Gelar Peringatan Maulid Nabi dan Malam Perpisahan, Mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 Karangtowo Hadirkan Kiai dari Mranggen

Demak, Pendidikan13 Dilihat

DEMAK— Suasana khidmat dan penuh keharuan menyelimuti Halaman TPQ Darussalam, Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak pada Rabu (2/9/2026) malam. Ratusan warga bersama tokoh masyarakat dan jajaran pemerintah desa berbaur menjadi satu dalam acara Malam Perpisahan dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terpadu (MIT) 22 Posko 73.

Malam puncak pengabdian mahasiswa tersebut menghadirkan penceramah terkemuka asal Mranggen, Demak, yakni Kiai Nahdlatul Ulum. Kehadiran beliau menjadi magnet tersendiri bagi warga Desa Karangtowo yang antusias memadati lokasi acara sejak usai salat Isya.

Acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan sholawat nabi, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Muhammad Miftahul Khoir, Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 73. Dalam penyampaiannya, Miftah mewakili seluruh rekan-rekan mahasiswa menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf setinggi-tingginya kepada seluruh lapisan masyarakat Karangtowo.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehangatan serta bimbingan yang diberikan oleh warga Desa Karangtowo selama kami berproses di sini. Pengalaman serta kebersamaan selama masa KKN ini menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Pemerintah Desa Karangtowo, Pak Subakir, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas pengabdian yang telah ditunjukkan oleh para mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73 selama bertugas di desa mereka.

“Kami atas nama pemerintah desa dan warga mengucapkan terima kasih atas dedikasi adik-adik mahasiswa. Kehadiran kalian tidak hanya membantu kegiatan kemasyarakatan, tetapi juga membawa energi positif dan semangat baru bagi putra-putri di desa kami,” tutur Pak Subakir dalam sambutannya.

Suasana haru tak terelakkan saat panitia menayangkan video profil desa dan after movie catatan perjalanan KKN yang digarap oleh mahasiswa. Tayangan dokumenter tersebut merangkum berbagai momen pengabdian, program kerja sosial, pengajaran agama, hingga keakraban harian mahasiswa bersama warga tempatan. Senyum gembira hingga tetesan air mata haru mewarnai wajah para warga yang menyaksikan rekaman jejak kebersamaan tersebut.

Tidak hanya kenangan manis, momen malam perpisahan ini juga dimanfaatkan untuk memberikan penghargaan bagi anak-anak desa melalui penyerahan hadiah Festival Anak Sholeh. Berbagai perlombaan keagamaan yang telah digelar beberapa hari sebelumnya diserahterimakan malam itu di hadapan para orang tua murid. Kebahagiaan memancar dari wajah para pemenang saat menerima hadiah dari mahasiswa KKN dan tokoh masyarakat.

Memasuki acara inti, Kiai Nahdlatul Ulum menyampaikan mauidhoh hasanah di hadapan para jamaah. Dalam ceramahnya, pengasuh asal Mranggen tersebut memberikan petuah langsung terkait pentingnya meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW serta menjaga persaudaraan sesama umat Islam.

“Peringatan Maulid Nabi ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meniru akhlak mulia Kanjeng Nabi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga silaturahmi dan kepedulian sosial di masyarakat,” tutur Kiai Nahdlatul Ulum dalam ceramahnya.

Beliau juga memberikan pesan khusus kepada para mahasiswa KKN yang akan mengakhiri masa pengabdiannya di Desa Karangtowo.

“Untuk adik-adik mahasiswa KKN Posko 73, jadikanlah pengalaman berbaur dengan warga Karangtowo ini sebagai bekal hidup. Ilmu akademis yang dipadukan dengan pemahaman realitas masyarakat akan membentuk kalian menjadi insan yang berakhlaqul karimah dan bermanfaat bagi bangsa serta agama. Jangan putus tali silaturahmi walau masa KKN telah usai,” tambah beliau.

Rangkaian acara yang penuh makna tersebut dipungkas dengan pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh Kiai Nahdlatul Ulum, memohon keberkahan untuk kemajuan Desa Karangtowo serta kelancaran studi bagi para mahasiswa KKN MIT 22 Posko 73.

Sebagai penutup silaturahmi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama (kembul bujana) antara mahasiswa, penceramah, perwakilan desa, dan warga setempat. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol eratnya rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang terjalin manis hingga akhir masa pengabdian.

Penulis: Vina Lestari