Harapan Tumbuh di Tengah Keterbatasan, Siti Dapat Perhatian dan Bantuan

Kudus482 Dilihat

KUDUS – Dari Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, muncul kisah yang menyentuh hati. Seorang ibu berusia 57 tahun bernama Siti Sumanah harus berjuang menghadapi berbagai keterbatasan hidup, bahkan kondisi ekonomi yang sulit sempat memaksa anak bungsunya berhenti mengenyam pendidikan selama dua tahun lamanya.

Saat ini, Siti tinggal di sebuah hunian berukuran hanya sekitar 3×4 meter. Rumah tersebut jauh dari standar kelayakan; atapnya menggunakan asbes, lantainya masih berupa tanah, dan dindingnya hanya ditutup terpal yang dipasang seadanya. Ia baru menempati tempat tinggal ini sekitar lima bulan terakhir, setelah menjual rumah lamanya yang berada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog.

“Hidup saya sekarang ya seadanya, yang penting bisa makan. Saya ingin anak saya bisa sekolah lagi,” ujar Siti dengan nada suara yang lirih dan penuh harap.

Dana yang didapat dari penjualan rumah tersebut dipakai untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, membiayai pernikahan anak pertamanya, serta melunasi sejumlah utang keluarga. Beban hidup terasa semakin berat semenjak suaminya meninggal dunia akibat sakit stroke, membuat Siti harus berjuang sendirian menafkahi dan mengurus seluruh anggota keluarga.

Tekanan ekonomi yang terus menekan akhirnya berdampak pada pendidikan anak bungsunya. Ia terpaksa putus sekolah selama dua tahun, padahal jika tidak ada kendala biaya, anak tersebut seharusnya sudah menempuh pendidikan di kelas tiga jenjang pendidikannya. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa hingga saat ini, masalah keuangan masih menjadi penghalang terbesar bagi sebagian warga dalam memperoleh akses pendidikan yang layak.

Kondisi memprihatinkan yang dialami Siti akhirnya menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupati Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Bellinda Birton datang langsung meninjau tempat tinggalnya dan melihat sendiri kesulitan yang dihadapinya.

“Kami tidak ingin ada anak di Kudus yang kehilangan hak pendidikannya. Ini harus segera ditangani,” tegas Sam’ani saat berada di lokasi.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut cepat dari laporan yang disampaikan oleh masyarakat. Momen itu pun bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, sehingga kehadiran pimpinan daerah sekaligus menjadi pengingat akan komitmen bersama untuk memastikan setiap warga, tanpa memandang kondisi ekonomi, berhak mendapatkan kesempatan belajar.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah daerah menyerahkan bantuan berupa kebutuhan pokok, antara lain beras dan sembako lainnya, serta perlengkapan tempat tidur seperti kasur dan selimut. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan sedikit beban hidup yang selama ini dipikul Siti dan keluarganya.

Tidak berhenti pada bantuan materi, pemerintah juga memastikan masalah pendidikan anak Siti akan segera diselesaikan. Skema bantuan pendidikan akan disusun dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga, sehingga anak tersebut dapat kembali bersekolah tanpa khawatir terbebani biaya.

“Kami akan carikan solusi terbaik, termasuk memastikan anaknya bisa kembali bersekolah secepatnya,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah juga tengah mengupayakan perbaikan tempat tinggal Siti melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RSLH). Meski demikian, rencana ini masih memerlukan kajian dan pengecekan teknis lebih lanjut, mengingat lokasi hunian saat ini berada di pinggir aliran sungai sehingga memerlukan pertimbangan khusus terkait keamanan dan kelayakan pembangunan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *