Tutup Rangkaian Bulan Bung Karno, GMNI Kudus Gelar Bedah Buku untuk Perkuat Mental Generasi Muda

Kudus20 Dilihat

KUDUS – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Kudus mengakhiri serangkaian kegiatan peringatan Bulan Bung Karno dengan menyelenggarakan bedah buku berjudul Mentalitet Korea Semakin Terbanting, Semakin Melenting. Kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun karakter mahasiswa dan pelajar agar memiliki ketangguhan diri dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ketua DPC GMNI Kabupaten Kudus, M. Najibul Faiz, menyampaikan bahwa acara bedah buku ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian agenda Bulan Bung Karno yang berlangsung selama beberapa minggu.

Sebelumnya, GMNI juga menggelar sejumlah lomba, seperti lomba pidato dan penulisan esai yang diikuti oleh siswa tingkat MA, SMA, dan sederajat dari wilayah Muria Raya.

Menurutnya, kegiatan-kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkompetisi, melainkan juga cara untuk memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno serta ajaran marhaenisme kepada generasi muda sejak dini.

“Kami ingin Bulan Bung Karno tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Melalui lomba dan bedah buku ini, kami berupaya memberikan pengetahuan sekaligus membangun karakter generasi muda agar memiliki semangat juang dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan,” ujarnya.

Buku yang dibahas merupakan karya penulis bernama Putut, yang mengangkat pemikiran Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI Jawa Tengah, Bambang Wuryanto atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bambang Pacul.

Dalam buku tersebut, istilah Mentalitet Korea dimaknai sebagai gambaran semangat kaum marhaen yang memiliki daya juang tinggi dan mampu bangkit kembali dari berbagai keterbatasan yang dihadapi.

Najib menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena dinilai sangat relevan dengan kondisi masa kini. Mahasiswa maupun pelajar saat ini membutuhkan bekal mental yang kuat agar mampu menghadapi ketidakpastian situasi, perubahan sosial, serta dinamika kebijakan yang terus berkembang.

“Harapannya, peserta bisa menyerap semangat yang disampaikan para narasumber. Seperti pesan Bung Karno, ‘Ambillah apinya, jangan abunya’. Kami ingin semangat perjuangan itu tetap menyala dalam diri generasi muda,” katanya.

Kegiatan bedah buku menghadirkan penulisnya sendiri, Putut, sebagai pembicara utama. Turut hadir Casytha Arriwi Kathmandu, putri Bambang Pacul sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, yang menyampaikan pandangannya mengenai makna nilai-nilai yang terkandung dalam buku tersebut.

“Diharapkan kehadiran beliau mampu memperkaya diskusi sekaligus memberikan perspektif yang lebih dekat dengan gagasan yang diusung ayahnya,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI Kabupaten Kudus, Yusuf Roni, menyampaikan apresiasi atas konsistensi para kader GMNI dalam menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kapasitas generasi muda.

Menurutnya, bedah buku ini menjadi momen penting untuk menanamkan karakter yang tidak hanya tangguh, tetapi juga inovatif, kreatif, dan disiplin.

“Kami memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Nilai-nilai yang ada di dalam buku Mentalitet Korea sangat relevan sebagai bekal bagi kader GMNI maupun generasi muda secara umum dalam menghadapi tantangan kehidupan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa karakter generasi muda saat ini sering dipandang cenderung pragmatis dan menginginkan segala sesuatu diperoleh secara instan.

Oleh karena itu, pemahaman mengenai pentingnya menjalani proses perlu terus ditanamkan agar terbentuk pribadi yang mampu bertahan dan berkembang.

Yusuf Roni memberikan contoh filosofi bidak pion dalam permainan catur yang dijelaskan dalam buku tersebut.

Meskipun pion memiliki cara bergerak yang terbatas, namun jika mampu melewati setiap tahapan hingga mencapai ujung papan, bidak itu dapat berubah menjadi bidak yang jauh lebih kuat.

“Filosofi itu mengajarkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Dibutuhkan konsistensi, ketekunan, dan keteguhan hati untuk mencapai cita-cita yang diinginkan,” jelasnya.

Pihaknya berharap semangat perjuangan Bung Karno tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku generasi muda yang memiliki daya juang tinggi, berpikir kritis, serta siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *