Patiayam Bertransformasi Menjadi Kampung Alpukat, Lahan Gersang Kini Menghijau dan Berpenghasilan

Kudus577 Dilihat

KUDUS – Kawasan Perhutanan Sosial Patiayam yang terletak di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kini tampak berubah drastis. Dulu dikenal sebagai wilayah perbukitan yang gersang dan tandus, kini kawasan tersebut bertransformasi menjadi hamparan hijau yang dipenuhi tanaman buah-buahan. Bahkan, pohon alpukat yang ditanam warga telah mulai berbuah dan memberikan hasil panen yang dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar.

Kepala Desa Terban, Supeno, mengungkapkan bahwa upaya menghijaukan kembali wilayah Patiayam telah menjadi cita-cita utamanya sejak pertama kali menjabat sebagai kepala desa pada tahun 2020. Melihat kondisi alam di daerah asalnya yang terbuka dan tidak memiliki banyak pepohonan, ia merasa terpanggil untuk mengajak warga bergerak bersama menanam jenis tanaman yang produktif, terutama tanaman buah.

“Sejak awal saya punya niat bagaimana Patiayam bisa kembali hijau. Saya malu kalau tempat kelahiran sendiri tetap gundul,” ujarnya.

Kini, usaha keras yang dilakukan selama bertahun-tahun mulai membuahkan hasil nyata. Tanaman alpukat yang ditanam beberapa waktu lalu telah memasuki masa panen perdana. Sebagian dari hasil panen pertama ini pun telah dibagikan kepada warga di sekitar lokasi sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.

Supeno menjelaskan, konsep yang diterapkan dalam program penghijauan ini tidak hanya sekadar menanam pohon besar atau tanaman pelindung, tetapi lebih mengutamakan jenis tanaman buah yang memiliki nilai jual dan manfaat ekonomi bagi petani. Strategi ini dipilih agar masyarakat memiliki alasan kuat dan semangat lebih tinggi untuk terus menjaga dan merawat kelestarian kawasan hutan, karena mereka dapat merasakan manfaatnya secara langsung.

“Kalau masyarakat diberi tanaman yang ada hasilnya, mereka akan ikut menjaga dan merawat,” katanya.

Selain mengandalkan tanaman utama berupa alpukat, warga juga mulai menerapkan sistem pertanian tumpang sari di lahan yang sama. Jika sebelumnya tanah di sana hanya ditanami jagung, kini para petani mulai beralih menanam komoditas lain seperti kopi, jahe, laos, hingga kencur di sela-sela pepohonan buah.

Menurut Supeno, pola pertanian campuran ini memiliki dua manfaat sekaligus: membuat pemandangan kawasan Patiayam semakin hijau dan asri, serta membuka peluang peningkatan pendapatan ekonomi bagi warga desa.

“Jadi bukan hanya buahnya yang menghasilkan, tapi tanaman di bawahnya juga ada nilai ekonominya,” jelasnya.

Perkembangan program penghijauan ini semakin pesat setelah mendapatkan dukungan dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) pada tahun 2022 lalu. Bantuan yang diberikan senilai Rp5 miliar tersebut khusus dialokasikan untuk mendukung pengembangan dan penanaman berbagai jenis buah-buahan di kawasan Patiayam.

Saat ini, sebagian besar pohon alpukat yang ditanam sudah mulai lebat berbuah. Supeno bahkan menargetkan, pada tahun ini saja hasil panen alpukat dari wilayah tersebut mampu mencapai angka 20 hingga 40 ton.

“Targetnya ke depan hasil panennya semakin besar dan bisa menjadi komoditas unggulan,” katanya.

Transformasi Patiayam tidak berhenti sampai di penghijauan semata. Pemerintah Desa Terban kini mulai mempersiapkan wilayah tersebut agar ditetapkan sebagai sentra penghasil buah andalan baru di wilayah timur Kabupaten Kudus. Selama ini, kawasan penghasil buah berkualitas di Kudus lebih dikenal berada di wilayah utara seperti Colo, Japan, dan Rahtawu.

Supeno memiliki harapan besar agar Patiayam kelak dapat berkembang menjadi destinasi agrowisata berbasis buah-buahan. Hal ini diharapkan dapat menarik kedatangan wisatawan sekaligus mengangkat taraf kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
“Kami ingin mengubah image Patiayam. Kalau selama ini sentra buah ada di utara Kudus, maka Patiayam juga harus bisa menjadi kawasan buah unggulan di wilayah timur,” pungkasnya.

(red)