Bincang Pendidikan HARDIKNAS DEMA FTIK UIN Walisongo: Menggugat Arah Pendidikan yang Disetir Pasar dan Kekuasaan

Pendidikan31 Dilihat

SEMARANG — Sesi Educational Talk dalam rangkaian Festival HARDIKNAS 2026 o leh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) UIN Walisongo Semarang menjelma menjadi ruang gugatan terbuka. Diskusi yang berlangsung di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo pada Selasa (6/5/2026) ini secara tajam membedah rapor merah dan arah masa depan pendidikan nasional.

Mengangkat tema provokatif “Pendidikan Indonesia: Gagal atau Kita yang Terlalu Sabar?” , forum intelektual ini menghadirkan aktivisme sekaligus pencipta konten pendidikan, Andrian Abdurrahman, sebagai narasumber utama. Dipandu oleh moderator Anggun Afri Listiana, diskusi berjalan dinamis seiring tingginya tensi antusiasme mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah.

Dalam pemaparannya, Andrian Abdurrahman menyoroti pergeseran substansial dunia pendidikan saat ini yang dinilai semakin kehilangan moral kompas akibat kuatnya intervensi kekuasaan dan desakan kepentingan pasar bebas. Ia menegaskan, pendidikan esensinya adalah alat pemberdayaan masyarakat, bukan instrumen pelestarian ketimpangan sosial.

Andrian juga mengkritisi bagaimana birokrasi dan hubungan kekuasaan sering digunakan penguasa untuk memperkuat kontrol, alih-alih memperkuat kesadaran kritis warga negara.

“Cara yang paling lembut dan paling aman untuk melawan kedzaliman adalah melalui pendidikan,” tegas Andrian di hadapan ratusan peserta, yang langsung disambut riuh tepuk tangan.

Pernyataan tersebut memicu refleksi kolektif di kalangan peserta forum bahwa bangku kuliah tidak boleh sekadar menjadi mesin pencetak pekerja industri, melainkan episentrum perjuangan sosial melawan ketidakadilan.

Suasana diskusi semakin memanas ketika forum mulai menyoroti sederet persoalan konkret, mulai dari diskriminasi akses pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), jeratan mahalnya biaya kuliah (UKT), hingga fenomena me lempemnya daya kritis mahasiswa generasi hari ini.

Menanggapi kegelisahan tersebut, Andrian tidak menampik bahwa gerakan mahasiswa kontemporer menghadapi tembok tantangan yang jauh lebih kompleks. Menurutnya, suara kritis hari ini jarang disebabkan oleh kekerasan fisik, melainkan didegradasi secara halus melalui jerat sistem, labirin birokrasi, dan tekanan pragmatisme ekonomi.

Dalam penghujung acara, moderator Anggun Afri Listiana menyimpulkan bahwa tekad terhadap akses pendidikan yang layak serta matinya ruang berpikir kritis di kampus merupakan manifestasi dari penjajahan modern yang perlahan memberdayakan masyarakat umum. Ia mengajak mahasiswa untuk mengonsolidasikan gerakan literasi yang berpihak pada rakyat.

Melalui Educational Talk ini, Festival HARDIKNAS 2026 DEMA FTIK UIN Walisongo berhasil mendobrak pakem peringatan hari besar yang biasanya terjebak dalam seremoni formalitas. Kritik, keresahan, dan dialektika yang lahir dari forum ini menjadi alarm keras bahwa karut-marut sektor pendidikan adalah isu mendesak yang tidak dapat diselesaikan hanya sebagai slogan tahunan.