Gus Mamak: Merusak Alam Bukan Sekadar Isu Lingkungan, Tapi Memerangi Allah!

Rembang32 Dilihat

REMBANG – Menanam pohon bukan sekadar aktivitas penghijauan biasa, melainkan sebuah bentuk sedekah jariyah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pesan mendalam ini mengemuka dalam acara “Ngaji Ekologi” yang digelar oleh Keluarga Mahasiswa Rembang Semarang (Kamaresa) di Lentera Kisik, Desa Plawangan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Ahad (1/2/2026).

Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian Dies Natalis ke-31 Kamaresa ini menghadirkan Gus Attijani Abu Na’im S.Fil.I M.Pd, atau yang akrab disapa Gus Mamak. Di hadapan puluhan mahasiswa dan aktivis organisasi kepemudaan se-Rembang, beliau membedah krisis lingkungan melalui kacamata teologis yang tajam.

Gus Mamak menegaskan bahwa hubungan antara alam dan manusia ibarat satu kesatuan tubuh yang saling terhubung dengan organ-organnya. Oleh karena itu, merusak ekosistem adalah bentuk pengkhianatan terhadap fitrah kemanusiaan itu sendiri.

“Dalam nash Al-Qur’an dijelaskan bahwa merusak alam memiliki kedudukan hukum yang sama besarnya dengan memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ini bukan persoalan kecil, tapi masalah prinsipil dalam beragama,” tegas Gus Mamak dengan nada bergetar.

Beliau kemudian menceritakan bagaimana Nabi Muhammad SAW telah meletakkan dasar etika lingkungan (Green Islam) bahkan dalam situasi perang yang paling genting. Rasulullah secara tegas melarang umatnya meracuni aliran sungai, menebang pohon secara serampangan, atau menghabiskan hutan demi kepentingan sesaat.

“Nabi sangat menjaga ekologi. Beliau melarang buang hajat di sumber air dan melarang memotong apa pun yang memberikan manfaat bagi hewan dan manusia. Jika Rasulullah saja sebegitu perhatian, maka kita sebagai umatnya tidak punya alasan untuk abai,” tambahnya.

Selain aspek spiritual, Gus Mamak juga menyoroti pentingnya perlindungan lingkungan masuk ke dalam ranah hukum formal. Ia mendorong agar kesadaran ekologi ini segera ditingkatkan menjadi regulasi hukum yang tegas di tingkat daerah. Mengingat, aturan yang sudah ada saja terkadang masih menemui penyelewengan dalam praktiknya.

Senada dengan hal itu, Ketua Kamaresa, Najich Fawaid, mengajak para mahasiswa untuk berhenti bersikap netral terhadap kerusakan alam yang terjadi di Rembang. Baginya, diam saat kerusakan alam dinormalisasi berarti ikut mewariskan krisis bagi generasi masa depan.

“Saatnya pemuda bersuara dan berpihak. Mahasiswa yang kuliah di luar daerah pun harus tetap memikirkan tanah kelahirannya. Jangan sia-siakan masa muda, berikan yang terbaik untuk menjaga masa depan Rembang,” tutup Najich.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *