Tag: Kofiku

  • Kelas Menulis Kofiku Bedah Buku “Someday Is Today”:  Rahasia Konsistensi Menulis di Tengah Kesibukan

    Kelas Menulis Kofiku Bedah Buku “Someday Is Today”: Rahasia Konsistensi Menulis di Tengah Kesibukan

    KUDUS – Suasana akrab menyelimuti ruang kegiatan Mini Teater Perpusda Kudus di Komplek GOR Bung Karno, Wergu Wetan, Kota Kudus, pada Rabu sore (28/5/2025) dalam sesi Kelas Menulis Kofiku.

    Kali ini, kegiatan rutin komunitas menulis tersebut membedah buku Someday Is Today karya Matthew Dicks, penulis yang juga dikenal lewat bukunya yang lebih dulu populer, Storyworthy.

    Kegiatan ini dimoderatori oleh Siti Nur Hasisah dan menghadirkan Arif Rohman sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, Arif menekankan bahwa buku ini sangat relevan dengan orang yang sedang berjuang membangun konsistensi menulis di tengah kesibukan sehari-hari.

    “Matthew Dicks bercerita tentang bagaimana ia bertransformasi dari seseorang yang nyaris ditembak mati saat berusia 22 tahun, hingga menjadi pribadi yang sangat disiplin dan efektif dalam memanfaatkan waktu,” ujar Arif. Buku ini, lanjutnya, bisa menjadi panduan untuk menumbuhkan kedisiplinan serta kesadaran terhadap nilai waktu.

    “Matthew mengaku dirinya hanyalah orang biasa yang memutuskan untuk tidak menunda. Semua orang bisa berkembang, asalkan mereka punya dua hal: kemauan untuk mencoba dan kesediaan untuk gagal,” tambah Arif, mengutip pernyataan Matthew.

    Salah satu hal yang menarik perhatian Arif adalah bagian pengantar buku yang ditulis oleh istri Matthew. Hal ini, menurutnya, menjadi validasi bahwa kebiasaan dan prinsip yang diterapkan Matthew memang nyata dan berdampak.

    Bahkan sang istri mengisahkan, Matthew sempat menyempatkan diri menulis selama sepuluh menit saat menunggu kontraksi kelahiran anak mereka. Sebuah contoh ekstrem yang menunjukkan bagaimana waktu-waktu kecil bisa sangat bermakna ketika digunakan dengan sadar.

    Salah satu gagasan utama yang dibahas adalah pendekatan dalam mengambil keputusan seolah-olah kita sudah berumur 100 tahun.

    “Dengan membayangkan diri kita di usia lanjut, kita bisa menilai mana hal yang benar-benar penting dan tidak seharusnya ditunda,” terang Arif.

    Buku ini juga menyajikan banyak contoh nyata. Salah satunya adalah kisah tentang seorang calon penulis yang datang menemui Matthew untuk meminta nasihat soal kontrak penerbitan. Ternyata, orang tersebut belum mulai menulis satu kalimat pun.

    Ia hanya berencana mulai menulis selama setahun setelah mempelajari dunia penerbitan. Sebaliknya, Matthew memberi contoh bahwa dalam waktu tujuh menit menunggu calon penulis itu datang, ia bisa menulis sembilan kalimat. Sebuah penegasan bahwa proses kreatif tidak perlu menunggu waktu panjang.

    Setelah sesi pemaparan, diskusi berlangsung aktif. Siti Nur Hasisah sebagai moderator turut membagikan refleksi pribadi. Ia mengaku sering merasa harus menunggu satu hingga dua hari agar bisa duduk tenang untuk menulis. Namun, setelah mendengar isi buku ini, paradigma itu terasa runtuh.

    “Rasanya seperti ditampar,” ujarnya sambil tersenyum.

    Beberapa peserta lain yang hadir dan aktif berdiskusi antara lain Jimat Kalimasadha, Naila Rahman, dan Agus Aprilianto. Mereka menyampaikan berbagai gagasan yang muncul, mengaitkannya dengan pengalaman masing-masing.

    Sebagai tindak lanjut dari kelas ini, pertemuan berikutnya akan mengulas karya fiksi milik Agus Aprilianto berupa draf novel bergenre horor misteri. Bab 1 hingga 5 dari novel yang masih belum diberi judul tersebut akan dibagikan untuk dibaca sebelum kelas berlangsung.

    Kelas Menulis Kofiku diharapkan terus menjadi ruang apresiasi dan kritik membangun bagi para penulis di Kudus yang ingin berkembang bersama.

    (Red)

  • Kelas Menulis Kofiku Bedah “Atomic Habits”: Kebiasaan Kecil, Perubahan Besar

    Kelas Menulis Kofiku Bedah “Atomic Habits”: Kebiasaan Kecil, Perubahan Besar

    KUDUS — Perpustakaan Daerah Kudus kembali sukses menggelar Kelas Menulis Kofiku. Rabu (14/5/2025), peserta diajak menyelami buku “Atomic Habits” karya James Clear, membahas bagaimana kebiasaan kecil dapat menciptakan perubahan besar dalam hidup.

    Diskusi yang dipandu Arif Rohman dan menghadirkan pembicara Jimat Kalimashada berlangsung interaktif. Arif membuka sesi dengan kisah inspiratif James Clear yang pernah mengalami cedera serius akibat pukulan tongkat bisbol. Cedera tersebut menjadi titik balik bagi Clear untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan positif.

    Jimat Kalimashada menekankan inti buku tersebut: konsistensi dalam membangun kebiasaan kecil.

    Ia mengutip pesan kunci dari buku tersebut, “Satu persen peningkatan setiap hari akan menjadikan kita 37 kali lebih baik dalam setahun, sebaliknya penurunan satu persen justru mendekatkan pada nol.” Jimat menambahkan, buku ini tak hanya berisi teori, tetapi juga langkah praktis, termasuk empat hukum pembentuk kebiasaan: jelas, menarik, mudah, dan memuaskan.

    Sesi tanya jawab menarik perhatian. Muhammad Shidqul Wafa bertanya bagaimana mengatasi rasa malas dalam membentuk kebiasaan.

    Jimat menyarankan agar kebiasaan tersebut dibuat menyenangkan, misalnya dengan memberi hadiah setelah berhasil menjalankannya.

    “Kalau kamu ingin rutin lari, bisa diselingi dengan mendengarkan lagu favorit atau minum kopi kesukaan setelah berlari,” saran Jimat.

    Ahmed Zeyn Fedawani mengungkapkan fenomena santri yang kembali merokok setelah liburan. Jimat menjelaskan pengaruh lingkungan terhadap kebiasaan.

    “Paparan lingkungan bisa memicu kebiasaan lama. Perlu penanaman pemahaman dan mindset baru yang lebih kuat agar kebiasaan buruk tidak kembali,” jelasnya.

    Kelas Menulis Kofiku, program rutin dua pekan sekali setiap Rabu minggu kedua dan keempat, akan melanjutkan sesi berikutnya pada 28 Mei 2025 dengan membedah buku “Someday is Today” karya Matthew Dicks. Kelas ini menjadi wadah belajar dan refleksi literasi yang bermanfaat bagi peserta.

    (red)