Tag: Puisi

  • Mahasiswa KKN Undip Gelar Pelatihan Menulis Puisi untuk Siswa MI Muhammadiyah Kepoh

    Mahasiswa KKN Undip Gelar Pelatihan Menulis Puisi untuk Siswa MI Muhammadiyah Kepoh

    JATENG – Mahasiswa KKN TIM II Universitas Diponegoro melaksanakan program monodisiplin pelatihan menulis kreatif puisi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Kepoh, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Pelatihan ini menyasar siswa kelas 6 MI dan para guru, dengan tujuan meningkatkan kemampuan dalam menulis puisi, serta memperkaya metode pengajaran sastra di sekolah.

    Pelatihan ini berlangsung pada Sabtu, 27 Juli 2024 di ruang kelas 6 MI Muhammadiyah Kepoh dengan diikuti 20 siswa beserta dampingan wali kelas. Kegiatan ini dimulai dengan memberikan pemahaman dasar mengenai struktur dasar puisi, mulai dari rima, diksi, dan majas serta menjelaskan bagaimana puisi dapat menjadi sarana dalam mengekspresikan diri.

    Para siswa kelas 6 tampak sangat antusias mengikuti setiap sesi, di mana mereka diajak langsung untuk menulis puisi berdasarkan tema yang mereka pilih sendiri. Tema yang diangkat sangat bermacam-macam, mulai dari keluarga, sekolah hingga alam, sesuai dengan apa yang ingin mereka ungkapkan. Selain itu, mahasiswa KKN juga mengajak beberapa siswa untuk membacakan hasil karyanya di depan kelas sebagai bentuk apresiasi.

    Kegiatan ini didampingi oleh wali kelas 6 yaitu Bapak Haryanto. Pendampingan ini dilakukan agar para guru mendapatkan wawasan mengenai metode pengajaran sastra yang efektif dalam menulis kreatif khususnya puisi. Pendampingan ini diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi puisi dengan cara yang lebih menarik, sehingga siswa lebih termotivasi untuk menulis dan mengapresiasi karya sastra.

    Ibu Umi Sangadah selaku Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Kepoh menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah bentuk pengabdian yang sangat bermanfaat terutama dalam melatih kemampuan siswa menulis kreatif sebagai jembatan menghasilkan penulis-penulis hebat di masa depan. “Kami berharap melalui pelatihan menulis kreatif ini menjadi sebuah media yang menjembatani dalam menghasilkan penulis-penulis hebat di masa depan,” ujarnya.

    Selain itu, Ibu Umi Sangadah juga berharap agar program serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga bagi guru. Kami berharap program ini dapat berlanjut dikemudian hari sebagai sarana melatih kreativitas siswa,” ungkap Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Kepoh.

    Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan buku antologi puisi hasil karya siswa kelas 6 sebagai kenang-kenangan dari mahasiswa KKN TIM II Undip yang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berkarya.

    Penulis: Anita Febi Firani, Mahasiswa KKN TIM II UNDIP Tahun 2024

  • Mengupas Romantisme Dua Penulis Muda dalam Bedah Buku di Warkoba Kudus

    KUDUS – Dua penulis muda asal Kabupaten Kudus, melahirkan sebuah karya sastra di penghunjung Mei 2024. Dua buku dibedah dan didiskusikan di Warung Kopi Baca (Warkoba), Dersalam, Kudus, Jumat (31/5/2024).

    Agenda malam itu bertajuk “Mikirin Karya”. Sebuah gagasan kolaborasi antara Warkoba dengan komunitas kolektif Tikusputih.co. membincang buku kumpulan puisi “Barbagi Rokok Bersama Bapak” karya Afif Khoirudin Sanjaya dan “Serupa Aksara” karya Nazrey Firmani.

    Menghadirkan dua narasumber, bedah buku Serupa Aksara dan Berbagi Rokok Bersama Bapak turut memantik ekosistem literasi di Kudus.

    Beni Dewa selaku pembedah pertama mengutarakan pendapatnya mengenai karya sastra yang ditulis Firmani sangat layak jika dikembangkan menjadi novel.

    “Saya kira menarik, namun di sepertiga akhir terkesan tergesa-gesa. Ini akan jadi lebih lengkap ketika bisa dikembangkan menjadi sebuah novel,” ujar Beni.

    Jurnalis surat kabar Suara Merdeka itu juga mengungkapkan bahwa tidak ada yang ‘alay’ atau berlebihan dalam sebuah penulisan, termasuk sastra. Menurutnya, Firmani berhasil membangun cerita yang runtut dengan tokoh utama.

    “Kisah-kisah yang ditulis Firmani semacam perjalanan cinta dengan mantan kekasihnya, dari awalnya tidak kenal hingga bisa menjalin sebuah hubungan berlatar kehidupan kampus,” tambahnya.

    Senada dengan Beni, pembedah kedua, Siwi Agustin menyebut bahwa Serupa Aksara ini ditulis dengan bahasa yang jujur dan mudah dipahami.

    “Dengan bahasa yang jujur, berlatar imaji tempat kos, kampus dan peristiwa-peristiwa yang dirangkum cukup cepat,” papar Siwi

    Pegiat Seni di Teater MinabTani Pati itu juga menyampaikan bahwa buku ini dapat dikemas ulang menjadi Senandika atau dialihkan menjadi monolog.

    “Saya memperagakan penulis sebagai tokoh berdiri di depan panggung, kemudian menceritakan ini lewat monolog,” ujarnya.

    Selain itu, menurut Siwi, buku ini juga bisa lebih menarik ketika penulis membuat sekuel dalam cerita di buku tersebut.

    “Harusnya tidak bisa selesai langsung menjadi buku, harus ada yang disisakan untuk tokoh cerita. Tentu akan menarik ketika dipotong menjadi sekuel, ditulis dengan jujur dari awal sampai akhir,” terangnya.

    Beralih ke kumpulan puisi yang ditulis Afif pada 2021 lalu, Siwi menyebut karya Afif ini sangat merepresentasikan diri penulis.

    Siwi melihat bagaimana keberanian dan gejolak hasrat anak muda sangat kentara dalam puisi-puisi yang ditulis Apop, sapaan akrab penulis.

    “Keberanian Afif untuk menunjukkan jiwa mudanya, keridakterimaannya dan kejujuran perasaan yang dilampiaskan lewat umpatan dan bahasa sehari-hari,” terang Siwi.

    Lebih Lanjut, Siwi mengaku seperti merasakan ada pengalaman spiritual penulis pada saat pandemi dari kumpulan puisi setebal 114 halaman itu.

    “Saya merasakan ini juga menjadi perjalanan spiritual Apop, dengan peristiwa yang padat sekali, termasuk sindiran namun tidak vulgar, umpatan, kedekatannya dengan dosok bapak,” akunya.

    Di samping itu, Beni Dewa juga menambahkan bahwa buku “Berbagi Rokok Bersama Bapak” ini menunjukkan kedekatan seorang anak terhadap ayahnya.

    “Saya langsung tertarik ketika di awal sudah disambut dengan kalimat bapakku seorang arsitek bagian pelaksana,” ujarnya.

    Menurut Beni, tidak semua anak laki-laki bisa menunjukkan perasaan kepada ayahnya. Lewat puisi tersebut, Afif seperti ingin mengungkapkan romantisme kecil penulis dengan ayahnya.

    “Entah itu saling berbagi rokok saja atau tidak, tetapi yang jelas penulis berhasil menggugah emosi pembaca, dengan puisi-puisi yang dekat, ia menunjukkan anak laki-laki juga bida akrab dengan bapaknya,” pungkasnya.

    (Asw)

  • Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana – Segelas Teh

    SEGELAS TEH 

     

    Di musim kemarau

    Kami (ayah & ibu)

    menghabiskan

    senja dengan ngobrol ringan.

