KUDUS – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menerapkan cara baru dan lebih menarik dalam memperkenalkan serta menanamkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan di tengah masyarakat, khususnya kepada generasi muda. Jika selama ini sosialisasi lebih banyak dilakukan melalui penyampaian lisan atau ceramah, kali ini ia memilih memanfaatkan media film sebagai sarana penyampaian pesan yang dinilai lebih efektif dan mudah dipahami berbagai kalangan.
Menurut Lestari, film memiliki keunggulan tersendiri karena mampu menyajikan pesan dengan pendekatan emosional dan kontekstual. Melalui rangkaian cerita dan visualisasi, nilai-nilai mulia seperti kepedulian terhadap lingkungan, rasa tanggung jawab sosial, hingga kesetiaan dan komitmen terhadap bangsa dapat tersampaikan dengan lebih menyentuh dan membekas di hati penonton.
“Pesan dalam film ini sangat relevan dengan nilai-nilai Empat Pilar, seperti menjaga alam, menjaga komitmen, dan menjaga bangsa,” ujarnya saat melaksanakan kegiatan di Kudus.
Ia menjelaskan, upaya penyebaran pemahaman tentang kebangsaan selama ini memang telah dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari dialog bersama, diskusi interaktif, hingga program-program yang melibatkan peran serta komunitas. Namun, penggunaan media film dianggap lebih mampu menarik perhatian, terutama bagi anak muda yang cenderung lebih responsif dan cepat menangkap makna pesan ketika disajikan dalam bentuk visual, dibandingkan dengan cara-cara konvensional.
Selain memuat nilai-nilai kebangsaan, film yang ditayangkan juga menyisipkan pesan tentang pentingnya sikap inklusif. Salah satu poin menariknya, dalam proses pembuatan karya tersebut turut melibatkan penyandang disabilitas sebagai bagian dari tim produksi. Hal ini, menurut Lestari, menjadi bukti nyata bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, tanpa memandang latar belakang maupun kondisi apapun.
Dalam kesempatan yang sama, Lestari juga mengangkat isu pelestarian lingkungan yang menjadi perhatian penting, khususnya di kawasan pegunungan Muria. Ia menilai, pemahaman masyarakat terhadap karakteristik dan kondisi alam di wilayahnya masih perlu ditingkatkan. Hal ini bertujuan agar aktivitas yang dilakukan tidak justru menimbulkan kerusakan atau kerugian bagi lingkungan sekitar.
“Edukasi ini penting agar masyarakat memahami kondisi wilayahnya. Jangan sampai aktivitas ekonomi justru berdampak destruktif bagi lingkungan,” tegasnya.
Ia menyinggung sejumlah daerah yang kerap mengalami bencana alam berulang kali, salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi dan kemampuan alamnya. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang mampu menyeimbangkan antara upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam.
Sebagai contoh, ia menceritakan pengalaman yang dilihatnya di Bojonegoro. Di wilayah tersebut, lahan yang sering terendam banjir dan membuat hasil pertanian gagal panen, akhirnya dialihkan fungsinya. Jika sebelumnya ditanami padi, kini masyarakat beralih membudidayakan jenis tanaman lain yang lebih tahan terhadap genangan air. Langkah ini terbukti mampu meminimalkan risiko kerugian, sekaligus tetap memberikan hasil ekonomi bagi warga setempat.
Lestari menegaskan, kunci utama dari penyelesaian berbagai persoalan ini terletak pada kesediaan untuk mencari jalan tengah, di mana masyarakat tetap dapat memanfaatkan kekayaan alam yang ada, namun dilakukan dengan cara yang bijak, terukur, dan berkelanjutan. Kondisi ini dapat terwujud dengan baik melalui proses edukasi dan pendampingan yang terus dilakukan secara berkesinambungan.
“Semoga pendekatan kreatif seperti pemutaran film dapat terus dikembangkan sebagai sarana edukasi yang efektif, sekaligus mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga nilai kebangsaan dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
(red)






