tidak ragu lagi untuk mencoba transaksi nontunai,” ujar Ibu Yanah.

    Manfaat opsi pembayaran digital ini juga dirasakan oleh Ibu Islamiyah. Menurutnya, penggunaan sistem nontunai membuat proses transaksi penjualan menjadi lebih efektif dan efisien.

    “Adanya QRIS ini membuat pilihan pembayaran jadi lebih praktis. Pembeli tidak perlu bingung cari uang kembalian, dan transaksi penjualan kami juga jadi lebih terdata dengan rapi,” ungkap Ibu Islamiyah.

    Melalui integrasi lokasi usaha di Google Maps dan penyediaan opsi pembayaran nontunai via QRIS, tim KKN Posko 73 berharap para pelaku UMKM di Desa Karangtowo semakin adaptif, mandiri, dan mampu berkembang pesat di era ekonomi digital.

    Penulis: Zalfa Sa’diyyah Maulida

Exit mobile version