Lewat Boneka Kertas, Lumbungbaca KBPW Ajak Anak Muda Asah Kreativitas

Kudus34 Dilihat

KUDUS – Akhir pekan tidak selalu harus diisi dengan aktivitas yang menguras tenaga. Bagi sekelompok anak muda di Kudus, membuat kerajinan tangan dari bahan sederhana justru menjadi cara untuk melepas penat sekaligus meredakan stres.

Hal itu terlihat dalam kegiatan lokakarya boneka kertas yang digelar komunitas Lumbungbaca KBPW di Taman Lalu Lintas Hutan Kota Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Minggu (6/9).

Belasan anak muda duduk melingkar sembari memegang lembaran kertas. Kertas tersebut diremas, dibentuk, dan dikreasikan menjadi berbagai boneka sederhana sesuai imajinasi masing-masing peserta.

Koordinator Lumbungbaca, Saeful Annas, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu alternatif relaksasi di tengah rutinitas harian yang padat.

Menurut Annas, aktivitas sederhana seperti menyentuh, meremas, hingga membentuk kertas menjadi boneka dapat menjadi metode terapi untuk membantu meredakan stres.

Selain memberikan efek relaksasi, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk mengasah kreativitas sekaligus menuangkan imajinasi anak muda melalui karya yang mereka buat.

“Mula-mula peserta membuat satu boneka, lalu memperagakan cara boneka itu bergerak, bernafas hingga bersuara,” ujarnya.

Annas menjelaskan, lokakarya boneka kertas tersebut merupakan kegiatan perdana yang digelar di Kudus. Gagasan itu terinspirasi dari sebuah komunitas seniman asal Yogyakarta yang menggelar pertunjukan menggunakan boneka kertas tanpa suara.

Menurutnya, konsep tersebut menarik untuk diterapkan di Kudus. Proses membuat boneka, menggerakkannya, hingga membangun cerita dinilai dapat menjadi sarana untuk mengobati inner child atau sisi masa kecil yang masih ada dalam diri seseorang.

Ia menilai dunia anak identik dengan imajinasi yang bebas dan tidak terbatas. Karena itu, lokakarya tersebut juga melibatkan beberapa peserta anak-anak, termasuk yang berusia sekitar lima tahun, sehingga mereka dapat sekaligus melatih kemampuan motorik halus.

“Saya membayangkan bagaimana menghidupkan boneka seolah-olah mahluk hidup, itu yang dipraktikkan peserta, berimajinasi seperti masa kecil,” katanya.

Kreasi boneka yang dibuat peserta pun tidak terbatas pada penggunaan kertas. Berbagai material sederhana seperti daun, kertas bekas, kain, hingga limbah yang sudah tidak terpakai dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bentuk boneka yang beragam.

Bagi Annas, lokakarya tersebut bukan ajang untuk menilai seberapa bagus hasil karya peserta. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan, emosi, serta pengalaman melalui boneka yang dibuat.

“Ternyata karya teman-teman bagus, dan mereka bisa berimajinasi dengan kampung halaman, masa kecilnya, atau membuat bentuk-bentuk unik yang bisa diceritakan,” bebernya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk menghidupkan salah satu ruang publik di Kudus tersebut. Menurutnya, ruang publik dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas positif yang mendorong kreativitas anak muda.

Selain lokakarya, sejumlah kegiatan seperti diskusi buku, pementasan, pameran, hingga pembuatan kolase dan zine dinilai dapat menjadi pilihan untuk memanfaatkan ruang publik tersebut.

“Sayang sudah ada ruang publik bagus tetapi jarang digunakan. Kegiatan ini juga bisa merefresh otak dan menjadi hal baru yang menyenangkan di akhir pekan,” tandasnya.

(red)