PP IPPNU Ajak Pelajar Manfaatkan Teknologi Secara Bijak serta Bangun Relasi Sejak Dini

Nasional191 Dilihat

BANDAR LAMPUNG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU), Whasfi Velasufah, mengajak seluruh pelajar untuk mempersiapkan diri menghadapi arus pesatnya disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan ini dituntut tidak hanya pandai memanfaatkan kemudahan dunia digital, tetapi juga mampu memelihara nilai-nilai moral serta membangun citra diri yang bijak di ruang maya.

Menurutnya, kemajuan teknologi seperti kehadiran ChatGPT memang sangat membantu pekerjaan dan tugas akademik pelajar masa kini. Namun, kemudahan itu sekaligus membawa tantangan baru, mulai dari risiko kejahatan siber hingga dampak jangka panjang bagi masa depan. Sebagai bekal yang penting, ia mengingatkan agar kebiasaan membangun hubungan atau relasi di dunia nyata dimulai sejak dini.

“Jangan sepelekan langkah yang kecil ini, ya. Mulai dari kita, nah ini jangan lupa save-save-an kontak, ya. Karena ke depan, selain dari skill, itu ada namanya relasi, ya. Relasi bahwa kita bisa bersama-sama, kenal satu sama lain, mungkin nanti diterima di kampus yang sama, atau bahkan nantinya bisa ketemu di level yang lain,” ujar Vela dalam kegiatan Sarasehan bertajuk Belajar, Berjuang, Bertaqwa bersama Pelajar Lampung. Kegiatan yang dihadiri pengurus OSIS, Rohis, dan IPPNU itu berlangsung di Balai Keratun Pemerintah Provinsi Lampung, Sabtu (13/6/2026).

Hal senada disampaikan Kepala Subdirektorat PAI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Lelis Tsuroya. Ia menegaskan bahwa di tengah era AI yang memungkinkan penyusunan makalah selesai hanya dalam hitungan detik, kualitas seorang pelajar tidak lagi dinilai semata dari angka rapor atau nilai ujian, melainkan dari sikap jujur dan integritas saat memanfaatkan teknologi.

“Jadi, pelajar yang bertakwa tahu bahwa menyontek menggunakan AI lalu mengakuinya sebagai karya pribadi itu adalah pengkhianatan terhadap ilmu,” tegas Lelis.

Ia mengibaratkan prestasi akademik yang tinggi tanpa didasari akhlak yang baik layaknya kendaraan yang melaju kencang namun tidak memiliki rem yang berfungsi. Selain itu, aspek keimanan dan ketakwaan disebutnya sebagai penopang utama bagi kesehatan mental generasi Z dan generasi Alpha. Lelis juga mendorong pelajar untuk memiliki daya nalar kritis agar tidak mudah terjebak dalam rasa takut ketinggalan zaman atau FOMO, serta terhindar dari penyebaran ujaran kebencian saat menggunakan media sosial.

Selain menjaga integritas dan berpikir kritis, Tokoh Inspiratif Muda Lampung, Anistia Rizki mengingatkan para pelajar untuk senantiasa memperhatikan rekam jejak diri. Setiap unggahan atau status yang dibagikan melalui WhatsApp, Instagram, maupun TikTok secara tidak langsung membentuk pandangan orang lain terhadap diri mereka, atau yang sering disebut sebagai citra diri.

Ia mengingatkan agar ambisi dan cita-cita yang sedang diperjuangkan tidak terhambat hanya karena kesalahan atau kecerobohan dalam mengunggah konten di masa lalu, mengingat saat ini rekam jejak digital seseorang dapat dengan mudah ditelusuri oleh publik.

“Artinya teman-teman yang hari ini gue ingin sampaikan, caranya kita memang harus hati-hati sekali dalam bersemangat di media sosial. Baik di WA, baik di Instagram, TikTok, dan lain-lain. Karena sesederhana kita bikin story, ternyata itu semua berpengaruh,” katanya.

“Jangan sampai proses kalian menggapai itu terganjal oleh posting yang kalian di masa lalu,” pungkas Anis.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *