Mengapa Kita Lebih Mudah Merawat Orang Lain daripada Kesehatan Mental Diri Sendiri?

Artikel35 Dilihat

TUTURMEDIA.COM – Kita sering menjadi orang pertama yang hadir ketika teman atau keluarga sedang menghadapi masalah. Kita mendengarkan keluhan mereka, memberikan semangat, dan menyarankan mereka untuk beristirahat.

Namun, ketika diri sendiri mengalami tekanan, kita justru memilih diam dan berpura-pura baik-baik saja. Kita merasa harus tetap kuat meskipun pikiran sudah lelah dan emosi mulai tidak terkendali.

Dalam kehidupan sehari-hari, perhatian terhadap kesehatan mental diri sendiri sering kali dianggap tidak terlalu penting. Banyak orang baru menyadari kondisinya setelah mengalami kelelahan emosional, sulit tidur, kehilangan semangat, mudah marah, atau tidak lagi menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.

Selama masih mampu bekerja dan menjalankan rutinitas, seseorang kerap menganggap dirinya baik-baik saja. Padahal, mampu menjalani aktivitas bukan berarti kondisi mentalnya benar-benar sehat.

Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan pribadi. Seseorang mungkin takut dianggap egois, tidak peduli, atau mengecewakan orang lain jika menolak permintaan.

Kebiasaan ini dapat berkembang menjadi people pleasing, yaitu kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain meskipun harus mengabaikan perasaan dan kebutuhan diri sendiri. Akibatnya, seseorang menjadi mudah lelah, tertekan, dan kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Merawat orang lain juga dapat menjadi cara untuk menghindari persoalan dalam diri sendiri. Dengan terus sibuk membantu orang lain, seseorang tidak perlu berhadapan dengan kesedihan, rasa sepi, kecemasan, atau luka emosionalnya.

Ia mungkin merasa dibutuhkan dan berharga ketika menolong. Namun, ketika harga diri hanya bergantung pada seberapa besar dirinya berguna bagi orang lain, kondisi kesehatan mentalnya menjadi lebih rentan.

Keadaan tersebut dapat diperburuk oleh toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu berpikir positif dan menolak emosi yang dianggap negatif. Kalimat seperti, “Jangan sedih,” “Tetap bersyukur,” “Kamu harus kuat,” atau “Masih banyak orang yang lebih susah” mungkin terdengar seperti bentuk dukungan.

Namun, jika disampaikan tanpa memahami perasaan seseorang, kalimat-kalimat tersebut justru dapat membuatnya merasa bersalah karena sedang sedih, marah, kecewa, atau lelah.

Toxic positivity juga dapat muncul dari dalam diri sendiri. Kita memaksa diri untuk terlihat bahagia, menutupi kesedihan, dan menganggap bahwa mengeluh merupakan tanda kelemahan.

Akibatnya, emosi tidak benar-benar diselesaikan, melainkan hanya ditekan. Emosi yang terus dipendam dapat muncul dalam bentuk lain, seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, gangguan tidur, atau kelelahan yang berkepanjangan.

Berpikir positif tentu bukan sesuatu yang salah. Masalahnya muncul ketika sikap positif digunakan untuk menyangkal kenyataan dan mengabaikan emosi.

Kesehatan mental tidak dibangun dengan terus-menerus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, melainkan dengan keberanian untuk mengakui bahwa ada keadaan yang memang menyakitkan.

Seseorang tetap dapat bersyukur sekaligus merasa sedih. Ia juga dapat memiliki harapan sambil mengakui bahwa dirinya sedang lelah dan membutuhkan bantuan.

Selain itu, kita sering memperlakukan diri sendiri dengan lebih keras dibandingkan orang lain. Kesalahan orang lain dapat kita maklumi, sedangkan kesalahan diri sendiri terus kita ingat dan sesali.

Kita mampu berkata, “Kamu sudah berusaha,” kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri kita berkata, “Aku tidak boleh gagal.” Tekanan dari dalam diri seperti ini dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, kecemasan, stres berkepanjangan, bahkan burnout.

Merawat kesehatan mental bukan berarti hanya melakukan kegiatan yang menyenangkan. Merawat diri juga berarti berani mengenali dan menerima emosi, menetapkan batasan yang sehat, serta berhenti sejenak ketika tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah.

Kita tidak harus selalu kuat dan selalu positif. Dalam kondisi tertentu, merawat diri berarti berani meminta bantuan kepada orang yang dipercaya atau berkonsultasi dengan psikolog maupun tenaga profesional.

Langkah awal dapat dimulai dengan memberi waktu untuk memeriksa keadaan diri sendiri. Kita dapat bertanya, “Apa yang sedang saya rasakan?”, “Apa yang membuat saya lelah?”, “Kebutuhan apa yang selama ini saya abaikan?”, dan “Apakah saya membutuhkan bantuan?” Menuliskan perasaan, berbicara dengan orang yang dipercaya, menjaga pola tidur, mengurangi beban yang tidak mendesak, serta membangun batasan yang sehat dapat membantu menjaga keseimbangan mental.

Jika keluhan berlangsung lama atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga profesional merupakan langkah yang tepat.

Pada akhirnya, kesehatan mental perlu dirawat sebelum kondisi benar-benar memburuk. Kita tidak harus menunggu mengalami kelelahan berat, kehilangan motivasi, atau kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari untuk mulai mencari pertolongan.

Memperhatikan diri sendiri bukanlah bentuk kelemahan ataupun keegoisan, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap kehidupan yang kita jalani.

Merawat orang lain memang merupakan wujud kasih sayang. Namun, kita juga pantas memberikan perhatian yang sama kepada diri sendiri.

Kita tidak harus selalu tersenyum untuk membuktikan bahwa kita kuat. Terkadang, keberanian yang sesungguhnya justru tampak ketika kita mampu berkata, “Saat ini saya sedang tidak baik-baik saja, dan saya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.”

Penulis: Afifatun Nafisah, S.Psi.
Mahasiswa Magister Psikologi
Universitas Semarang