Tag: Seniman

  • Ketika Para Seniman Masuk Dalam Panggung Politik 

    Ketika Para Seniman Masuk Dalam Panggung Politik 

    TUTURMEDIA.COM – Perubahan, kekal dan seringkali menuai kontroversi. Namun tanpa perubahan, manusia sepertinya tidak akan berkembang dan tetap berjalan mengikuti jejak-jejak mati. Bukannya tak mungkin umat manusia nantinya hanya berkutat pada hari yang begitu-begitu saja dengan hal yang sama terus-menerus.

    Dari sebagian anggapan seniman yang memasuki kawasan politik adalah hal yang tidak sepantasnya, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak mendapat celah sedikitpun untuk menjadi bagian partai politik. Sah-sah saja seorang seniman masuk kedalam ranah politik, pasalnya seniman memang sangat dekat dengan politik.

    Setiap insan memerlukan perubahan dalam hidupnya, bahkan yang paling kreatif sekalipun. Di dunia ini, sebut saja orang-orang kreatif itu sebagai seniman. Biasanya, apa yang dilakukan para seniman itu luar biasa. Menggaet banyak ‘pengikut’ melalui karya-karyanya yang hampir semuanya spektakuler. Selalu saja ada hal baru yang dibuat oleh mereka dan menjadi tontonan orang banyak. Selain berperan sebagai tokoh, seniman juga acapkali disebut-sebut sebagai pengamat sosial yang mengkritik kejadian-kejadian tak normal di sekitarnya dengan membuat sebuah atau beberapa karya yang memengaruhi orang-orang untuk ikut melihat dan menilai keadaan. Hebatnya lagi, para pakar kreatif ini selalu menghasilkan karya yang bersifat membela rakyat dan atau menyadarkan banyak orang untuk selalu berpikir jernih.

    Banyak cara yang diusahakan para seniman untuk memperjuangkan teriakannya agar setidaknya didengar dan direalisasikan, namun seringkali gagal dan hanya ditanggapi sebatas angin lalu. Saban hari, karya saja tidak cukup. Saban tahun, perubahan pun muncul. Merasa bosan karyanya kurang diperhatikan, maka kini seniman pun memulai aksinya ke tingkat yang lebih tinggi. Dari yang sebagai seniman asal rakyat biasa, menuju seniman berwujud pejabat pemegang kekuasaan. Mungkin terdengar sedikit menyeramkan. Pemegang kekuasaan. Dua kata tersebut selama ini mendefinisikan kehidupan politik Indonesia yang kotor.

    Siapapun yang menjalaninya akan menjadi kotor. Kotor dalam artian banyak hal tentunya, dan kata orang, sudah pasti tidak baik. Imajinasi semu seperti itulah yang kerap diterima masyarakat sehingga muncul paradigma bahwa lebih baik tidak berurusan dengan hal-hal yang berbau politik. Namun jika tidak ada yang mau berurusan dengan politik, negara Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Maka, mereka yang berkemampuan dan berani menanggung harapan orang banyaklah yang harus maju mengisi kursi-kursi kosong di atas, tidak terkecuali para seniman.

    Sudah hal yang biasa pada zaman modern ini, seniman menginjakkan kakinya pada panggung politik. Dari yang selama ini hanya berjalan di tanah kehidupan, mengaiskepercayaan orang dari sebuah karya, kini memberanikan diri menyodorkan harapan besar untuk orang banyak melalui tingkatan yang lebih tinggi yang entah itu tanpa melupakan identitasnya sebagai seniman atau sebaliknya. Trend seniman menjadi bagian dari partai politik ini jelas menuai banyak pendapat, kritik, dan kontroversi. Masih banyak yang berseru; para seniman tidak cocok berada dalam kawasan politik karena hanya bersifat semu. Banyak partai yang meminang seniman layaknya artis top untuk menggaet popularitas dan meningkatkan elektoral partainya.

    Sah saja kalau mampu, kalau tidak, hanya akan jadi badut politik. Ada juga kabar burung yang mengatakan seniman yang berpolitik sudah bukan seorang seniman yang berkualitas lagi karena akan susah menggunakan jiwa seni nya dalam berpolitik. Bayangkan, dari awalnya ingin membela rakyat dengan membangkitkan rasa berbudaya dan kesenian, ujung-ujungnya jadi capek sendiri dan kalah dalam persaingan antar individu saat berpolitik.

    Penulis: Lalik Kongkar, Pemerhati Sosial Minat Kajian Politik Sastra dan Filsafat

  • Seniman Street Art di Kudus Mengabadikan Rhy Husaini dalam Mural “Aku Adalah Puisi”

    Seniman Street Art di Kudus Mengabadikan Rhy Husaini dalam Mural “Aku Adalah Puisi”

    Tuturmedia.com, Kudus – Sejumlah seniman street art dari Kudus dan sekitarnya berkumpul di tembok barat Jl. Raya Kudus-Colo, Desa Cendono Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu 8 Oktober 2023 untuk menggambar sebuah mural istimewa bertajuk “Aku Adalah Puisi.”

