ASTI Kudus Gembleng 200 Pemain Muda Lewat Motiv Action Class

Kudus8 Dilihat

KUDUS – Sekitar 200 pemain muda mengikuti kegiatan Motiv Action Class yang digelar Akademi Sepakbola Tugumuda Indonesia (ASTI) Kudus. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan untuk memperkuat motivasi, karakter, sekaligus kesiapan pemain dalam menapaki proses pembinaan sepak bola.

CEO ASTI Kudus, Arif Budianto, mengatakan kegiatan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni memberikan pengarahan kepada pemain baru serta kembali mengingatkan pemain lama mengenai tujuan mereka mengikuti pembinaan di ASTI.

Menurut Arif, penggunaan nama Motiv Action bukan sekadar untuk memberikan motivasi. Para pemain diharapkan memiliki alasan yang kuat untuk bergerak, bertindak, dan terus berproses dalam mengejar cita-cita.

“Hari ini kegiatan Motiv Action Class untuk menyambut dan memberikan pengarahan kepada anak-anak baru, sekaligus mengingatkan kembali anak-anak lama. Kami menyebutnya Motiv Action karena mereka harus menemukan alasan untuk bergerak dan bertindak,” kata Arif.

Kegiatan tersebut diikuti pemain berusia 12 hingga 17 tahun. Program Motiv Action Class sendiri telah rutin digelar selama empat tahun terakhir, sementara ASTI Kudus telah berdiri lebih dari tujuh tahun.

Pada kegiatan kali ini, materi motivasi disampaikan Filiphus Gudel yang telah menjadi pembicara sejak 2022. Arif menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pola pembinaan menyeluruh yang diterapkan ASTI.

Sejak 2024, ASTI juga mengusung slogan Do The Best, Be The Best. Slogan tersebut menjadi semangat bagi pemain untuk selalu memberikan kemampuan terbaik selama menjalani proses pembinaan.

ASTI menargetkan para pemain muda tidak hanya mendapatkan pembinaan, tetapi juga memiliki jalur menuju sepak bola profesional. Pemain diharapkan mampu memperoleh kesempatan bergabung dengan klub maupun Elite Pro Academy (EPA) yang berkompetisi di Liga 1 dan Liga 2.

Arif menyebut sejumlah pemain binaan ASTI telah berhasil menembus klub profesional. Di antaranya bergabung dengan Borneo FC dan Persita di kompetisi kasta tertinggi, serta Persis Solo dan Sumsel United di Liga 2.

Sejumlah pemain lainnya juga diproyeksikan bergabung dengan Garudayaksa. Namun, Arif menegaskan posisi pemain dapat berubah saat memasuki klub profesional karena menyesuaikan kebutuhan tim dan keputusan pelatih.

“Yang penting anak-anak bisa mendapat kesempatan berkembang. Posisi mereka di akademi belum tentu sama ketika masuk klub karena pelatih akan melihat kebutuhan tim,” ujarnya.

Dari sisi organisasi, ASTI kini telah berkembang hingga 10 kota. Delapan cabang telah berbadan hukum, yakni Kudus, Kendal, Tegal, Semarang, Purbalingga, Kulon Progo, Lamongan, dan Ternate.

“Sementara dua cabang lainnya di Lampung dan Bekasi masih dalam tahap persiapan legalitas. Secara keseluruhan, ASTI memiliki sekitar 500 siswa yang menjalani pembinaan di berbagai daerah,” bebernya.

Sebagian besar program pembinaan ASTI menerapkan sistem boarding atau asrama. Menurut Arif, sistem tersebut membuat kegiatan pemain lebih terstruktur, mulai dari bangun tidur hingga aktivitas pada malam hari.

Selain membentuk kedisiplinan, sistem asrama dinilai membantu pembentukan karakter sekaligus meminimalkan pengaruh negatif dari lingkungan luar. Pembinaan umumnya dimulai saat pemain berusia sekitar 12 tahun hingga jenjang SMA, meski ada pula pemain yang bergabung sejak sekolah dasar.

Dari sisi prestasi, ASTI juga telah menorehkan sejumlah hasil positif dalam berbagai turnamen. Pada Bangkok Youth Cup di Thailand, ASTI meraih juara dua kategori U-10 dan U-12 serta juara tiga U-18. Mereka juga berhasil menjadi juara tiga Sangju Cup di Korea Selatan dan juara satu Batam Prime Cup.

“Kegiatan itu diharapkan dapat menambah semangat para pemain untuk terus berkembang dan membuktikan kemampuan terbaik mereka,” pungkasnya.

(red)