Komunitas Ruang Tumbuh Dorong Anak Panti LKSA Samsah Kudus Berani Bermimpi

Kudus186 Dilihat

KUDUS – Anak-anak panti asuhan berhak tumbuh dengan kasih sayang, lingkungan aman, dan keberanian untuk membayangkan masa depan, bukan hanya sekadar bertahan hidup.

Hal inilah yang digerakkan oleh Komunitas Ruang Tumbuh dalam mendukung anak-anak Panti Asuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samsah Kudus, dengan mengajak mereka belajar sambil bermain dan berbagi cerita, meskipun terkadang kekurangan kasih sayang orang tua.

Minggu (4/1), sebanyak 28 anak usia SD hingga SMA diajak mengeksplorasi dunia luar melalui berbagai aktivitas, mulai dari penanaman pohon hingga proses roasting kopi. Mereka juga dikenalkan pada peluang kerja seperti menjadi barista, pedagang, atau teknisi, dengan harapan bisa berdikari dan mengejar mimpi setelah meninggalkan panti.

“Kalau cuma belajar sudah biasa dilakukan di panti, hari ini anak-anak diajak mengenal dunia luar, belajar sambil bermain, menanam bibit pohon sampai menyeduh kopi,” ujar Dwi Mariatul Khiftiyah, koordinator komunitas, pada hari yang sama.

Kegiatan berlangsung di kebun kopi Dukuh Pandak, Desa Colo, Kecamatan Dawe. Setelah mendapatkan edukasi tentang penanaman kopi dan konservasi lingkungan, anak-anak juga diajarkan tentang dunia usaha perkopian.

“Edukasi kopi di kebun, menanam bibit kopi dan mengajarkan anak bagaimana mencintai lingkungan,” tambahnya.

Acara ini merupakan lanjutan dari program “menggambar peta mimpi”, di mana anak-anak menuangkan cita-cita melalui gambar dan mempresentasikannya.

“Anak-anak panti sebagian takut bermimpi, mereka merasa jauh dengan mimpi, takut dan tidak punya akses, kami mencoba mendampingi dan memfasilitasi supaya mereka berani bermimpi,” tandasnya.

Perlu diketahui, tidak semua anak di panti berstatus yatim piatu; ada juga yang yatim, terlantar, atau dibawa orang tuanya ke panti akibat kesulitan ekonomi. Hal ini mendorong komunitas untuk terus beradvokasi, bekerja sama dengan petani Desa Colo dan pemilik Zayna Kopi, Muhammad Ridlo.

Rizqi Muhammad Firdaus (17), yang telah tinggal di panti selama lima tahun, mengaku merasakan pengalaman baru.

“Saya ingin jadi barista, supaya ketika dewasa nanti bisa berwirausaha. Lagipula saya juga suka ngopi,” ucap remaja asal Klumpit, Kecamatan Gebog, setelah mempraktikkan pembuatan kopi di Zayna Kopi.

Sementara itu, pendamping komunitas Agatha Astrisele menyatakan, kegiatan ini berfungsi sebagai terapi.

“Ada bounding emosi ketika melihat anak-anak panti gembira, mereka perlu dipupuk supaya lebih berani bermimpi, dan tidak takut tumbuh bersama,” ucapnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *