NaPOS: Gerakan Baru Pemberdayaan Masyarakat Kudus

Kudus744 Dilihat

KUDUS – Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus bekerja sama dengan RS Mardi Rahayu menggelar Pelatihan Tenaga Pendamping Orang Sakit (NaPOS) gelombang kelima, yang dimulai pada 5 Januari 2026 dan akan berlangsung selama hampir satu bulan. Kegiatan ini merupakan upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani, mengapresiasi RS Mardi Rahayu yang memfasilitasi pelatihan secara gratis. Menurutnya, pelatihan NaPOS bukan hanya peningkatan keterampilan, melainkan bekal hidup untuk peserta.

“Pelatihan ini bisa menjadi pegangan hidup. Setelah selesai, peserta diharapkan siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan sebagai tenaga pendamping orang sakit, khususnya melalui RS Mardi Rahayu,” ujar Endhah.

Ia menegaskan, NaPOS berperan tidak hanya dalam pendampingan fisik, tetapi juga dukungan psikologis dan emosional. Program ini direncanakan sejak 2025, namun tertunda akibat keterbatasan SDM dan kesulitan menjaring peserta yang bersedia mengikuti penuh.

“Pelatihan ini membutuhkan komitmen tinggi karena berlangsung satu bulan penuh, dari pagi hingga sore. Tidak semua orang bisa meluangkan waktu, meski minat dan antusiasmenya ada,” jelasnya.

Endhah menambahkan, NaPOS merupakan bagian dari Pokja PKK Kudus yang bertujuan membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ia berharap lulusan mendapatkan penghasilan layak dan memenuhi kebutuhan tenaga pendamping di masyarakat.

Sementara itu, Direktur RS Mardi Rahayu, Pujianto, menjelaskan pelatihan diikuti oleh 15 peserta yang direkrut TP PKK dari tingkat kabupaten hingga desa. Peserta mendapatkan materi teori dan praktik perawatan pasien.

“Peserta dilatih mengukur tanda-tanda vital, perawatan luka sederhana, pemberian makan dan obat termasuk melalui selang, memandikan pasien dewasa dan bayi, hingga teknik alih baring dan mobilisasi yang benar,” ungkapnya.

Menurut Pujianto, lulusan akan disalurkan sebagai tenaga pendamping di layanan home care RS Mardi Rahayu, dengan upah minimal setara UMK dan sertifikat. Selama tiga hingga empat tahun terakhir, gelombang pertama hingga keempat telah meluluskan sekitar 30 peserta yang seluruhnya terserap kerja di Kudus dan luar daerah.

“Program ini tidak hanya mencetak tenaga siap kerja, tetapi juga membantu keluarga pasien yang membutuhkan pendamping pasca rawat inap,” pungkasnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *