Lomba Keluarga ASIK Kudus 2026: Bangun Budaya Kelola Sampah Sejak Lingkungan Terdekat

Kudus636 Dilihat

KUDUS – Perubahan besar dalam pengelolaan lingkungan ternyata dapat dimulai dari langkah sederhana di dalam rumah tangga. Semangat inilah yang menjadi landasan penyelenggaraan Lomba Keluarga ASIK (Apik dan Resik) Kabupaten Kudus 2026, yang puncak kegiatannya dilaksanakan pada Senin (9/6).

Program ini merupakan hasil kerja sama antara Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus dan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), yang tidak hanya berfungsi sebagai ajang pemberian penghargaan, tetapi juga sarana menumbuhkan kesadaran lingkungan yang berakar dari unit keluarga.

Gerakan Kudus ASIK telah menggulirkan serangkaian kegiatan edukasi pengelolaan sampah sejak Desember 2025. Sebanyak 150 kader PKK telah mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya menangani sampah langsung dari sumbernya. Program ini menekankan peran sentral keluarga, khususnya ibu, sebagai penggerak utama yang dapat menanamkan kebiasaan hidup bersih dan ramah lingkungan kepada seluruh anggota keluarga.

Upaya tersebut diperkuat melalui empat sesi pelatihan yang diselenggarakan BLDF pada Januari 2026. Materi yang disampaikan mencakup keterampilan praktis, mulai dari cara memilah sampah, mengurangi volume sampah rumah tangga, hingga teknik pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Tingginya minat dan partisipasi masyarakat menjadi indikator keberhasilan program ini. Lebih dari 56 konten edukasi dihasilkan oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tingkat keluarga, Rukun Tetangga, Rukun Warga, hingga kelurahan.

Setelah melalui proses penilaian yang ketat pada akhir April lalu, terpilih 16 peserta terbaik yang terdiri dari delapan nominasi kategori Rintisan Baru dan delapan nominasi kategori Eksisting untuk menjalani verifikasi langsung di lapangan.

Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menyatakan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter generasi mendatang. Oleh sebab itu, setiap program lingkungan yang dijalankan BLDF selalu menjadikan keluarga sebagai titik pusat perubahan perilaku masyarakat.

“Keluarga bukan hanya penerima manfaat program lingkungan, tetapi juga aktor utama yang menentukan keberhasilan pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Ketika kebiasaan memilah sampah menjadi budaya di rumah, dampaknya akan terasa hingga tingkat lingkungan dan daerah,” ujarnya.

Menurut Mutiara, antusiasme yang ditunjukkan warga Kudus membuktikan bahwa kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan terdekat semakin meningkat.

Ia berharap model pemberdayaan masyarakat seperti ini dapat diterapkan di wilayah lain, sehingga gerakan pelestarian lingkungan dapat terus meluas.

Dalam kesempatan yang sama, BLDF juga memperkenalkan peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memuat data 525 titik penjemputan sampah yang tersebar di seluruh wilayah Kudus.

Kehadiran teknologi ini diharapkan memudahkan masyarakat menemukan lokasi pengumpulan sampah, terutama sampah jenis organik.

Untuk mendukung operasional layanan tersebut, disediakan 10 unit armada pengangkut yang beroperasi setiap hari antara pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Setiap kendaraan mampu mengangkut sekitar 70 hingga 120 tong sampah setiap harinya dari berbagai wilayah menuju Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) Djarum. Jangkauan layanan ini mencakup area dengan radius hingga 27 kilometer dari lokasi pengolahan.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara pemerintah daerah dan Djarum Foundation dalam mendukung keberlanjutan lingkungan hidup.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari siapa yang keluar sebagai pemenang, melainkan dari keterlibatan seluruh pihak yang secara konsisten berperan aktif di tingkat desa dan kelurahan.

“Lomba ini bukan sekadar mencari pemenang, tetapi melahirkan teladan yang mampu menginspirasi masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan peduli lingkungan secara berkelanjutan,” kata Sam’ani.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas PKPLH Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo, menegaskan bahwa penanganan masalah sampah memerlukan partisipasi dari seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga merupakan langkah awal yang sangat krusial bagi keberhasilan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

“Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata. Kolaborasi masyarakat yang dimulai dari rumah menjadi kunci terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tegas Didik.

Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2022, program Kudus ASIK telah berhasil menjalin kerja sama dengan sekitar 370 mitra dari berbagai sektor. Berkat sinergi yang terjalin, tercatat sekitar 50 ton sampah berhasil dikumpulkan setiap harinya.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan perilaku yang dimulai dari lingkungan keluarga mampu memberikan dampak positif yang signifikan bagi terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan lestari.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *