KUDUS – Keseharian Eka Risqiana selalu dipenuhi aktivitas padat. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) ini dikenal tidak bisa berlama-lama tanpa melakukan sesuatu. Bagi dirinya, kesibukan bukanlah beban, melainkan cara untuk tetap aktif, berpikir, dan berkembang.
Saat ini, Eka tengah menyelesaikan tugas akhir skripsi. Selain itu, ia masih menjabat sebagai pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMKU hingga masa jabatan berakhir pada Maret 2026. Dengan dua peran tersebut, hari-harinya hampir tidak ada jeda kosong.
Pengalaman organisasinya dimulai ketika terlibat dalam program Community Empowerment yang mendapatkan pendanaan dari Djarum Foundation. Bersama timnya, ia berhasil meraih pendanaan untuk program pemberdayaan petani di Desa Menawan.
Program tersebut berfokus pada inovasi memanfaatkan batang tembakau sebagai bahan produksi pewarna batik. Kegiatan ini kemudian diakui sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN), sehingga Eka dapat lebih fokus pada pelaksanaan program dan tanggung jawab organisasi.
Pada awal 2026 mendatang, kesibukan Eka semakin meningkat. Bulan Januari akan menjadi masa persiapan tiga program kerja besar BEM UMKU. Salah satunya adalah UMKU Fest 2026 yang digabungkan dengan Piala Rektor, yang mencakup turnamen voli dan futsal.
Turnamen voli akan diadakan pada tanggal 17–18 Januari, sedangkan turnamen futsal berlangsung pada 23–24 Januari. Seluruh kegiatan akan diselenggarakan di kampus UMKU sekaligus sebagai ajang peresmian lapangan serbaguna baru.
Program kedua bernama Rumah Asa, yang menargetkan siswa sekolah dasar negeri di Desa Jojo, Kecamatan Mejobo. Melalui kerja sama dengan komunitas Transit dari Solo, BEM UMKU mengadaptasi modul pembelajaran berbasis pendampingan anak.
“Program ini diharapkan mampu memperkuat karakter dan minat belajar siswa sejak usia dini,” katanya.
Program ketiga adalah Desa Mitra yang berlokasi di Undaan Tengah, tepatnya di Kampung Kalkun. Eka dan timnya berusaha mengembangkan inovasi pemanfaatan bulu kalkun menjadi produk kerajinan, sekaligus membantu pemasaran olahan daging kalkun yang selama ini hanya memiliki pasar terbatas.
Di balik padatnya agenda yang harus dijalankan, Eka memiliki cara sederhana untuk mencari ide dan menjaga kesehatan mental. Berkopi menjadi waktu untuk berdiskusi sekaligus merenung, baik bersama rekan maupun secara pribadi. Kadang kala, ia juga memilih untuk menyendiri dengan mengendarai motor menuju pantai di Jepara sebagai waktu untuk diri sendiri.
“Lebih baik ada kegiatan daripada tidak sama sekali,” ujarnya singkat.
Prinsip tersebut yang mendorongnya untuk terus bergerak. Bagi Eka Risqiana, berdiam terlalu lama justru lebih membuat lelah dibandingkan dengan kesibukan yang ia jalani.
(red)