    Karya seni ini merupakan penghormatan kepada Rhy Husaini, seorang sastrawan Kudus yang baru saja meninggal dunia. Rhy, yang dikenal sebagai seniman, penyair, dan budayawan muda yang aktif di Kampung Budaya Piji Wetan selama beberapa tahun terakhir, mendapatkan penghargaan ini sebagai bentuk kenangan dan penghargaan atas kontribusi besarnya.

    Mural tribute to Rhy, kata Habib, digambar bersama enam seniman mural, di antaranya dengan name stage Habib Seinzu, Ichiko, Soxlamnicleboy, Ceone, Libehaho dan Dose. Proses gambar mural ini dilakukan dari pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB Minggu malam.

    “Mural ini kami dedikasikan untuk kawan kami, sebuah persembahan dengan karya yang kami bisa,” ungkapnya.

    Habib menjelaskan, ada beberapa teknik yang digunakan dalam menggambar mural “Aku Adalah Puisi” tersebut. Mulai dari semprot, cat hingga teknik stensil. Menurutnya hal itu tergantung dari kreativitas para seniman.

    “Dari bentuknya juga berbeda-beda. Saya sendiri menggambar karakter Rhy dengan sensil, kalau teman saya ada yang semprot dan kuas cat,” sambung Habib sambil menunjukkan proses menggambar mural di sebelahnya.

    Bagi dia dan teman-teman street art Kudus, kegiatan ini menjadi salah satu cara agar karya Rhy tetap hidup dan bersinar.

    “Dia sering menginspirasi kami, untuk terus berkarya, tumbuh dan bersinar. Salah satu puisinya juga kami abadikan di tembok ini,” pungkasnya.

    Sebagai informasi, mural ini dapat dilihat ketika melewati jalan arah Colo-Kudus atau sebaliknya, tepatnya di sebelah selatan Alfamart Cendono, Dawe, Kudus.

    (syim)

  • Lukis Sketsa Wajah di Piring, Seniman Muda dari Dukuhseti Pati Berhasil Ciptakan Karya Seni yang Unik

    Lukis Sketsa Wajah di Piring, Seniman Muda dari Dukuhseti Pati Berhasil Ciptakan Karya Seni yang Unik

    Tuturmedia.com, Pati – Dalam dunia seni rupa, inovasi dan eksperimen terus menjadi sumber inspirasi bagi para seniman. Salah satu seniman muda yang berani berkreasi dengan teknik yang unik adalah Zuham.

    Warga desa Ngagel, Dukuhseti, Kabupaten Pati ini berhasil mengembangkan seni menggambar sketsa wajah dengan menggunakan media yang tidak biasa, yaitu sebuah piring.

    Zuham mengaku mengembangkan seni lukis ini mulai dipelajarinya beberapa tahun yang lalu. Ia menemukan bahwa menggambar di piring bisa memberikan kesan yang unik dan menarik, serta memberikan tantangan baru bagi dirinya sebagai seniman.

    “Dengan tekun berlatih dan memperhatikan detail yang sangat penting, saya berhasil menguasai teknik ini secara bertahap,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan, menggambar di piring bukanlah tugas yang mudah. Butuh waktu untuk menyelesaikan sebuah karya yang unik ini tergantung pada tingkat kesulitan gambar dan keahlian seniman itu sendiri.

    “Membuat lukisan ini membutuhkan waktu yang lebih lama daripada menggambar pada media kertas biasa. Hal ini karena permukaan piring yang licin membuat pensil sulit melekat dan menimbulkan kesulitan dalam menciptakan bayangan dan detail yang diinginkan,” terangnya.

    Terkait tantangan dalam menggambar di piring, menurutnya merupakan hal yang wajar, salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah ketika menjaga kestabilan tangan agar tidak menggeser atau menghapus gambar yang sudah dibuat.

    “Menggambarnya butuh kesabaran dan ketekunan dan kita harus mengatasi kesulitan tersebut untuk menghasilkan karya-karya yang mengagumkan,” katanya.

    Tips Melukis di Piring

    Selain itu ia memberikan tips bagi orang yang tertarik untuk mencoba menggambar di piring, Pertama, penting untuk menggunakan pensil dengan kekerasan yang tepat agar dapat menghasilkan garis yang tajam namun tidak merusak permukaan piring.

    Kedua, perlu latihan dan kesabaran ekstra untuk menguasai teknik ini. Terakhir, jangan takut untuk berkreasi dan menciptakan karya yang unik, karena dalam seni, imajinasi, dan inovasi tidak memiliki batas.

    Dengan seni menggambar sketsa wajah di piring, ia berharap agar bisa menginspirasi banyak orang dan membuktikan bahwa karya seni dapat diciptakan dengan media apapun.

    Inovasi dan eksperimen semacam ini memperkaya dunia seni rupa, menggugah imajinasi, dan mengajak kita untuk melihat keindahan dari sudut pandang yang berbeda.[]

    Pengirim: Ryo Dwi Setiawan