Ubah Limbah Jadi Cuan, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ajak Ibu PKK Karangtowo Olah Tutup Botol

Demak, Pendidikan30 Dilihat
Demak – Penumpukan sampah plastik di tingkat rumah tangga kerap menjadi persoalan lingkungan yang sulit terurai di kawasan perdesaan. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 73 menghadirkan solusi kreatif melalui pelatihan daur ulang sampah. Bertempat di Gedung Perpustakaan Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, para mahasiswa mengajak kader perempuan desa mengolah limbah anorganik menjadi barang bernilai ekonomis pada Senin (31/8/2026).
Kegiatan pemberdayaan yang dimulai sejak pukul 15.30 WIB ini disambut hangat oleh masyarakat setempat. Sebanyak 20 anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Karangtowo memadati lokasi acara dengan penuh antusiasme. Sejak awal pembukaan, para peserta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap metode pengolahan limbah yang ditawarkan oleh mahasiswa.
Tidak sekadar mendengarkan pemaparan teori di dalam ruangan, para kader PKK diajak langsung mempraktikkan alur produksi secara mandiri dan terstruktur. Tahapan pemrosesan dimulai dari memilah dan membersihkan tutup botol plastik bekas, memotongnya menjadi pecahan-pecahan kecil, hingga melelehkan material plastik tersebut menggunakan panas dari setrika pakaian. Setelah lelehan plastik terbentuk sempurna, bahan dituangkan ke dalam cetakan khusus dan dipasangi ring gantungan kunci hingga menghasilkan karya kerajinan yang estetik, kokoh, serta memiliki nilai guna tinggi.
Pemateri kegiatan sekaligus mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 73, Zaenur Rahman, menjelaskan bahwa pemilihan limbah tutup botol berbasis jenis plastik High-Density Polyethylene (HDPE) ini didasarkan pada ketersediaannya yang sangat melimpah di lingkungan perdesaan. Selain itu, teknik pengolahannya relatif terjangkau dan mudah diserap oleh masyarakat awam tanpa memerlukan alat-alat industri yang rumit.
“Kami sengaja memilih limbah tutup botol karena bahannya sangat gampang ditemukan di sekitar rumah dan biasanya hanya dibuang begitu saja tanpa penanganan. Padahal, jika diberi sedikit sentuhan kreativitas melalui proses pemanasan dan pencetakan, limbah tersebut bisa disulap menjadi gantungan kunci yang unik dan bernilai jual. Kami berharap keterampilan praktis ini dapat terus diteruskan oleh ibu-ibu PKK sebagai rintisan usaha kecil berbasis kelestarian lingkungan,” ujar Zaenur di sela-sela mendampingi warga.
Apresiasi tinggi disampaikan oleh Ketua PKK Desa Karangtowo, Ibu Endang Julianti. Ia menyambut positif kejelian para mahasiswa yang telah memberikan transfer pengetahuan serta wawasan baru bagi pemberdayaan perempuan di desanya. Menurutnya, program ini terbukti membuka pola pikir masyarakat mengenai potensi ekonomi di balik sampah rumah tangga.
“Kegiatan ini sangat membantu dalam memberikan ilmu baru bagi ibu-ibu di Karangtowo. Dari yang semula kami tidak tahu, sekarang menjadi tahu bahwa bahan bekas yang betul-betul tidak terpakai ternyata bisa diolah menjadi gantungan kunci yang sangat bermanfaat. Saya melihat ibu-ibu sangat kompak, guyub, dan senang selama mengikuti prosesnya. Pesan saya untuk warga, tetap semangat dan terus belajar agar bisa mencapai hasil yang terbaik,” tutur Endang.
Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan penuh keakraban, terutama saat memasuki sesi pencetakan lelehan plastik. Obrolan hangat dan gelak tawa mewarnai ruangan ketika para peserta saling berdiskusi memadukan kombinasi warna-warni tutup botol untuk menciptakan motif gantungan kunci yang menarik.
Salah satu peserta pelatihan, Ibu Puji, mengaku mendapatkan pengalaman dan inspirasi baru usai mengikuti lokakarya tersebut. Ia menilai keterampilan ini sangat potensial untuk mengisi waktu luang di rumah sekaligus menambah pendapatan keluarga.
“Seru sekali dan ternyata prosesnya cukup mudah. Dulu pikiran kami tutup botol bekas itu hanya sampah yang tidak ada harganya sama sekali. Setelah diajari oleh adik-adik mahasiswa, ternyata bisa dilelehkan dan dicetak menjadi gantungan kunci sebagus ini. Selain bisa dipakai sendiri atau dijadikan suvenir, ini ada peluang untuk dijual saat ada pameran desa atau bazar PKK. Terima kasih banyak untuk adik-adik UIN Walisongo yang sudah telaten mengajari kami,” ungkap Puji dengan ceria.
Melalui agenda pemberdayaan masyarakat ini, tim KKN UIN Walisongo Posko 73 berharap kesadaran ekologis warga Desa Karangtowo semakin tumbuh secara berkelanjutan. Selain mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dari pencemaran sampah plastik, keterampilan daur ulang ini diharapkan dapat memantik semangat kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) bagi komunitas perempuan di Kabupaten Demak.
Penulis: Utari Cahya Ningsih