Kategori: Demak

  • Reuni Rejo Budaya Satukan Pecinta Budaya Jawa dari Berbagai Daerah di Demak

    Reuni Rejo Budaya Satukan Pecinta Budaya Jawa dari Berbagai Daerah di Demak

    ‎DEMAK – Semangat melestarikan budaya Jawa terus dijaga Paguyuban Pemerhati Budaya Jawa Rejo Budoyo Demak melalui kegiatan Temu Kangen dan Reuni Akbar yang digelar meriah di Caffe Boss’e Kabupaten Demak.

    Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi lintas angkatan sekaligus penguat komitmen untuk terus nguri-uri budaya Jawa di tengah perkembangan zaman modern.

    ‎Acara berlangsung khidmat dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Para peserta hadir mengenakan ageman dines Jawi berupa beskap warna-warni lengkap dengan atribut tradisional. Prosesi diawali dengan kirab Bregada I hingga XII warga Rejo Budaya yang menambah semarak kegiatan tahunan tersebut.

    ‎Ketua Panitia sekaligus Ketua Paguyuban Rejo Budaya, Marsono mengatakan kegiatan reuni digelar sebagai wadah mempererat persaudaraan antaranggota yang pernah belajar panatacara dan pamedharsabda Jawa di Rejo Budaya.

    ‎“Semboyannya yaiku siji wadah ojo nganti bubrah seduluran salawase. Jadi meskipun profesinya berbeda-beda, kami tetap satu keluarga dan tetap menjaga budaya Jawa,” ujarnya.

    ‎Menurutnya, sejak berdiri hingga saat ini, jumlah alumni yang telah mengikuti wisuda mencapai sekitar 350 orang dari berbagai daerah. Tidak hanya berasal dari Kabupaten Demak, peserta juga datang dari Kota Semarang, Grobogan, Kudus, Pati hingga Jepara.

    ‎”Untuk mayoritas alumni aktif menjadi panatacara atau pembawa acara adat Jawa di berbagai kegiatan masyarakat seperti resepsi pernikahan, prosesi adat, hingga acara budaya lainnya,” tukasnya.

    ‎Marsono berharap paguyuban tersebut mampu terus berkembang dan menjadi ruang belajar budaya Jawa bagi generasi muda. Ia menilai pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya pada seremoni, tetapi harus diwariskan secara berkelanjutan.

    ‎Sementara itu, Pendiri Dwijo Panuntun Rejo Budoyo, Hardo Supriyadi menjelaskan paguyuban tersebut lahir pada tahun 2010. Awalnya, komunitas itu dibentuk untuk mewadahi para peserta pelatihan panatacara agar tetap bisa berkumpul dan menjaga persaudaraan.

    ‎“Kalau bukan kita yang menjaga budaya Jawa, lalu siapa lagi. Harapannya ini bisa terus berjalan dari generasi ke generasi,” katanya.

    ‎Ia menyebut antusias masyarakat terhadap budaya Jawa terus meningkat. Bahkan, peserta dari luar Kabupaten Demak kini semakin banyak mengikuti pelatihan maupun kegiatan budaya yang diselenggarakan Rejo Budaya

    ‎Salah satu alumni angkatan VIII, Sodikin mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Rejo Budaya. Menurutnya, paguyuban tersebut tidak hanya mengajarkan tata cara berbicara dalam adat Jawa, tetapi juga menanamkan nilai sopan santun, kebersamaan, dan penghormatan kepada budaya leluhur.

    ‎“Saya merasa mendapat keluarga baru di sini. Budaya Jawa harus terus dijaga karena menjadi identitas dan warisan yang sangat berharga bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

    ‎(red)

  • Dari Nol ke Pengusaha, Alumni Rohmaniyyah Kupas Rahasia Kesuksesan

    ‎DEMAK – Suasana hangat dan penuh inspirasi mewarnai kegiatan halalbihalal alumni MA Rohmaniyyah Menur, Mranggen, Demak yang digelar di sebuah rumah makan di kawasan Genuk, Semarang. Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga wadah berbagi pengalaman dan motivasi antaralumni yang telah meniti berbagai bidang usaha.

    ‎Salah satu alumni yang turut berbagi kisah inspiratif adalah Sodiqin, seorang pengusaha di bidang transportasi logistik. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan dua kunci utama menuju kesuksesan, yakni forward thinking (berpikir ke depan) dan action oriented (berorientasi pada tindakan).

    ‎Menurut Sodiqin, kemampuan berpikir ke depan menjadi fondasi penting bagi seseorang untuk berkembang. Ia menekankan bahwa kehidupan hanya 10 persen ditentukan oleh apa yang terjadi, sedangkan 90 persen lainnya bergantung pada bagaimana seseorang menyikapinya. Pola pikir visioner, kata dia, membuat seseorang mampu melihat peluang di balik keterbatasan.

    ‎Ia mencontohkan bagaimana seorang tokoh pengembang mampu mengubah kawasan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi kawasan bernilai tinggi. Dari situ, Sodiqin menegaskan bahwa orang sukses adalah mereka yang mampu melihat masa depan jauh melampaui kondisi saat ini.

    ‎Namun, menurutnya, berpikir saja tidak cukup. Kunci kedua adalah bertindak nyata. Ia mengaku bahwa pada masa mudanya, ia tidak memiliki banyak sumber daya, baik dari segi finansial maupun relasi. Oleh karena itu, ia memilih untuk terus bergerak, mencari peluang, serta belajar dari berbagai pengalaman.

    ‎“Kalau hanya berpikir tanpa bergerak, kita tidak akan ke mana-mana. Dengan bertindak, kita membuka peluang dan memperluas jaringan,” ujarnya.

    ‎Ia juga mengutip filosofi pengusaha legendaris yang menyebutkan bahwa untuk sukses, “otak harus di dengkul”, yang dimaknai sebagai dorongan untuk terus bergerak dan tidak hanya terpaku pada perencanaan.

    ‎Perjalanan Sodiqin hingga menjadi pengusaha tidaklah mudah. Ia memulai dari kondisi tanpa modal dan jaringan yang memadai. Namun, dengan tekad dan kerja keras, ia berhasil membangun usaha di bidang suplai bahan baku pupuk hingga jasa transportasi logistik, serta menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar.

    ‎Sementara itu, alumni lainnya, Supriyadi yang kini menekuni usaha makanan ringan, turut berbagi pengalaman jatuh bangun dalam merintis usaha. Ia mengaku pernah menjalani pekerjaan berat dengan segala keterbatasan, namun tetap optimistis menjadikannya sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.

    ‎Supriyadi menekankan pentingnya perencanaan dalam memulai usaha. Ia menyebutkan bahwa langkah awal yang perlu dipersiapkan adalah tempat usaha, sarana pendukung, serta strategi pemasaran yang matang. Selain itu, kemampuan mengorganisasi dan menjalankan rencana secara konsisten juga menjadi faktor penting.

    ‎“Fokus adalah kunci. Jangan mudah berpindah usaha sebelum yang dijalankan benar-benar berkembang,” katanya.

    ‎Ia juga menambahkan bahwa pengusaha harus mampu melakukan evaluasi dan pengendalian terhadap usaha yang dijalankan, termasuk memahami kondisi pasar dan perubahan yang terjadi.

    ‎Kegiatan halalbihalal ini diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan alumni, khususnya generasi muda yang tengah merintis karier dan usaha.

    (red)

    ‎

Exit mobile version