Waroeng Mbok Tin di Lereng Muria: Ayam Panggang Pakis Jadi Magnet Kuliner Saat Ramadan-Lebaran

Kudus566 Dilihat

KUDUS – Di Desa Kajar, kawasan lereng Muria yang sejuk, sebuah warung makan sederhana berhasil menarik perhatian banyak pengunjung, terutama dalam momen Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri. Waroeng Mbok Tin menghadirkan sajian istimewa berupa ayam panggang pakis, sebuah perpaduan unik antara resep turun-temurun dengan cita rasa lokal khas pegunungan.

Nofi Mahmud Subarkah, pemilik Waroeng Mbok Tin, menjelaskan bahwa menu unggulan tersebut memiliki nilai sejarah dan rasa yang khas. Ayam panggang yang disajikan berasal dari resep keluarga yang kemudian dikreasikan dengan pecel pakis khas daerah lereng Muria.

“Menu favorit di sini ayam panggang pakis. Ini memang kami buat dari resep keluarga, lalu kami kombinasikan dengan pecel pakis yang jadi ciri khas daerah sini,” ujarnya pada hari Sabtu (21/3/2026).

Keistimewaan hidangan ini terletak pada penggunaan bahan baku pakis yang tumbuh liar di area pegunungan dengan kondisi lingkungan lembap. Pakis tersebut diolah menjadi pecel dengan rasa segar dan khas, memberikan sensasi berbeda ketika dinikmati bersama ayam panggang yang gurih.

Selain fokus pada cita rasa, Waroeng Mbok Tin juga mengedepankan konsep masakan tradisional yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Menu yang disajikan dianggap sangat cocok untuk dijadikan sajian saat berkumpul bersama keluarga, terutama di momen perayaan Lebaran.

“Konsepnya memang masakan tradisional, jadi cocok untuk keluarga. Kita ingin menghadirkan suasana makan yang sederhana tapi berkesan,” tambah Nofi.

Momen Ramadan dan Lebaran tahun ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi usaha ini. Menurutnya, terjadi kenaikan penjualan yang cukup besar dibandingkan hari-hari biasa.

“Alhamdulillah, penjualan meningkat drastis, bisa sampai 200 persen. Untuk ayam panggang pakis saja, dalam sehari bisa terjual lebih dari 100 porsi,” ungkapnya.

Peningkatan penjualan tersebut didorong oleh banyaknya pelanggan yang datang dari berbagai daerah, baik sekitar maupun luar kota. Pengunjung berasal dari sepanjang jalur Pantura seperti Jepara, Kudus, Pati, hingga Demak, bahkan ada yang datang dari luar kota hanya untuk mencicipi hidangan khas tersebut.

Selain kelezatan yang khas, daya tarik lain dari Waroeng Mbok Tin adalah cara penyajian yang menarik. Ayam panggang disajikan dengan cara digantung, memberikan tampilan yang berbeda dari warung makan tradisional pada umumnya.

“Kami ingin tetap mempertahankan tradisional, tapi dengan sentuhan kekinian. Jadi tampilannya juga kami buat menarik,” jelasnya.

Dalam hal harga, Waroeng Mbok Tin tetap menjaga keterjangkauan agar dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Menu yang ditawarkan memiliki harga mulai dari Rp10.000 hingga paket lengkap dengan harga Rp120.000.

Menurutnya, inovasi menjadi faktor penting agar usaha kuliner dapat bertahan dan berkembang. Ia terus mengikuti perkembangan selera pasar tanpa harus meninggalkan identitas lokal yang menjadi keunggulan utama.

“Kami berinovasi dari kebutuhan pasar, tapi tetap mempertahankan ciri khas. Itu yang membuat pelanggan terus datang,” pungkasnya.

Dengan kombinasi rasa autentik, suasana alam yang menyegarkan di lereng Muria, serta sentuhan inovasi dalam penyajian, Waroeng Mbok Tin bukan hanya menjadi tempat untuk makan, melainkan juga destinasi kuliner yang memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjungnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *