Jembatan Logung Mulai Dibangun, Buka Peluang Besar Pertanian dan Wisata Desa Tanjungrejo

Kudus614 Dilihat

KUDUS – Perjuangan warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, untuk memiliki jembatan penghubung di atas Sungai Logung akhirnya membuahkan hasil.

Infrastruktur yang telah dinantikan selama puluhan tahun itu kini mulai dibangun, dan diharapkan menjadi pendorong utama kemajuan sektor pertanian, ketahanan pangan, serta pengembangan potensi wisata di wilayah tersebut.

Kepala Desa Tanjungrejo, Christian Rahadiyanto, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan di kawasan Blok Tambak Romo merupakan aspirasi yang sudah lama disampaikan masyarakat, dan akhirnya dapat diwujudkan berkat dukungan program pemerintah pusat.

“Usulan pembangunan jembatan ini sudah diperjuangkan lebih dari 10 hingga 20 tahun. Baru tahun ini bisa terealisasi karena masuk dalam program pendukung ketahanan pangan dan akses penyeberangan bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, wilayah di sekitar Sungai Logung menyimpan potensi pertanian yang sangat besar, dengan hamparan lahan seluas puluhan hektare yang hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Tanaman utama yang dibudidayakan warga adalah jagung, yang menjadi bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan nasional.

Menurut Christian, izin pelaksanaan pembangunan diperoleh melalui komunikasi yang terjalin dengan Komandan Kodim Kudus. Setelah proposal dan dokumen pendukung dikirimkan ke tingkat pusat pada akhir Mei, persetujuan dari Mabes TNI diterima hanya dalam waktu delapan hari.

“Prosesnya sangat cepat. Setelah proposal kami kirim, delapan hari kemudian langsung mendapat persetujuan. Ini menjadi momentum penting bagi kemajuan desa,” katanya.

Pekerjaan fisik dimulai dua hari menjelang perayaan Iduladha dengan dilakukannya peletakan batu pertama. Pembangunan berlangsung secara gotong royong, melibatkan partisipasi warga, personel TNI, serta didukung ketersediaan alat berat di lokasi.

Saat ini, pengecoran bagian sisi barat telah selesai dikerjakan, dan pekerjaan dilanjutkan ke bagian tengah serta sisi timur jembatan. Secara keseluruhan, konstruksi ditargetkan selesai dalam waktu 30 hari, meliputi pemasangan rangka baja hingga pengecoran tahap akhir.

Dengan adanya jembatan ini, akses menuju lahan-lahan subur akan terbuka lebar, termasuk kawasan bekas galian C yang selama ini terlantar. Pemerintah desa memperkirakan terdapat hampir 100 hektare lahan yang nantinya dapat diolah dan dimanfaatkan secara produktif.

“Lahan pascatambang yang selama ini tidak produktif bisa dihidupkan kembali. Potensinya sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Selain membangun jembatan, pemerintah desa juga merencanakan pembukaan jalan permanen yang menghubungkan kawasan pertanian dengan lokasi bumi perkemahan. Jalur tersebut diharapkan dapat menunjang pengembangan sektor pertanian sekaligus pariwisata secara berkelanjutan.

Di bidang kepariwisataan, Pemerintah Desa Tanjungrejo berencana menghidupkan kembali objek wisata Cengkir Manis yang sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.

Pemulihan dan penataan ulang tempat wisata ini didukung bantuan dana dari pemerintah daerah sebesar Rp50 juta serta anggaran dari Pendapatan Asli Desa.

“Kami menargetkan Cengkir Manis kembali beroperasi maksimal pada Maret tahun depan. Fokus utamanya wisata arung jeram atau river tubing dengan konsep paket perjalanan yang lebih menarik dan terpadu dengan sajian kuliner khas setempat,” jelasnya.

Untuk menjamin kelancaran kegiatan wisata, pemerintah desa juga telah berkoordinasi dengan pengelola Bendungan Logung terkait pengaturan debit air.

Disepakati bahwa aliran air akan dialirkan secara teratur setiap akhir pekan, sehingga aktivitas wisata dapat berjalan dengan aman dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *