PURWOKERTO – Perisai Demokrasi Bangsa (PDB) berkolaborasi dengan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) menyelenggarakan Simposium Demokrasi dengan tema “Smart Voters, Bright Future: Manifestasi Suara Kelompok Muda di Era Demokrasi Digital”.
Kegiatan berlangsung Kamis (16/7) mulai pukul 13.00 WIB di Hotel Surya Yudha, Purwokerto, dan dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, organisasi kepemudaan, serta pemantau pemilu se-wilayah Banyumas Raya.
Kepala Bagian Hubungan Antar Lembaga KPU RI, Andi Setio Pranata, hadir secara langsung untuk memberikan sambutan pembuka. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif PDB yang telah menjadi mitra strategis KPU RI dalam upaya pendidikan pemilih.
“KPU RI sangat terbuka untuk kolaborasi seperti ini. Kunci demokrasi berkualitas ada di tangan pemilih cerdas, terutama anak muda. Di era digital, tantangannya adalah hoaks dan politik uang. Karena itu, ‘Smart Voters’ harus jadi gerakan bersama agar melahirkan ‘Bright Future’ untuk demokrasi Indonesia,” tegasnya.
Anggota KPU Kabupaten Banyumas, Yasum Surya Mentari, S.IP, turut menyampaikan sambutan yang menekankan urgensi literasi digital bagi pemilih pemula.
“KPU tidak bisa jalan sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat sipil seperti PDB sangat membantu kami menyebarluaskan pendidikan pemilih. Anak muda harus paham hak dan kewajibannya, serta berani jadi agen sosialisasi di lingkungannya,” ujar Yasum.
Forum ini menghadirkan empat tokoh kunci sebagai pembicara, yaitu Masykurudin Hafidz selaku Rektor Akademi Pemilu & Demokrasi, Rani Zuhriyah selaku Anggota Bawaslu Banyumas, M. Rikza Hasballa selaku Ketua Umum Pengurus Nasional PDB, serta Ahmad Rizqinal Mubarok selaku Ketua PDB Jawa Tengah.
Dalam pernyataannya, Ketua Umum PDB Nasional M. Rikza Hasballa menegaskan simposium ini merupakan wadah strategis untuk menggerakkan peran aktif kaum muda.
“Ini manifestasi nyata suara kelompok muda. Pemilih muda harus cerdas menyaring informasi di era demokrasi digital,” ujar Rikza.
Selanjutnya, tiga pembicara menyampaikan materi utama dalam sesi diskusi:
– Masykurudin Hafidz, Rektor Akademi Pemilu & Demokrasi, membedah secara mendalam tantangan penyebaran disinformasi dan misinformasi di media sosial. Ia menekankan bahwa kemampuan literasi digital sangat dibutuhkan pemilih pemula agar tidak mudah terprovokasi isu SARA maupun berita bohong yang dapat merusak kualitas pelaksanaan pemilu.
– Rani Zuhriyah, Anggota Bawaslu Banyumas, menjelaskan peran penting pengawasan partisipatif dari masyarakat. Menurutnya, kaum muda harus berani menyampaikan laporan jika menemukan dugaan pelanggaran, khususnya praktik politik uang dan politisasi isu SARA, demi terwujudnya pemilu yang jujur dan adil.
– Ahmad Rizqinal Mubarok, Ketua PDB Jawa Tengah, memaparkan komitmen pengurus daerah PDB dalam menggerakkan pemilih muda. Ia mengajak seluruh organisasi kepemudaan di Banyumas Raya untuk bersatu menjadi garda terdepan pendidikan politik di tingkat masyarakat paling bawah.
Kegiatan ini ditutup dengan seruan bersama “AYO PANTAU BERSAMA!” sebagai bentuk komitmen kolektif menjaga integritas proses demokrasi dan pemilu.
(red)
