Perkuat Usaha Produktif, UMKM Demak Didorong Miliki Pola Pikir Berkembang

Demak38 Dilihat

DEMAK – Upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat terus digalakkan Pemerintah Kabupaten Demak. Melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P2PA) setempat yang berkolaborasi dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah serta Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) Demak, digelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Ekonomi Masyarakat. Kegiatan ini ditujukan khusus bagi penerima program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), guna membekali mereka kemampuan agar usaha yang dijalankan makin berkembang dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin, Elliya Ch, menjelaskan bahwa bimtek merupakan langkah pendampingan lanjutan setelah bantuan usaha disalurkan ke masyarakat.

“Kegiatan Bimtek Pengembangan Ekonomi Masyarakat dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah ditujukan untuk memberikan bimbingan dan pelatihan kepada penerima bantuan sosial UEP maupun KUBE yang dialokasikan di Kabupaten Demak. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemantapan terhadap bantuan yang telah diterima sehingga mampu dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Elliya berharap program ini mampu mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat.

“Kami berharap masyarakat Jawa Tengah bisa keluar dari kemiskinan, meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraannya semakin baik melalui pengembangan usaha produktif,” katanya.

Untuk tahun anggaran 2026, Kabupaten Demak mendapat alokasi bantuan bagi 32 kelompok KUBE dan 28 penerima UEP, dengan total anggaran mencapai Rp710 juta.

Sementara itu, Ketua HIPKA Demak, Sodikin, menekankan bahwa faktor penentu keberhasilan usaha bukanlah besarnya modal, melainkan kekuatan mental wirausaha pelakunya.

“Sekitar 90 persen UMKM gagal bukan karena kekurangan modal, tetapi karena mental wirausahanya sudah menyerah lebih dulu. Modal bisa dicari dan ilmu bisnis dapat dipelajari, tetapi ketika mental sudah menyerah sejak awal, usaha akan sulit berkembang,” katanya.

Menurut Sodikin, jiwa wirausaha bukanlah bakat bawaan lahir, melainkan kemampuan yang dibentuk lewat pembelajaran, pengalaman, dan komitmen yang kuat. Ia mengajak pelaku usaha berani memulai dari nol serta mampu melihat peluang di tengah tantangan. Selain itu, para pelaku usaha juga dituntut memiliki pola pikir berkembang (growth mindset), ketangguhan menghadapi kegagalan, serta kemampuan beradaptasi agar tetap bertahan menghadapi perubahan zaman.

Di sisi lain, Plt Kepala Dinsos P2PA Kabupaten Demak, Agus Herawan, menyampaikan bahwa program UEP dan KUBE menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah daerah untuk menekan angka kemiskinan yang saat ini mencapai 10,87 persen — angka yang masih lebih tinggi dibanding rata-rata tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

“Kondisi wilayah pesisir seperti Sayung, Bonang, Wedung, dan Karangtengah yang kerap terdampak rob menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis usaha. Bantuan harus diarahkan pada usaha yang adaptif terhadap kondisi wilayah sehingga mampu bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Agus menegaskan bahwa bantuan yang diberikan bersifat modal usaha produktif, bukan bantuan konsumtif. Oleh sebab itu, penyaluran dilakukan dengan mekanisme ketat, mulai dari rekomendasi Dinsos, penyusunan rencana anggaran biaya, hingga kewajiban membelanjakan dana khusus untuk kebutuhan usaha dalam waktu maksimal 10 hari setelah pencairan. Selain mempercepat verifikasi penerima, pihaknya juga mendorong digitalisasi pemasaran produk UMKM melalui pasar daring serta memperluas akses pasar dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa dan koperasi desa.

(red)