Peringati Hari Lingkungan Hidup, Kudus Gelar Workshop Olah Limbah Kain Perca Jadi Produk Bernilai Guna

Kudus43 Dilihat

KUDUS – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kabupaten Kudus dimeriahkan dengan kegiatan edukasi berupa lokakarya dan diskusi pengelolaan sampah. Melalui acara ini, peserta diajak memahami pentingnya memperpanjang masa pakai barang bekas sekaligus menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Ketua Panitia Hari Lingkungan Hidup Kudus, Muhamad Alaika, menyampaikan kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB dan diikuti puluhan peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Sebelum mengikuti sesi materi serta praktik, para peserta terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan menerima perlengkapan yang akan digunakan selama kegiatan berlangsung.

“Kami ingin memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat bahwa barang sisa masih memiliki nilai guna dan bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan sampah dan konsep ekonomi sirkular, sebelum melanjutkan ke sesi praktik pembuatan kerajinan tangan. Bahan utama yang digunakan adalah kain perca atau sisa potongan kain, yang banyak dihasilkan oleh industri konveksi maupun usaha tekstil di daerah tersebut.

Dengan pendampingan narasumber, peserta belajar membuat dua jenis kerajinan, yaitu bunga tulip dan cepol rambut. Kedua produk dipilih karena cara pembuatannya sederhana, memiliki nilai keindahan, serta dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Alaika, pemilihan kain perca sebagai bahan dasar kegiatan bukan tanpa alasan. Selama ini, limbah tekstil menjadi salah satu jenis sampah yang volumenya cukup besar dan sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Kain perca sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk diolah kembali. Dengan kreativitas sederhana, limbah ini bisa menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi jumlah sampah,” katanya.

Ia menjelaskan, bunga tulip dipilih karena bentuknya yang umum dan mudah dibuat, sehingga dapat dikerjakan oleh peserta laki-laki maupun perempuan.

Sementara itu, cepol rambut dipilih mengingat mayoritas peserta yang hadir adalah perempuan, baik remaja maupun ibu rumah tangga.

Panitia telah menyediakan kuota sebanyak 130 peserta. Dari jumlah tersebut, tingkat kehadiran mencapai lebih dari 50 persen, atau sekitar 60 hingga 70 orang. Sebagian besar peserta yang hadir adalah perempuan yang tertarik mempelajari keterampilan mengolah barang bekas menjadi kerajinan.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan KreseK.id dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni.

Meskipun pelaksanaannya dilakukan beberapa hari setelah tanggal peringatan, tujuan utama untuk memberikan edukasi lingkungan tetap menjadi fokus utama.

Selain lokakarya dan diskusi, acara juga menghadirkan sejumlah pelaku usaha kreatif yang memamerkan produk berbahan ramah lingkungan. Di antaranya adalah Sentuni Handmade, Godong Salam Ecoprint, Rana Nusa Craft, dan Aliya Handycraft.

Alaika menegaskan bahwa kerja sama dengan berbagai komunitas, bank sampah, dan pelaku usaha mikro menjadi langkah penting untuk memperkuat gerakan peduli lingkungan di tengah masyarakat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi mampu menumbuhkan kebiasaan baru untuk memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu peserta bernama Febrian mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan ini. Menurutnya, lokakarya tersebut membuka wawasan bahwa limbah kain yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diubah menjadi karya kreatif yang memiliki manfaat serta nilai jual.

(red)