Kategori: Demak

  • Edukasi PHBS Sejak Dini, Mahasiswa KKN Ajak Siswa TK Pertiwi Praktik Cuci Tangan 6 Langkah

    Edukasi PHBS Sejak Dini, Mahasiswa KKN Ajak Siswa TK Pertiwi Praktik Cuci Tangan 6 Langkah

    Demak — Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan kebersihan diri serta mencegah penularan penyakit sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu (KKN MIT) 22 Posko 73 menggelar kegiatan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK Pertiwi, Desa Karangtowo, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Demak, pada Jumat (28/8/2026). Program edukasi ini fokus pada tema “Cara Mencuci Tangan yang Benar” dengan sasaran seluruh anak didik di sekolah tersebut.

    Kegiatan ini dilatar belakangi oleh pentingnya menanamkan kebiasaan hidup bersih pada anak-anak usia dini. Tangan sering kali menjadi perantara utama masuknya berbagai jenis kuman dan bakteri ke dalam tubuh. Oleh karena itu, pemahaman tentang tata cara mencuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan anak secara mandiri.

    “Kami ingin memberikan pemahaman kesehatan tanpa membuat anak-anak merasa sedang belajar kaku di dalam kelas. Melalui media video animasi, tepuk tangan interaktif, serta praktik langsung menggunakan sabun dan air mengalir, anak-anak menjadi jauh lebih antusias. Mereka tidak hanya paham interpretasi, tetapi juga mudah mengingat urutan enam langkah mencuci tangan yang benar,” ujar Umi Nur Maziyyah, sekretaris KKN posko 73.

    Untuk mencairkan suasana, mahasiswa terlebih dahulu mengajak anak-anak berbincang santai melalui sesi tanya jawab sederhana. Pendekatan persuasif ini dilakukan guna membangun kedekatan emosional sehingga anak-anak merasa nyaman, percaya diri, dan antusias untuk mengikuti tahapan selanjutnya.

    Setelah suasana semakin akrab, anak-anak diajak menyaksikan pemutaran video animasi edukatif. Media audio visual ini menggambarkan bahaya kuman yang tidak terlihat serta pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Anak-anak tampak menyimak tayangan tersebut dengan penuh perhatian. Dengan memutar video, mahsiswa memberikan kesempatan kepada beberapa anak untuk maju ke depan dan mengajarkan cara mencuci tangan sesuai dengan pemahaman awal yang mereka miliki.

    Tahap inti dari sosialisasi ini adalah pengenalan tata cara mencuci tangan sesuai standar kesehatan melalui metode unik, yakni “Tepuk Cuci Tangan 6 Langkah”. Melalui metode ini, anak-anak diajak menghafal dan menirukan enam gerakan utama secara berurutan. Gerakannya dimulai dari menggosok telapak tangan, menggosok punggung tangan kanan dan kiri, serta membersihkan sela-sela jari.

    Langkahnya dilanjutkan dengan gerakan dua tangan saling mengunci untuk membersihkan bagian belakang jari, menggosok ibu jari secara bergantian, hingga menguncupkan ujung jari untuk membersihkan bagian bawah kuku. Seluruh rangkaian gerakan tersebut diakhiri dengan pembilasan menggunakan air bersih yang mengalir.

    Sebagai puncak kegiatan, seluruh anak diajak keluar kelas untuk mentransmisikan secara langsung cara mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir secara bergantian. Mahasiswa KKN mendampingi satu per satu anak untuk memastikan setiap langkah penggosokan tangan dilakukan dengan tepat dan bersih.

    “Kami sangat berterima kasih dan menyambut baik kehadiran para mahasiswa KKN. Anak-anak terlihat sangat gembira dan bersemangat mengikuti setiap sesi. Edukasi langsung seperti ini sangat penting agar anak-anak terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun secara mandiri, baik saat berada di lingkungan sekolah maupun ketika berada di rumah,” ungkap salah satu guru TK Pertiwi.

    Melalui pelaksanaan sosialisasi PHBS ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat membentuk karakter hidup bersih pada anak-anak TK Pertiwi Karangtowo, sekaligus menjadi kebiasaan sehat yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

    Penulis: Ulfani Salsabila

  • Selama KKN di Karangtowo, Mahasiswa MIT 22 Posko 73 Dirikan “Rumah Belajar” untuk Anak Desa

    Demak – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu (KKN MIT) 22 Posko 73 meluncurkan program pendampingan pendidikan bertajuk “Rumah Belajar” di Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah. Program edukasi ini dilaksanakan secara rutin setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu untuk mempermudah akses belajar bagi anak-anak desa setempat.

    Dalam pelaksanaannya, kegiatan Rumah Belajar dibagi ke dalam dua lokasi berbeda. Pada hari Senin dan Selasa, kegiatan berpusat di TPQ Darussalam Dusun Karang Panas. Sementara pada hari Rabu, pendampingan belajar bertempat di rumah Ibu Kadus Bu Nur yang berlokasi di Dusun Gawing.

    Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, menjelaskan bahwa seluruh anggota mahasiswa KKN dilibatkan secara aktif sebagai pengajar. Para mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendampingi para siswa secara intensif dan terstruktur berdasarkan jenjang tingkatan kelas, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar. Pembagian kelompok ini dilakukan agar proses pembelajaran berlangsung lebih fokus, efektif, serta relevan dengan tingkat kesulitan materi masing-masing jenjang pendidikan.

    “Banyak anak yang sering kali mengalami kesulitan saat menyelesaikan tugas sekolah di rumah atau memerlukan penjelasan tambahan terkait materi pelajaran tertentu. Melalui kehadiran Rumah Belajar yang tersebar di Karang Panas dan Gawing ini, kami ingin memberikan wadah bagi adik-adik untuk belajar bersama dan berkonsultasi secara langsung dengan mahasiswa,” ujar Miftah.

    Dalam sesi pembelajaran, Yahya hadir membawakan materi pendampingan secara interaktif, komunikatif, dan ramah anak. Iksan menjelaskan secara rinci bahwa kegiatan Rumah Belajar tidak hanya berfokus pada penyelesaian Pekerjaan Rumah (PR) semata, tetapi juga memberikan penjelasan singkat namun mendalam untuk memperkuat pemahaman dasar anak-anak terhadap materi pelajaran utama seperti matematika, bahasa Indonesia, dan sains.

    Tak hanya membantu pengerjaan tugas sekolah sehari-hari, Yahya bersama seluruh tim pengajar KKN MIT 22 Posko 73 juga memperkenalkan beberapa metode belajar efektif yang telah disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan psikologis tiap kelompok kelas. Pertama, penerapan metode membaca aktif dan mengenal huruf secara menyenangkan bagi kelompok kelas rendah (kelas 1 dan 2) agar mereka memiliki fondasi literasi yang kuat sejak awal. Kedua, metode latihan soal interaktif yang dirancang khusus untuk melatih kemampuan berhitung secara mandiri tanpa rasa takut salah.

    Ketiga, pembuatan sesi diskusi kelompok kecil untuk tingkat kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) yang bertujuan melatih keberanian anak dalam bertukar pikiran, memecahkan masalah bersama, dan menyampaikan pendapat di depan umum. Serta keempat, penggunaan media pembelajaran visual dan alat peraga yang menarik agar materi pelajaran yang selama ini dianggap sulit dapat menjadi lebih mudah dipahami dan tidak membosankan bagi peserta didik.

    “Belajar tidak harus terasa menakutkan atau menjadi beban bagi anak-anak. Melalui pendampingan di Rumah Belajar ini, kami berharap adik-adik di tiap kelompok kelas bisa memahami materi pelajaran dengan lebih mudah, merasa terbantu saat mengerjakan PR, serta tumbuh rasa percaya dirinya dalam berprestasi di sekolah,” jelas Yahya saat mendampingi para siswa di lokasi kegiatan.

    Selain memaparkan metode belajar yang menyenangkan, Ahmad Iksan Hadi Wibowo, Koordinator Divisi Pendidikan dan Keagamaan juga menjabarkan berbagai manfaat penting dari pendampingan belajar yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Beberapa di antaranya adalah meningkatkan kedisiplinan belajar anak di rumah, mengurangi rasa jenuh dan frustrasi akibat kesulitan memahami pelajaran sendirian, serta membangun rasa saling peduli, kebersamaan, dan kerja sama yang erat antar sesama teman sebaya.

    Setelah pemaparan materi, pengerjaan tugas bersama, serta diskusi kelompok selesai dilaksanakan, suasana pembelajaran ditutup dengan sesi penyampaian pesan dan kesan dari peserta didik. Salah satu siswa menyampaikan kesannya dengan penuh semangat setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di Rumah Belajar tersebut.

    “Terima kasih Kak atas bimbingan dan pengajarannya. Kami semua jadi tersadarkan bahwasanya belajar itu sangat menyenangkan dan kami jadi lebih mudah paham saat mengerjakan tugas sekolah,” ungkap salah satu siswa dengan antusias.

    Melalui program Rumah Belajar yang diadakan secara rutin di TPQ Darussalam dan rumah Bu Nur ini, tim KKN MIT 22 Posko 73 berharap para siswa di Desa Karangtowo dapat terus memelihara semangat dalam menuntut ilmu. Kehadiran program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kemajuan pendidikan di Desa Karangtowo sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah anak, dan penuh dengan kasih sayang.

    Penulis: Vina Lestari  

  • Polres Demak Ungkap Pembunuhan Kekasih yang Jasadnya Dibakar

    DEMAK – Rasa cemburu berujung maut. Seorang pria berinisial BI (53) diduga membunuh kekasihnya, SL (42), setelah keduanya terlibat cekcok dalam perjalanan di wilayah Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

    Jasad SL kemudian ditemukan dalam kondisi terbakar di sebuah pos ronda di tepi Jalan Raya Mintreng-Gubug, Dukuh Wareng, Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Selasa (1/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.

    Kapolres Demak AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra mengatakan, korban dan tersangka merupakan pasangan kekasih. Peristiwa tersebut diduga dipicu kecemburuan tersangka ketika korban meminta diantar ke rumah mantan suaminya di wilayah Karanganyar, Jawa Tengah.

    Permintaan tersebut kemudian memicu percekcokan. Menurut keterangan tersangka, pertengkaran semakin memanas setelah korban melontarkan kata-kata kasar.

    “Peristiwa yang berhasil kita ungkap ini adalah peristiwa pembunuhan yang dipicu rasa sakit hati tersangka terhadap korban, setelah terjadi percekcokan dan kata-kata kasar yang dilontarkan korban terhadap pelaku,” kata AKBP Samel saat Konferensi Pers di Aula Wicaksana Leghawa Polres Demak, Kamis (3/9/2026).

    Samel mengatakan, berdasarkan keterangan tersangka, perjalanan keduanya berlangsung cukup lama, sejak sekitar pukul 21.00 WIB hingga dini hari.

    Di tengah perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah pos ronda di pinggir jalan untuk beristirahat. Namun, percekcokan kembali terjadi dan mencapai puncaknya di lokasi tersebut.

    Dalam keterangan awalnya, BI mengaku memukul SL menggunakan martil sebanyak tiga kali pada bagian kepala. Setelah itu, tersangka mengambil bahan bakar minyak dari sepeda motornya menggunakan botol air mineral.

    BBM tersebut kemudian dituangkan ke sebuah handuk yang diletakkan pada tubuh korban sebelum disulut api.

    Polisi menemukan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, antara lain celana dan kaus yang terbakar serta handuk kecil bekas terbakar. Dari tersangka, polisi juga mengamankan sepeda motor, telepon seluler, pakaian, dan sebuah martil berbahan besi.

    Meski tersangka mengaku menggunakan martil, polisi masih mendalami kesesuaian keterangan tersebut dengan hasil otopsi.

    Hasil pemeriksaan jenazah menunjukkan korban mengalami luka bakar sekitar 45 persen. Selain itu, ditemukan luka akibat kekerasan tajam pada kepala bagian kiri, patah tulang tengkorak hingga bagian belakang, serta luka akibat kekerasan tumpul pada kepala bagian kanan.

    Pemeriksaan juga menemukan perdarahan pada otak. Dalam hasil otopsi disebutkan, sebab kematian adalah luka tusuk pada kepala bagian kiri yang menyebabkan patah tulang tengkorak dan perdarahan otak.

    “Untuk alat tajam yang sesuai dengan hasil otopsi belum kita temukan dan masih kita dalami dan kita cari. Kita mau cocokkan dulu hasil otopsi dengan keterangan dari pelaku,” ungkapnya.

    Polisi juga belum dapat memastikan apakah korban sudah meninggal atau masih dalam kondisi hidup ketika tubuhnya dibakar.

    “Kalau bisa diperkirakan korban itu dibakar setelah kondisinya tidak sadar, sudah meninggal atau belum, kita belum bisa pastikan,” kata Samel.

    Kasus tersebut terungkap setelah polisi menerima laporan masyarakat mengenai penemuan jasad tanpa identitas di sebuah pos ronda sekitar pukul 04.00 WIB.

    Petugas yang datang ke lokasi menemukan jasad seorang perempuan dalam kondisi terbakar. Tim Identifikasi Polres Demak kemudian melakukan pemeriksaan awal dan membawa jenazah ke RSUD Sultan Fatah untuk dilakukan otopsi.

    Polisi selanjutnya menyebarluaskan ciri-ciri korban melalui media sosial. Informasi tersebut diketahui anak korban yang kemudian menghubungi kepolisian.

    Setelah identitas korban dipastikan sebagai SL, penyidik mendalami orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan korban. Dari penyelidikan tersebut, polisi menemukan informasi mengenai hubungan korban dengan BI.

    Setelah mengumpulkan barang bukti dan memperoleh sedikitnya dua alat bukti, polisi menetapkan BI sebagai tersangka. Ia kemudian ditangkap di tempat kosnya di wilayah Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

    Samel mengatakan, BI juga merupakan residivis kasus pembunuhan yang pernah terjadi di Kabupaten Pati pada 1997.

    Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 458 KUHP dan/atau Pasal 468 Ayat (2) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun.

    Penyidik masih mendalami sejumlah fakta dalam kasus tersebut, termasuk memastikan alat yang digunakan untuk melukai korban serta mencocokkan keterangan tersangka dengan hasil pemeriksaan forensik.

    “Kita masih dalami lebih lanjut untuk memastikan rangkaian peristiwa dan kesesuaian antara keterangan pelaku dengan hasil otopsi,” ujar Samel.

    (red)

  • Cegah Perundungan Sejak Dini, Mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SDN Karangtowo

    Demak – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Inisiatif Terpadu (KKN MIT) 22 Posko 73 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar sosialisasi dan edukasi pencegahan perundungan (anti-bullying) di SD N Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, pada Kamis (27/8/2026).

    Kegiatan yang ditujukan bagi siswa kelas III ini menjadi langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian, rasa saling menghargai, serta kebiasaan menjaga martabat sesama sejak usia dini.

    Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT 22 Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, menjelaskan bahwa program edukasi ini dirancang khusus untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak.

    “Maraknya perilaku mengejek hingga intimidasi antar teman di usia sekolah dasar menjadi perhatian khusus kami. Melalui sosialisasi ini, kami ingin memberikan pemahaman sejak awal bahwa tindakan perundungan bukan sekadar gurauan biasa, melainkan perilaku menyakiti yang memiliki dampak buruk jangka panjang bagi tumbuh kembang anak,” ujar Miftah.

    Dalam sesi pemaparan materi, Ahmad Iksan Hadi Wibowo, membawakan edukasi secara interaktif dan komunikatif agar pesan yang disampaikan mudah dipahami para siswa. Ia menjelaskan secara rinci pengertian bullying, yakni tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan berulang yang membuat korbannya merasa tertekan, trauma, depresi, hingga tidak berdaya.

    Tak hanya itu, Iksan juga memperkenalkan empat bentuk perundungan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, meliputi bullying fisik seperti memukul dan mencubit; bullying verbal seperti mengejek dan memanggil nama orang tua; bullying sosial seperti mengucilkan teman dan menyebarkan rumor; serta cyberbullying yang dilakukan melalui internet dan media sosial.

    “Perundungan tidak hanya berupa fisik seperti memukul atau mencubit, tetapi juga bisa berbentuk verbal seperti mengejek dan memanggil nama orang tua, bentuk sosial seperti mengucilkan teman, hingga cyberbullying di media sosial. Kami berharap adik-adik bisa memahami bentuk-bentuk ini sehingga saling menyayangi, peduli terhadap sesama, serta berani melaporkan jika melihat tindakan yang tidak baik,” tegas Iksan saat pemaparan materi.

    Selain menjabarkan bentuk-bentuknya, Iksan juga menerangkan faktor penyebab terjadinya perundungan, mulai dari pengaruh lingkungan keluarga, pergaulan, tayangan media sosial, hingga pengalaman masa lalu. Ia menekankan dampak fatal yang ditimbulkan, baik bagi korban yang mengalami kecemasan berat, pelaku yang kehilangan empati, maupun saksi yang ikut merasa takut.

    Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video edukatif dan pembacaan puisi bertema anti-bullying. Suasana kegiatan yang tadinya penuh keceriaan berubah haru saat para siswa menghayati pesan emosional dari tayangan video dan puisi tersebut. Beberapa siswa bahkan meneteskan air mata karena tersadar akan dampak buruk dari perundungan.

    Penyampaian materi dan sesi perenungan ini mendapat respons hangat dari para peserta didik. Salah satu siswa SD N Karangtowo mengungkapkan kesannya setelah mengikuti acara.

    “Terima kasih Kak atas sosialisasinya. Kami semua jadi tersadar bahwa bullying itu tindakan yang sangat menyakiti orang lain dan berdampak buruk bagi siapa saja yang mengalaminya,” tutur salah satu siswa penuh antusias.

    Melalui edukasi ini, tim KKN MIT 22 Posko 73 berharap para siswa SD N Karangtowo dapat menolak segala bentuk perundungan dan bersama-sama mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

    Penulis: Teur Yahya

  • Siapkan Transisi Usia Remaja, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 73 Sosialisasi Kenakalan Remaja untuk Siswa Kelas 6 SD

    DEMAK – Sebagai upaya membentengi anak-anak dari risiko pergaulan bebas menjelang usia remaja, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 73 UIN Walisongo Semarang menggelar sosialisasi pencegahan kenakalan remaja di sekolah dasar (SD) Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, pada Kamis (27/8/2026).

    Kegiatan ini secara khusus menyasar para siswa kelas 6 SD yang sebentar lagi akan beranjak memasuki masa remaja awal. Edukasi ini dinilai sangat krusial sebagai fondasi awal agar mereka memiliki pemahaman yang kuat dalam menjaga diri dan memilih pergaulan saat menginjak jenjang sekolah yang lebih tinggi.

    Sekretaris KKN Posko 73, Umi Nur Maziyyah, menyampaikan bahwa anak-anak usia kelas 6 berada pada fase transisi penting. Perubahan fisik, emosional, dan rasa ingin tahu yang tinggi mulai berkembang pesat pada masa peralihan ini.

    “Siswa kelas 6 ini sebentar lagi akan melangkah ke dunia remaja. Jika tidak dibekali benteng akhlak dan pemahaman yang cukup sejak sekarang, mereka rentan terpengaruh dampak negatif pergaulan lingkungan luar. Sosialisasi ini bertujuan agar mereka siap menyikapi perubahan usia dengan bijaksana,” ujar Umi.

    Materi sosialisasi disampaikan langsung oleh Koordinator Divisi Kesehatan dan Lingkungan KKN Posko 73, Adib Murthado Aji. Dalam pemaparannya, Adib menyajikan materi yang telah disesuaikan dengan daya tangkap dan dunia anak-anak, dengan menekankan keterkaitan antara kesehatan fisik, mental, dan lingkungan sosial.

    Isu-isu yang diangkat mencakup bentuk-bentuk kenakalan remaja yang sering ditemui sehari-hari, seperti bahaya perundungan (bullying) baik secara fisik maupun verbal, bahaya merokok dan zat adiktif bagi kesehatan tumbuh kembang, serta dampak buruk dari kecanduan gawai (gadget) dan media sosial yang tak terawasi.

    “Masa remaja adalah fase perubahan biologis dan psikologis. Jika fisik dan mental tidak dijaga dari perilaku merusak seperti merokok atau kebiasaan buruk lainnya, perkembangan mereka akan terganggu. Kami ingin adik-adik paham bahwa menjaga diri dan pergaulan adalah bagian dari menjaga kesehatan jiwa dan raga,” ujarnya saat menyampaikan materi.

    Acara dihidupkan dengan sesi diskusi dan permainan edukatif. Para siswa tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar persoalan sehari-hari dan perubahan yang mulai mereka rasakan menjelang usia remaja.

    Muhammad Miftahul Khoir, Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 73 menekankan bahwa peran bimbingan keluarga dan guru sangat dominan dalam mengawal fase transisi ini. Menurutnya, karakter anak di kelas 6 merupakan cerminan pola pergaulan mereka di jenjang selanjutnya.

    “Masa peralihan dari anak-anak menuju remaja adalah waktu terbaik untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kedisiplinan. Kami berharap adik-adik kelas 6 ini dapat menyalurkan energinya ke hal-hal positif, seperti aktif kegiatan TPQ, olahraga, dan belajar,” tutur Miftah.

    Melalui sosialisasi ini, mahasiswa KKN Posko 73 berharap para siswa kelas 6 di Desa Karangtowo memiliki bekal mental dan spiritual yang tangguh. Sinergi antara edukasi dini dan pendampingan orang tua diharapkan mampu mencetak generasi muda desa yang berkarakter islami, berprestasi, serta terhindar dari pergaulan negatif.

    Penulis: Nurul Hidayatul Karimah

  • Membentuk Karakter Anak Sholih, KKN UIN Walisongo Posko 73 Gelar Festival Islami di Demak

    DEMAK – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 73 UIN Walisongo Semarang menggelar Festival Anak Sholih di Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, pada Selasa (25/8/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di TPQ Darussalam ini menjadi ajang unjuk kebolehan dan apresiasi atas proses belajar para santri. Adapun cabang perlombaan yang diselenggarakan meliputi lomba adzan, hafalan doa harian, menulis surat pendek, serta hafalan surat pendek.

    Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, mengungkapkan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung pendidikan karakter islami sejak dini di Desa Karangtowo.

    “Festival ini merupakan komitmen kami untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak agar memiliki karakter yang islami. Kami berharap kegiatan ini dapat meninggalkan kesan positif dan menjadi pemantik semangat belajar bagi para santri,” ujar Miftah.

    Senada dengan hal tersebut, Koordinator Divisi Pendidikan dan Keagamaan, Ahmad Iksan Hadi Wibowo, menyampaikan bahwa acara ini juga diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

    “Melalui peringatan Maulid Nabi ini, kami ingin memacu semangat anak-anak dalam menimba ilmu agama. Harapannya, perlombaan ini dapat mengasah kemampuan sekaligus memotivasi para santri TPQ Darussalam agar lebih giat belajar,” tambah Iksan.

    Apresiasi positif datang dari pihak pengajar TPQ Darussalam. Ustadzah Nunung menyambut baik inisiatif para mahasiswa KKN yang telah menghidupkan suasana pembelajaran agama melalui kompetisi yang edukatif.

    “Kegiatannya sangat baik dan bermanfaat. Pesan saya untuk ke depannya, semoga bisa ditingkatkan lagi agar dampaknya terasa lebih luas,” tutur Nunung.

    Keseruan acara juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu santri TPQ Darussalam, Akbar Maulana, mengaku senang bisa berpartisipasi meski sempat merasa gugup.

    “Lombanya seru dan menyenangkan, tapi tadi masih ada rasa malu-malu, jadi rasa percaya dirinya masih kurang,” ungkap Akbar polos.

    Rangkaian acara ditutup dengan pesan dari perwakilan mahasiswa KKN agar para santri terus bersemangat menuntut ilmu dan tumbuh menjadi generasi yang sholih serta sholihah. Hal ini sejalan dengan jargon acara yang diusung, yakni Anak Sholih Kebanggaan Orang Tua, yang menegaskan bahwa kesalehan anak merupakan perhiasan dan kebanggaan tertinggi bagi orang tua.

    Penulis: Vina Lestari

  • Semarak GERMAS dan Kemerdekaan: KKN UIN Walisongo Posko 73 Bersama PKK Karangtowo Gelar Senam

    DEMAK — Dalam upaya meningkatkan kebugaran jasmani dan mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang Posko 73 Tahun 2026 berkolaborasi dengan Ibu-ibu PKK Desa Karangtowo menggelar kegiatan Senam GERMAS.

    Kegiatan yang berlangsung meriah ini dilaksanakan di halaman Kantor Desa Karangtowo pada Jumat (14/7/2026).

    Koordinator Desa (Kordes) KKN MIT UIN Walisongo Posko 73, Muhammad Miftahul Khoir, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar menjaga kebugaran fisik, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

    “Senam GERMAS ini bertujuan agar kita semua tetap sehat, bugar, dan produktif dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Miftah.

    Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Desa Karangtowo, Ibu Endang Yulianti, turut memberikan apresiasi dan motivasi kepada seluruh peserta yang hadir. Ia berpesan agar kegiatan semacam ini dapat terus merawat kebersamaan serta menjadi wadah pembiasaan pola hidup sehat di tengah masyarakat.

    “Kami sangat mengapresiasi kolaborasi bersama adik-adik KKN UIN Walisongo Posko 73 ini. Kegiatan Senam GERMAS dan berbagai lomba yang diselenggarakan tidak hanya menyehatkan fisik kita, tetapi juga semakin mempererat kebersamaan, kekompakan, dan silaturahmi antara kader PKK, pemerintah desa, mahasiswa, serta seluruh warga Karangtowo. Semoga semangat hidup sehat dan kebersamaan ini terus terjaga demi mewujudkan masyarakat yang aktif, produktif, dan maju” tambahnya.

    Selain aspek kesehatan, momentum ini menjadi ajang strategis untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah desa, kader PKK, mahasiswa KKN, dan seluruh lapisan masyarakat Desa Karangtowo.

    Melalui agenda seperti ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat semakin tumbuh. Langkah kecil ini juga dijiwai oleh semangat kemerdekaan yang dirangkum dalam slogan kegiatan, yakni “Semangat Sehat untuk Negeri Hebat” dan “Sehat Bersama, Bersatu untuk Indonesia Maju.” 

    Penulis: Ulfani Salsabila

  • HUT ke-81 RI, Warga Karangasem Padukan Jalan Sehat dengan Semangat Nasionalisme

    ‎‎DEMAK – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di lingkungan RT 04 RW 04, Tegalsari, Desa Karangasem, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sekitar 100 warga mengikuti jalan sehat yang digelar sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme.
    ‎
    ‎Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama untuk mengenang jasa para pahlawan. Setelah itu, warga mengikuti jalan sehat mengelilingi wilayah desa mulai pukul 07.30 WIB hingga sekitar pukul 09.00 WIB.
    ‎
    ‎Ketua RT 04 RW 04 Tegalsari, Suprat mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menyemarakkan peringatan kemerdekaan.
    ‎
    ‎Menurutnya, momentum HUT RI tidak seharusnya hanya dirayakan dengan berbagai hiburan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengingat perjuangan para pahlawan.
    ‎
    ‎“Di usia Indonesia ke-81 ini, kita sebagai generasi penerus wajib menunjukkan semangat kita. Salah satunya melalui jalan sehat ini,” kata Suprat.
    ‎
    ‎Ia menambahkan, kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar menjaga kebugaran tubuh. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan warga juga menjadi bagian penting dalam menjaga semangat persatuan.
    ‎
    ‎“Jalan sehat bukan cuma untuk menyehatkan badan, tetapi juga menyehatkan rasa nasionalisme. Kita jangan sampai lupa bahwa kemerdekaan ini diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan yang mahal,” ujarnya.
    ‎
    ‎Antusiasme warga terlihat sejak kegiatan dimulai. Peserta dari berbagai usia mengikuti rute yang telah disiapkan panitia. Sejumlah warga juga turut membantu kelancaran kegiatan, sementara pedagang ikut meramaikan suasana di sekitar lokasi.
    ‎
    ‎”Setelah jalan sehat, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian door prize dan makan bersama. Rangkaian acara diperkirakan selesai sekitar pukul 12.00 WIB,” katanya.
    ‎
    ‎Suprat menyebut hadiah undian memang menjadi salah satu daya tarik bagi peserta. Namun, menurutnya, tujuan utama kegiatan bukan sekadar mendapatkan hadiah, melainkan membangun interaksi dan rasa memiliki di tengah masyarakat.
    ‎
    ‎“Yang paling penting adalah kebersamaan. Warga bisa berkumpul, bercanda, saling membantu dan merasakan bahwa kita adalah satu lingkungan,” katanya.
    ‎
    ‎Sementara itu, salah satu warga, Sodikin mengaku senang dapat ikut memeriahkan rangkaian kegiatan HUT RI di lingkungannya. Ia menilai kegiatan seperti jalan sehat mampu membuat warga semakin akrab.
    ‎
    ‎“Kegiatan 17 Agustus seperti ini sangat bagus karena warga bisa berkumpul bersama. Tidak hanya orang tua, anak-anak juga ikut merasakan suasana kemerdekaan. Harapannya kegiatan seperti ini terus ada setiap tahun dan semakin meriah,” ujar Sodikin.
    ‎
    ‎Ia berharap semangat kebersamaan yang muncul dalam perayaan HUT RI tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
    ‎
    ‎“Kegiatan ini adalah bukti bahwa semangat nasionalisme, gotong royong, dan persatuan warga kita masih sangat kuat. Dari anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, sampai lansia semua ikut gembira dan menikmati kegiatan bersama,” ujar Sodikin.
    ‎
    ‎Menurutnya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya menjadi momentum untuk berkumpul, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
    ‎
    ‎“Melalui jalan sehat kita menjaga kesehatan dan kebersamaan. Melalui lomba-lomba kita tumbuhkan sportivitas, kreativitas, dan rasa kekeluargaan,” katanya.
    ‎
    ‎Ia berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial setiap Agustus. Menurutnya, nilai-nilai yang muncul dalam perayaan tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kegiatan pembangunan di masyarakat.
    ‎
    ‎“Mari kita jadikan peringatan 17 Agustus ini bukan hanya seremonial, tetapi kita isi dengan kerja nyata, menjaga lingkungan, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih maju,” pungkasnya.

    (red)
    ‎

  • Unik dan Berkesan, SMPN 3 Wedung Gelar Lomba HUT RI di Tengah Latar Hutan Mangrove

    DEMAK – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di SMP Negeri 3 Wedung, Kabupaten Demak, berlangsung dengan suasana yang khas dan berbeda dari biasanya.

    Terletak di kawasan pesisir yang dikelilingi hutan mangrove, sekolah ini memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai latar sekaligus bagian dari kemeriahan lomba antarkelas.

    Rangkaian kegiatan digelar selama tiga hari berturut-turut, mulai 13 hingga 15 Agustus 2026. Sejak pagi hari, lapangan sekolah dipenuhi siswa yang antusias mengikuti perlombaan maupun memberikan dukungan kepada teman-temannya yang bertanding.

    Kepala SMP Negeri 3 Wedung, Heru Rahwiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan semata dalam menyambut hari kemerdekaan, melainkan sarana menanamkan nilai positif dan mempererat kebersamaan antarsiswa.

    “Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan. Ini menjadi momentum untuk membangun kekompakan, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan,” kata Heru.

    Keunikan perayaan tahun ini tak lepas dari letak geografis sekolah yang berdampingan langsung dengan ekosistem mangrove. Rimbunnya pohon bakau mengelilingi area sekolah dan lokasi perlombaan, menciptakan nuansa pesisir yang kental sekaligus menjadi peneduh alami yang menyejukkan.

    Selain memberikan kenyamanan, keberadaan hutan mangrove juga menjadi pengingat bagi siswa untuk menjaga lingkungan. Sekolah berharap peserta didik tak hanya memahami makna kemerdekaan, tetapi juga tumbuh kepedulian terhadap alam sekitar tempat tinggal mereka.

    “Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia menyiapkan empat jenis perlombaan. Masing-masing lomba dirancang untuk menguji kemampuan fisik, ketangkasan, konsentrasi, dan kekompakan peserta,” bebernya.

    Lomba yang digelar meliputi bola voli, estafet air, mancing kerupuk, serta Pasukan Baris Berbaris (PBB). Setiap kelas mengirimkan perwakilan yang bertanding dengan semangat kompetitif namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.

    Salah satu lomba yang paling menarik perhatian adalah PBB dengan tantangan khusus: peserta harus bergerak dengan mata tertutup kain merah.

    “Tantangan tersebut membuat peserta harus mengandalkan komunikasi dan kepercayaan terhadap anggota kelompok. Kesalahan dalam memberikan maupun mengikuti instruksi dapat memengaruhi kekompakan tim,” katanya.

    Heru berharap kegiatan ini menjadi pengalaman berkesan sekaligus sarana pendidikan karakter lewat suasana yang menyenangkan.

    “Harapannya anak-anak bisa mengambil nilai gotong royong, disiplin, saling percaya, dan cinta tanah air. Di sisi lain, mereka juga semakin peduli terhadap lingkungan mangrove di sekitar sekolah,” ujarnya.

    Perayaan HUT RI ke-81 di SMP Negeri 3 Wedung pun menjadi perpaduan istimewa antara semangat kemerdekaan, pembentukan karakter, dan kepedulian terhadap lingkungan pesisir.

    (red)

  • KKN MIT UIN Walisongo Posko 79 Dorong Kesadaran Lingkungan Siswa SD Negeri Pidodo melalui Edukasi Pengelolaan Sampah

    DEMAK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang Posko 79 Tahun 2026 menggelar kegiatan edukasi pengelolaan sampah di SD Negeri Pidodo sebagai upaya meningkatkan kesadaran lingkungan sejak usia dini. Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa-siswi SD Negeri Pidodo dengan antusias melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, permainan edukatif, serta pemutaran video pembelajaran.

    Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dalam mendukung terciptanya budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan yang menyenangkan, para siswa diajak memahami bahwa menjaga kebersihan dan mengelola sampah merupakan tanggung jawab bersama.

    Koordinator Divisi Kesehatan Lingkungan KKN MIT UIN Walisongo Posko 79, Prasoya, menjelaskan bahwa program tersebut dipilih karena pembentukan karakter peduli lingkungan perlu dimulai sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, anak-anak merupakan generasi yang relatif mudah dibiasakan menerapkan perilaku positif apabila diberikan pemahaman sejak dini.

    “Program ini kami pilih untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik. Kami berharap mereka memahami dampak sampah terhadap lingkungan serta terbiasa membuang dan memilah sampah dengan benar sejak sekarang,” ujar Prasoya.

    Ia menambahkan, tujuan kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kebiasaan hidup bersih yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Materi yang disampaikan meliputi pengertian dan proses pengelolaan sampah, sumber sampah, serta jenis-jenis sampah, seperti sampah organik, anorganik, limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), dan residu.

    Selain itu, siswa dikenalkan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) beserta contoh pemanfaatan sampah menjadi kompos, pupuk cair, biogas, hingga berbagai produk daur ulang yang bernilai ekonomis. Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN turut menayangkan video edukasi mengenai pembuatan kompos dan pemanfaatan botol bekas menjadi barang yang bermanfaat.

    Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif menyimak materi, menjawab pertanyaan dari pemateri, serta berpartisipasi dalam permainan edukatif yang telah disiapkan. Penyampaian materi secara interaktif dan disesuaikan dengan usia peserta membuat suasana belajar menjadi lebih hidup sekaligus menyenangkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat menjadi media pembelajaran yang efektif bagi anak-anak.

    Salah seorang peserta, Axcel, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut. Ia mengatakan bahwa dirinya kini lebih memahami pentingnya memilah sampah sesuai jenisnya serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah maupun rumah.

    “Sekarang saya jadi tahu kalau sampah harus dipisahkan sesuai jenisnya. Saya juga ingin mulai membuang sampah pada tempatnya supaya lingkungan tetap bersih,” ungkap Axcel.

    Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Semarang Posko 79 Tahun 2026 menyerahkan kenang-kenangan kepada SD Negeri Pidodo berupa tempat sampah hasil daur ulang dari galon bekas. Galon yang sudah tidak terpakai dimodifikasi menjadi tempat sampah dengan tampilan menarik dan fungsional tanpa memerlukan biaya besar.

    Penyerahan tempat sampah tersebut menjadi contoh nyata penerapan prinsip Reuse, sekaligus menunjukkan bahwa barang bekas dapat diolah kembali menjadi sarana yang bermanfaat melalui kreativitas. Mahasiswa berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk mendukung kebiasaan membuang sampah pada tempatnya serta menginspirasi siswa agar lebih peduli terhadap pemanfaatan barang bekas.

    Melalui program edukasi ini, KKN MIT UIN Walisongo Semarang Posko 79 Tahun 2026 berharap para siswa mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Prasoya menyampaikan bahwa kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan menerapkan prinsip 3R, akan memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.

    Mahasiswa KKN juga berharap para siswa dapat menjadi teladan bagi keluarga maupun teman-temannya dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian lingkungan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.

    Penulis: Widya Ningrum (Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Semarang 2026 Posko 79 Desa Pidodo)

Exit mobile version