    Tentang tujuan hidup

    Tentang menghilangkan rasa stres,

    dan sedikit pegal.

     

    Kami melihat langit

    langit berwarna.

    Kami membayangkan

    “suatu ketika’’, dst.

    Tanaman-tanaman kecil

    di dekat kami ngobrol dihempas angin.

     

    Kami membayangkan;

    Jika tubuh kami serupa tanaman itu

    Akan kah tumbang atau-kah stres?

    (2023)

     

    RUMAH IMPIAN

    Sebuah tempat tinggal

    adalah keinginan.

    Bermimpi;

    mempunyai rumah
    tempat untuk istirahat,
    bekerja dan membaca.

    Yang biasa-biasa saja.

    Ada sepasang pohon mangga
    (kanan-kiri).

    Tempat burung-burung kecil pulang.

    Dan; banyak warna bunga kamboja

    atau melati tempat makan serangga.

    Tak lupa; sepasang tempat duduk

    atau beberapa pasang.
    yang nantinya untuk mempersilahkan
    dan menjamu tamu.

    (2023)

     

    MENGEJA HURUF-HURUF HIJAIAH

     

    Di depan masjid; bangunan baru.

    Pukul 14.00, anak-anak tersenyum,

    Bermain bersama temannya.

     

    Tempat baru itu;

    anak-anak bersuara lantang

    atau nyaring dan serentak

    mengucapkan alif, ba, ta, tsa, dst.

     

    Semakin lantang mereka

    mengeja huruf-huruf hijaiah.

    Guru-pun tersenyum.

     

    Hari telah senja.

    (2023)

     

     

    PENANTIAN

     

    Dermaga begitu luas

    Menampung segala beban.

    Orang-orang pulang

    bercerita pengalaman sedih dan bahagia.

    (mereka lupa, mereka akan segera pulang)

     

    Di dermaga-Mu;

    sejenak merunduk dan berdoa.

    Semoga dan tersemogakan.

     

    “Amin”

    (2023)

     

     

    TUBUH I (satu)

     

    Di dekat jendela

    Membuka beberapa buku puisi,

    Mencoba menulis. Kesulitan.

    Dibuang, dibakar dan dihilangkan

    dari kenyataan. Tak sanggup menulis.

    Tubuh ini terlalu lelah. Istirahatlah.

    (2023)

     

    Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus.

  • Puisi-Puisi Ilham Wiji Pradana

    BUKU DAN CITA – CITA ANAK 

    : Nirwan Ahmad Arsuka

     

    Kuda itu selalu meringkik pelan

    demi menuju tempat

    anak-anak yang akan lapar bacaan.

     

    Kuda itu, Nir

    selalu membawa kabar gembira

    dan tawa anak-anak.

    Nir, engkau selalu

    menanyakan berapa buku

    telah engkau lahab habis-habis.

    & ucapanmu terakhir kepada anak-anak

    “cita-citamu akan menjadi apa?”

     

    Selamat Jalan Nir,

    (2023)

     

     

    DI SURAU; SUARA-SUARA MULAI TERDENGAR

    Berjanji itu;

    dilantunkan lantunkan dengan lirih.

    Suara anak kecil melengking

    & diikuti dengan suara

    “Allahhuma Sholli Allaih”

    Dan melanjutkan

    “Mahalul Qiyam”

    Semua orang berdiri, dan bershalawat.

    (2023)

     

     

    JAM DINDING

    Kenapa jam itu berdetak?

    Perlahan; angin

    diam-diam mendesir.

    Dan daun-

    daun jatuh

    tepat di atas nisanmu.

    (2023)

     

     

    TUBUH PUISI

    Mungkin saya pernah menulis puisi

    Satu, dua atau tiga kali. Kalau tidak salah.

     

    Pertama; tentu itu tubuh saya.

    Ke dua; ada dorongan batin

    (untuk melakukan itu semua).

            Atau ruh yang harus segera diselesaikan.

    (2023)

     

    Ilham Wiji Pradana. Lahir dan berkarya di Pati, Jawa Tengah. Alumnus IAIN Kudus.

  • Penyair Nusantara Kampanyekan Anti Korupsi Lewat Puisi

    Tuturmedia.com, Kudus – Puluhan penyair dan sastrawan di Indonesia berorasi lewat pembacaan puisi di Balai Budaya Rejosari, Sabtu (16/9/2023).

    Agenda itu bernama Roadshow Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke-64, sebuah gerakan kampanye anti korupsi.

    Gerakan PMK dengan tagline “tagline satu hati tolak korupsi” ini melibatkan puluhan penyair dari berbagai daerah, seperti Semarang, Jepara, Pati, Pemalang, Yogyakarta, Ponorogo, Rembang, Brebes, hingga Jakarta.

    Sekitar 40an penyair berorasi, menyampaikan gagasan dan keresahannya lewat puisi dengan berbagai cara, seperti teatrikal, orasi, atau musikalisasi puisi.

    Ketua PMK Nasional, Sosiawan Budi Sulistyo atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Sosiawan Leak mengungkapkan PMK ini merupakan gerakan kampanye anti korupsi bersama para penyair dan sastrawan se-Indonesia.

    Gerakan PMK ini, lanjut Leak, sudah dimulai sejak 2013. Berjalan 10 tahun ini, pihaknya turut melibatkan banyak komunitas untuk menyuarakan kampanye menolak korupsi ini sebagai gerakan moral bersama.

    “Fungsinya selain membantu pemerintah, juga sebagai kontrol sosial dan esukasi masyarakat. Artinya masyarakat perlu ambil peran juga. Untuk menguatkan kontrol kebijakan dan perilaku yang menyimpang,” kata Leak ketika diwawancarai, Sabtu 16 September 2023.

    Di samping itu, agenda PMK #64 ini juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi sarasehan anti korupsi dan pentas seni. Beberapa komunitas terlihat ikut andil dalam gerakan ini, seperti halnya penampilan Tari Lingkar Rasa dari Sanggar Ciptoning Asri, Komunitas Seni Samar, Karawitan SMAN 1 Kudus dan pentas dari seniman lainnya.

    Leak juga menambahkan, bahwa gerakan PMK ini juga menerbitkan buku antologi puisi yang mengangkat tema anti korupsi. Menjelang Pemilu 2024 ini, ia mengaku timnya akan menerbitkan buku PMK ke-9 bertema “Mencari Presiden Antikorupsi”.

    “Sampai sekarang ini sudah mau penerbitan ke-9. Ini juga menjadi cara kami untuk kampanye dengan melihat realita sosial yang sedang terjadi,” tambah penyair dan penulis asal Surakarta itu.

    Sementara itu, Dosen Universitas Muria Kudus, Muhammad Kanzunuddin merespons kegiatan PMK di Kudus ini sebagai gerakan yang cukup strategis untuk berkampanye anti korupsi lewat puisi.

    Menurutnya, ini merupakan edukasi dan gerakan moral yang bisa mencerahkan masyarakat, terutama generasi muda.

    Penyair dan sastrawan, kata dia, juga menjadi bagian dari masyarakat yang mempunyai tanggungjawab moral untuk mencintai negaranya.

    “Lewat puisi, bisa menjadi strategi yang tepat merespons fenomena di sekelilingnya. Apalagi korupsi sudah membudidaya di Indonesia dan harus dilawan,” terangnya.

    Dirinya berharap gerakan ini dapat berjalan dan lebih masif, sehingga bisa menjadi nilai edukasi pada anak-anak muda dan pelajar untuk menumbuhkan sikap anti korupsi sejak dini.

    “Sarasehan tadi pagi juga bisa jadi edukasi bagi anak-anak pelajar, sebagai suatu gerakan pencerahan yang tepat dan strategis,” pungkasnya.

    (Syim)

Exit mobile version