Biola Bambu, Warisan Seni dan Penopang Hidup Mbah Ngatmin dari Lereng Muria

Kudus278 Dilihat

KUDUS – Halaman depan rumah Mbah Ngatmin dipenuhi deretan karya hasil tangannya sendiri. Warga Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ini telah bertahun-tahun menekuni keahlian mengolah serpihan kayu dan ruas bambu petung menjadi alat musik indah, yang kini menjadi sumber penghidupan sekaligus kebanggaan daerah.

Di sela-sela kesibukannya, sesekali ia memetik senar dan menggesekkan alat pemukanya. Matanya terpejam seolah menyatu dengan nada yang tercipta, jari-jari kirinya bergerak lincah menekan senar, sementara tangan kanannya bergerak tenang mengikuti irama.

Di balik alunan musik itu, tersimpan kisah perjuangan seorang tukang kayu yang tak pernah berhenti berkreasi demi memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Mbah Ngatmin bukanlah seorang musisi yang mengenyam pendidikan formal seni suara. Sehari-hari, ia masih bekerja sebagai tukang mebel di wilayah Dawe. Namun, dari bengkel kayu sederhana miliknya, lahirlah karya unik berupa biola berbahan dasar bambu. Keahlian ini kini telah membawa namanya dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi hingga ke luar pulau bahkan mancanegara.

Perjalanan panjangnya menciptakan biola bermula saat ia merantau ke Bogor pada tahun 2009 silam. Di sana, seorang kerabat yang memiliki usaha kursus musik menantangnya untuk mencoba membuat alat musik tersebut. Berbekal keahlian tangan yang sudah terasah sejak remaja sebagai tukang kayu, rasa penasaran mendorongnya untuk menerima tantangan itu.

Banyak kegagalan yang ia alami di awal. Ada yang bentuknya tidak presisi, ada pula yang menghasilkan suara yang tidak merdu. Namun, ia tidak menyerah dan memilih belajar secara otodidak. Ia bahkan berani membongkar biola buatan Eropa maupun Tiongkok hanya untuk memahami struktur bangunan dan karakter suara yang dihasilkannya.

“Awalnya memang sulit. Tapi lama-lama ketemu rumusnya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Sekembalinya ke Kudus, ia mulai bereksperimen menggunakan bambu petung sebagai bahan baku utama. Menurut pengamatannya, jenis bambu ini memiliki daya pantul suara atau resonansi yang sangat baik, mirip dengan karakter suara yang dihasilkan seruling tradisional.

Pilihannya itu ternyata tepat. Biola bambu buatan Mbah Ngatmin menghasilkan suara yang lembut, jernih, dan memiliki ciri khas tersendiri. Agar tampilan lebih menarik dan bernilai seni tinggi, ia juga menambahkan ornamen ukiran berupa kepala wayang, burung garuda, hingga kuda, sesuai dengan pesanan dan keinginan pembeli.

Untuk harga jualnya, satu unit biola bambu dibanderol antara Rp3 juta hingga Rp4 juta. Sementara itu, biola berbahan kayu biasa dijual lebih murah, yakni sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

Meski harganya terbilang cukup tinggi, peminat tetap berdatangan karena kualitas suara yang dihasilkan serta bentuknya yang unik dan antik.

“Untuk pesanan pernah datang dari Malaysia hingga Hongkong. Sebagian besar pembeli saya itu mengenal produk buatan saya melalui media sosial dan pameran UMKM,” tuturnya.

Namun, di balik kesuksesan karyanya yang mulai mendunia, kondisi ekonomi perajin lanjut usia ini tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku usaha kerajinannya kerap mengalami masa sepi pesanan, terutama dalam beberapa tahun terakhir yang cukup sulit.

Tak ingin hanya mengandalkan satu produk, Mbah Ngatmin juga mengembangkan berbagai jenis kerajinan lain. Ia membuat gitar bambu, miniatur Menara Kudus, hingga ornamen-ornamen untuk keperluan pertunjukan tari tradisional.

Belum lama ini, ia mendapat pesanan sekitar 300 buah ornamen bambu untuk kebutuhan tarian Caping Kalo yang akan ditampilkan dalam acara budaya di Kudus. Pesanan itu ia dapatkan melalui jaringan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus.

“Lumayan buat tambahan ekonomi. Nilainya sekitar empat jutaan,” katanya.

Baginya, segala bentuk pekerjaan akan tetap disyukuri selama mampu menjaga roda perekonomian keluarga tetap berjalan. Bahkan potongan sisa kayu yang tidak terpakai saat pembuatan biola pun tidak ia buang sia-sia. Ia mengolah limbah tersebut menjadi miniatur Menara Kudus dan berbagai suvenir kecil yang tetap memiliki nilai jual.

Meski sudah puluhan tahun berkarya dan tangannya tak pernah berhenti berkarya, Mbah Ngatmin ternyata masih menyimpan satu harapan besar. Ia berkeinginan agar biola bambu khas buatan tangan warga lereng Muria ini dapat diperkenalkan lebih luas lagi kepada para pelajar, bahkan masuk ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari materi pembelajaran seni musik.

Ia percaya bahwa biola bambu bukan sekadar alat musik biasa, melainkan sebuah identitas budaya daerah yang sangat berharga dan wajib dijaga kelestariannya bersama-sama.

“Harapan saya biola bambu ini bisa jadi ikon Kudus dan dikenal anak-anak sekolah,” harapnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *