Cegah Perundungan Sejak Dini, Mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SDN Karangtowo

Demak, Pendidikan31 Dilihat

Demak – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu (KKN MIT) 22 Posko 73 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar sosialisasi dan edukasi pencegahan perundungan (anti-bullying) di SD N Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, pada Kamis (27/8/2026).

Kegiatan yang ditujukan bagi siswa kelas III ini menjadi langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian, rasa saling menghargai, serta kebiasaan menjaga martabat sesama sejak usia dini.

Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, menjelaskan bahwa program edukasi ini dirancang khusus untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak.

“Maraknya perilaku mengejek hingga intimidasi antar teman di usia sekolah dasar menjadi perhatian khusus kami. Melalui sosialisasi ini, kami ingin memberikan pemahaman sejak awal bahwa tindakan perundungan bukan sekadar gurauan biasa, melainkan perilaku menyakiti yang memiliki dampak buruk jangka panjang bagi tumbuh kembang anak,” ujar Miftah.

Dalam sesi pemaparan materi, Ahmad Iksan Hadi Wibowo, membawakan edukasi secara interaktif dan komunikatif agar pesan yang disampaikan mudah dipahami para siswa. Ia menjelaskan secara rinci pengertian bullying, yakni tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan berulang yang membuat korbannya merasa tertekan, trauma, depresi, hingga tidak berdaya.

Tak hanya itu, Iksan juga memperkenalkan empat bentuk perundungan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, meliputi bullying fisik seperti memukul dan mencubit; bullying verbal seperti mengejek dan memanggil nama orang tua; bullying sosial seperti mengucilkan teman dan menyebarkan rumor; serta cyberbullying yang dilakukan melalui internet dan media sosial.

“Perundungan tidak hanya berupa fisik seperti memukul atau mencubit, tetapi juga bisa berbentuk verbal seperti mengejek dan memanggil nama orang tua, bentuk sosial seperti mengucilkan teman, hingga cyberbullying di media sosial. Kami berharap adik-adik bisa memahami bentuk-bentuk ini sehingga saling menyayangi, peduli terhadap sesama, serta berani melaporkan jika melihat tindakan yang tidak baik,” tegas Iksan saat pemaparan materi.

Selain menjabarkan bentuk-bentuknya, Iksan juga menerangkan faktor penyebab terjadinya perundungan, mulai dari pengaruh lingkungan keluarga, pergaulan, tayangan media sosial, hingga pengalaman masa lalu. Ia menekankan dampak fatal yang ditimbulkan, baik bagi korban yang mengalami kecemasan berat, pelaku yang kehilangan empati, maupun saksi yang ikut merasa takut.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video edukatif dan pembacaan puisi bertema anti-bullying. Suasana kegiatan yang tadinya penuh keceriaan berubah haru saat para siswa menghayati pesan emosional dari tayangan video dan puisi tersebut. Beberapa siswa bahkan meneteskan air mata karena tersadar akan dampak buruk dari perundungan.

Penyampaian materi dan sesi perenungan ini mendapat respons hangat dari para peserta didik. Salah satu siswa SD N Karangtowo mengungkapkan kesannya setelah mengikuti acara.

“Terima kasih Kak atas sosialisasinya. Kami semua jadi tersadar bahwa bullying itu tindakan yang sangat menyakiti orang lain dan berdampak buruk bagi siapa saja yang mengalaminya,” tutur salah satu siswa penuh antusias.

Melalui edukasi ini, tim KKN MIT 22 Posko 73 berharap para siswa SD N Karangtowo dapat menolak segala bentuk perundungan dan bersama-sama mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Penulis: Teur Yahya